Data survei menyoroti pentingnya edukasi kesehatan masyarakat yang lebih baik tentang risiko dan dampak cacar api, khususnya bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas yang hidup dengan penyakit kronis.
Ini penting karena 42 persen orang yang pernah mengalami penyakit ini mengalami nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 33 persen menyebut penyakit ini mengganggu aktivitas dan produktivitas harian.
Cacar api dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa dalam hidup mereka. Menurut penelitian global, studi klinis menunjukkan bahwa beberapa penyakit kronis meningkatkan risiko terkena cacar api, seperti penyakit jantung (penyakit kardiovaskular) sebesar 34 persen, penyakit ginjal (PGK) 29 persen, diabetes (38 persen), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau asma hingga 41 persen.
Di Indonesia, beberapa penyakit komorbid dan faktor tertentu meningkatkan risiko cacar api. Risiko tertinggi ditemukan pada orang dengan HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali).
Risiko juga meningkat pada pasien PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali).
Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut, riwayat cacar api sebelumnya, stres serta jenis kelamin perempuan juga berperan dalam meningkatkan risiko mengalaim cacar api.
“Berdasarkan berbagai artikel penelitian, risiko terkena herpes zoster memang lebih tinggi pada kelompok tertentu yaitu kondisi immunokompromi, seperti penderita HIV/AIDS, pasien dengan penyakit keganasan, serta mereka yang berusia lanjut, riwayat keluarga dengan herpes zoster dan jenis kelamin perempuan,” ujar dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E., Subsp.Ven.