Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Vaksin Cacar Api Bisa Perlambat Penuaan Biologis Orang Lanjut Usia

Vaksinasi pada lansia.
ilustrasi vaksinasi pada lansia (freepik.com/Lifestylememory)
Intinya sih...
  • Lansia yang menerima vaksin cacar api menunjukkan tanda penuaan biologis yang lebih lambat.
  • Efeknya terlihat pada peradangan, regulasi gen, dan sistem imun, bukan sekadar perlindungan infeksi.
  • Dampak positif vaksin bahkan bertahan hingga bertahun-tahun setelah penyuntikan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penuaan sering kali diukur dengan kalender. Namun, tubuh punya caranya sendiri untuk menua lewat kondisi organ, sistem imun, dan cara sel-sel bekerja. Di titik inilah konsep penuaan biologis menjadi penting, karena dua orang dengan usia yang sama bisa memiliki kondisi tubuh yang sangat berbeda.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmuwan mulai bergeser: vaksin dewasa ternyata tidak hanya bekerja sebagai tameng terhadap infeksi. Ada indikasi kuat bahwa vaksin tertentu dapat memengaruhi proses biologis yang lebih dalam, termasuk risiko penyakit neurodegeneratif dan penurunan fungsi tubuh seiring usia.

Sebuah studi terbaru dari USC Leonard Davis School of Gerontology, yang dipublikasikan dalam The Journals of Gerontology: Series A, menambah lapisan baru dalam pemahaman ini. Para peneliti menemukan bahwa vaksin herpes zoster (cacar api) tidak hanya melindungi dari penyakit yang menyakitkan, tetapi juga dikaitkan dengan perlambatan penuaan biologis pada orang dewasa lanjut usia.

Lansia yang pernah menerima vaksin cacar api menunjukkan skor penuaan biologis yang lebih rendah

Berbeda dengan usia kronologis, penuaan biologis menggambarkan seberapa baik tubuh berfungsi dari waktu ke waktu. Seseorang berusia 70 tahun bisa memiliki profil biologis menyerupai usia yang lebih muda, atau sebaliknya, menunjukkan tanda penuaan lebih cepat.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data lebih dari 3.800 partisipan berusia 70 tahun ke atas, menggunakan data dari Health and Retirement Study yang representatif secara nasional. Mereka mengukur tujuh aspek penuaan biologis, mulai dari peradangan, imunitas bawaan dan adaptif, aliran darah kardiovaskular, hingga perubahan genetik dan epigenetik yang memengaruhi cara sel bekerja.

Hasilnya cukup konsisten, bahwa lansia yang pernah menerima vaksin herpes zoster menunjukkan skor penuaan biologis yang lebih rendah dibanding mereka yang tidak divaksinasi, bahkan setelah memperhitungkan faktor kesehatan dan sosial lainnya.

Efek vaksin lebih dari pencegahan penyakit

Vaksinasi pada lansia.
ilustrasi vaksinasi lansia (pexels.com/Kampus Production)

Herpes zoster terjadi ketika virus cacar air yang “tertidur” aktif kembali, memicu ruam nyeri dan risiko nyeri saraf jangka panjang. Vaksin selama ini dikenal efektif mencegah kondisi tersebut, terutama pada usia lanjut dan individu dengan sistem imun lemah.

Namun, studi ini menunjukkan sesuatu yang ekstra. Partisipan yang divaksinasi memiliki tingkat peradangan yang lebih rendah, serta proses penuaan epigenetik dan transkriptomik yang lebih lambat. Artinya, cara gen diaktifkan atau dinonaktifkan, dan bagaimana informasi genetik diterjemahkan menjadi protein, tampak lebih “awet muda”.

Peradangan kronis tingkat rendah, atau inflammaging, dikenal sebagai pemicu berbagai penyakit terkait usia, mulai dari penyakit jantung hingga penurunan kognitif. Dengan kemungkinan menekan peradangan ini, salah satunya lewat pencegahan reaktivasi virus, vaksin herpes zoster diduga ikut mendukung proses penuaan yang lebih sehat dan resilien.

Efek jangka panjang dan harapan penuaan sehat

Menariknya, manfaat ini tidak bersifat sementara. Para peneliti menemukan bahwa orang yang menerima vaksin empat tahun atau lebih sebelum pengambilan sampel darah tetap menunjukkan tanda penuaan biologis yang lebih lambat dibanding mereka yang tidak divaksinasi.

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa vaksin dapat memengaruhi sistem biologis jangka panjang, bukan hanya respons imun sesaat. Meski para peneliti menegaskan bahwa studi lanjutan masih diperlukan, terutama dengan desain longitudinal dan eksperimental, tetapi arah temuan ini membuka perspektif baru tentang strategi penuaan sehat.

Referensi

"Study: Shingles Vaccine Linked to Slower Biological Aging in Older Adults." USC Leonard Davis School of Gerontology. Diakses Januari 2026.

Jesse J Waggoner et al., “Antibody-Dependent Enhancement of Severe Disease Is Mediated by Serum Viral Load in Pediatric Dengue Virus Infections,” The Journal of Infectious Diseases 221, no. 11 (November 19, 2019): 1846–54, https://doi.org/10.1093/infdis/jiz618.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Mengapa Pilek Bisa Ringan maupun Berat? Jawabannya Ada di Hidung

22 Jan 2026, 10:57 WIBHealth