Literatur ilmiah menggambarkan fenomena yang mirip pada perempuan yang kadang disebut sebagai blue vulva atau vasokongesti panggul.
Mekanismenya diduga berkaitan dengan peningkatan aliran darah ke organ reproduksi selama gairah seksual yang tidak diikuti orgasme.
Meski istilah dan lokasinya berbeda, tetapi prinsip fisiologinya mirip.
Blue balls adalah istilah populer untuk nyeri atau ketidaknyamanan pada testis setelah gairah seksual meningkat namun tidak diikuti orgasme atau ejakulasi. Kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan perubahan aliran darah dan tekanan sementara di area genital selama respons seksual.
Walaupun gejalanya mengganggu, tetapi blue balls umumnya tidak berbahaya serta tidak diketahui menyebabkan kerusakan testis atau gangguan kesuburan.
Namun, jangan menganggap semua nyeri testis sebagai blue balls. Jika nyeri muncul mendadak, sangat hebat, disertai bengkak, demam, atau tak kunjung membaik, pemeriksaan medis perlu dilakukan untuk menyingkirkan kondisi yang lebih serius.
Referensi
Jonathan M. Chalett and Lewis T. Nerenberg, “‘Blue Balls’: A Diagnostic Consideration in Testiculoscrotal Pain in Young Adults: A Case Report and Discussion,” PEDIATRICS 106, no. 4 (October 1, 2000): 843, https://doi.org/10.1542/peds.106.4.843.
“Sexual Arousal--its Physiological Roles in Human Reproduction,” PubMed, 2005, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16913291/.
Komisaruk, Barry R., Carlos Beyer-Flores, and Beverly Whipple. "The Science of Orgasm." Baltimore: Johns Hopkins University Press, 2006. https://jhupbooks.press.jhu.edu/title/science-orgasm
American Urological Association. "Testicular Health Information." Diakses Juni 2026.
Mayo Clinic. "Testicular Torsion Symptoms and Causes." Diakses Juni 2026.
James Velasquez, Michael P. Boniface, and Michael Mohseni, “Acute Scrotum Pain,” StatPearls - NCBI Bookshelf, May 8, 2023, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470335/.
Lehmiller, Justin J. "The Psychology of Human Sexuality." 3rd ed. Hoboken, NJ: Wiley-Blackwell, 2024.