Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Uji Klinis Terapi Ebola Dimulai di Republik Demokratik Kongo
ilustrasi uji klinis terapi untuk penyakit Ebola (IDN Times/NRF)
  • WHO mulai mendaftarkan pasien dalam uji klinis PARTNERS untuk mencari terapi efektif pertama bagi penyakit virus Bundibugyo.

  • Uji ini menilai dua kandidat terapi, yaitu antibodi monoklonal MBP134 dan antivirus remdesivir, baik sendiri maupun dikombinasikan.

  • Saat ini belum ada terapi yang disetujui khusus untuk penyakit virus Bundibugyo, sehingga riset saat wabah berlangsung penting untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah wabah penyakit virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), ada harapan baru lewat klinis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pendaftaran pasien untuk uji klinis PARTNERS telah dibuka pada 2 Juli 2026.

Uji klinis ini menjadi bagian dari upaya internasional untuk mengevaluasi calon terapi bagi penyakit Ebola Bundibugyo.

Penyakit virus Bundibugyo termasuk kelompok penyakit Ebola. Tantangannya, meski terapi efektif telah dikembangkan untuk penyakit Ebola, tetapi belum ada terapi yang saat ini disetujui khusus untuk jenis virus Bundibugyo. Belum ada pula pengobatan yang terbukti bekerja untuk semua jenis virus penyebab penyakit Ebola.

Kebutuhan ini mendesak karena dampak wabahnya tidak kecil. Sejak awal wabah di RD Kongo, lebih dari 1.400 orang didiagnosis dengan penyakit virus Bundibugyo, hampir 210 orang pulih, dan hampir 440 orang meninggal. Dilaporkan 1.406 kasus terkonfirmasi dan 438 kematian di RD Kongo, serta tambahan kasus di Uganda.

Dua terapi akan diuji: antibodi monoklonal dan remdesivir

ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Novaya Siantita)

Uji klinis PARTNERS (Platform Adaptive Randomised Trial for New and Repurposed Filovirus TreatmentS) disponsori oleh WHO dan dikoordinasikan oleh Institut National de Recherche Biomédicale di RD Kongo, Institute of Tropical Medicine di Belgia, serta Universitas Oxford di Inggris, dengan dukungan mitra riset, klinis, kemanusiaan, dan CDC Afrika.

Dua terapi yang diuji adalah MBP134, yaitu antibodi monoklonal, dan remdesivir, obat antivirus yang lebih dikenal dalam penanganan pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

Uji klinis ini akan menilai apakah masing-masing terapi dapat meningkatkan peluang hidup pasien dengan penyakit virus Bundibugyo, serta apakah kombinasi keduanya memberi manfaat tambahan.

Pasien dari usia berapa pun dengan diagnosis penyakit virus Bundibugyo yang terkonfirmasi dapat ikut dalam uji acak terkontrol ini. Semua pasien tetap akan mendapat perawatan suportif dini sesuai pedoman WHO, termasuk cairan oral atau intravena, penggantian elektrolit, dukungan oksigen, pengelolaan tekanan darah, dan kontrol nyeri. Peserta juga akan dipantau setidaknya 28 hari setelah pendaftaran.

Desainnya dibuat sebagai platform trial. Artinya, terapi baru dapat ditambahkan ke dalam penelitian jika sudah tersedia dan dinilai layak oleh WHO Technical Advisory Group. Model seperti ini penting dalam wabah, karena riset tidak harus menunggu krisis selesai untuk mulai mencari solusi.

Pentingnya riset saat wabah

WHO menyebut kandidat terapi dalam uji ini dipilih setelah tinjauan menyeluruh terhadap bukti ilmiah, termasuk penelitian praklinis, data keamanan, dan pengalaman dari respons wabah sebelumnya.

Pendekatan ini juga memberi makna praktis bagi pasien. Dengan mengintegrasikan uji klinis ke dalam layanan perawatan, pasien mendapat akses ke terapi investigasi yang menjanjikan, sementara peneliti mengumpulkan bukti yang dibutuhkan untuk memperbaiki penanganan saat ini dan wabah berikutnya.

WHO menyatakan data penelitian akan ditinjau secara berkala oleh dewan pemantau data dan keamanan independen.

Uji klinis ini tidak berarti obatnya sudah terbukti berhasil. Tujuan penelitian justru untuk mengetahui apakah MBP134, remdesivir, atau kombinasi keduanya aman dan efektif untuk meningkatkan outcome pasien.

Menurut WHO, uji klinis ini bisa makan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin berlanjut hingga tahun berikutnya, tergantung jumlah pasien dan seberapa kuat efek terapi yang terlihat.

Dimulainya uji klinis ini memberi harapan baru bagi penanganan penyakit virus Bundibugyo. Untuk pertama kalinya, kandidat terapi seperti MBP134 dan remdesivir diuji secara terstruktur pada pasien saat wabah berlangsung.

Hasilnya belum bisa disimpulkan sekarang, tetapi penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk menemukan terapi yang lebih efektif baik untuk wabah saat ini maupun untuk menghadapi wabah lainnya di masa depan.

Referensi

World Health Organization. “Patient Enrolment Begins in a Scientific Trial to Identify the First Effective Treatments for Bundibugyo Virus Disease.” Diakses Juli 2026.

“Clinical Trial for Ebola Therapies Begins in DR Congo.” CIDRAP. Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article