Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dokter: Overthinking Pengaruhi Pencernaan, Termasuk GERD

Dokter: Overthinking Pengaruhi Pencernaan, Termasuk GERD
ilustrasi gejala asam lambung GERD (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
  • Stres, kecemasan, dan overthinking dapat memperburuk gejala GERD karena memengaruhi sistem saraf serta hormon yang berhubungan dengan fungsi saluran cerna.

  • Perubahan gaya hidup seperti pola makan tidak teratur, kurang tidur, dan konsumsi kopi berlebihan turut memicu kambuhnya GERD pada individu yang sering overthinking.

  • Penanganan GERD perlu mencakup pengelolaan stres, pemilihan makanan ramah lambung, serta aktivitas relaksasi seperti berjalan santai dan latihan pernapasan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kondisi emosional seperti stres, cemas dan kebiasaan overthinking dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna, termasuk memperburuk gejala gastroesophageal reflux disease (GERD).

Secara medis, overthinking tidak secara langsung menyebabkan GERD. Namun, stres dan kecemasan yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon tubuh yang berhubungan erat dengan fungsi saluran cerna.

"Banyak pasien datang dengan keluhan GERD yang sering kambuh saat sedang mengalami tekanan pekerjaan atau masalah pribadi. Karena itu, penanganan GERD tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres yang baik," ujar dr. Fachrial Imam, Sp.PD dalam keterangan tertulis.

Table of Content

Stres dan cemas berlebihan bisa memicu GERD

Stres dan cemas berlebihan bisa memicu GERD

Pada orang yang mengalami stres atau kecemasan berlebih, tubuhnya akan menghasilkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Peningkatan hormon ini dapat memengaruhi produksi asam lambung, memperlambat proses pencernaan serta meningkatkan sensitivitas saluran cerna terhadap rasa nyeri dan ketidaknyamanan.

Akibatnya, orang yang hidup dengan GERD dapat merasakan gejala yang lebih berat saat sedang banyak pikiran atau mengalami tekanan emosional. Bahkan pada sebagian orang, gejala seperti dada terasa panas, sesak, atau tidak nyaman di tenggorokan dapat muncul lebih sering ketika tingkat stres meningkat.

Tidak jarang pula terbentuk sebuah siklus yang berulang. Gejala GERD menimbulkan rasa tidak nyaman dan kekhawatiran yang memicu stres dan pada akhirnya memperparah gejala GERD itu sendiri.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Ilustrasi seorang wanita memegang perut dan menutup mulut dengan tangan, tampak mual dan hampir muntah di latar berwarna ungu.
ilustrasi mual dan muntah (IDN Times/Novaya Siantita)

Beberapa gejala yang umum dialami pasien GERD, antara lain:

  • Sensasi terbakar pada dada atau ulu hati.
  • Rasa asam atau pahit yang naik ke tenggorokan.
  • Sering bersendawa.
  • Perut terasa penuh atau kembung.
  • Mual setelah makan.
  • Batuk kronis terutama pada malam hari.
  • Suara serak atau tenggorokan terasa mengganjal.
  • Gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman pada dada dan tenggorokan.

Selain itu, seseorang yang sedang overthinking cenderung mengalami perubahan pola hidup, seperti makan tidak teratur, kurang tidur, konsumsi kopi berlebihan atau memilih makanan yang kurang sehat. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menjadi faktor pemicu kambuhnya GERD.

Makanan yang ramah untuk pasien GERD

Selain pengobatan sesuai anjuran dokter, pengaturan pola makan merupakan salah satu langkah penting dalam mengendalikan gejala GERD.

Beberapa pilihan makanan yang umumnya lebih nyaman dikonsumsi, antara lain:

  • Karbohidrat kompleks

Karbohidrat kompleks cenderung lebih mudah dicerna dan membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Misalnya oatmeal, nasi merah, roti gandum, kentang rebus dan ubi kukus.

  • Protein rendah lemak

Protein rendah lemak membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa memicu produksi asam lambung berlebihan. Contohnya seperti dada ayam tanpa kulit, ikan laut, tahu, tempe serta putih telur.

  • Sayuran yang tidak asam

Sebagian besar sayuran mengandung serat yang baik untuk pencernaan. Misalnya brokoli, wortel, buncis, bayam, labu dan timun.

  • Buah yang tidak terlalu asam

Buah tetap penting dikonsumsi, tetapi pilih yang tidak memicu refluks seperti pisang, melon, pepaya, semangka, dan pir.

Pada sebagian orang dengan GERD, beberapa jenis makanan dan minuman dapat memicu kekambuhan gejala, seperti makanan pedas, makanan tinggi lemak dan gorengan, makanan cepat saji, cokelat, kopi dan minuman berkafein, minuman bersoda, minuman beralkohol, buah yang sangat asam seperti jeruk dan lemon serta makanan dengan saus tomat berlebihan.

Perlu diingat bahwa pemicu setiap individu dapat berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mengenali makanan apa saja yang memicu gejala pada masing-masing orang.

Aktivitas untuk mengurangi gejala GERD

Seorang perempuan berambut panjang sedang menulis di buku jurnal hitam sambil duduk santai di ruangan terang dengan suasana tenang.
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kesehatan mental dan kesehatan pencernaan saling berkaitan, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam pengendalian GERD. Kamu bisa mencoba beberapa contoh aktivitas ini:

  • Berjalan santai.
  • Latihan pernapasan.
  • Olahraga intensitas ringan hingga sedang.
  • Menulis jurnal.
  • Menjaga kualitas tidur.
  • Membatasi paparan media sosial berlebihan.

Segera temuidokter apabila mengalami gejala GERD yang terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu, kesulitan menelan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, muntah berulang dan nyeri dada yang berat.

Penyakit ini bukan hanya masalah lambung semata. Kondisi psikologis seperti stres dan overthinking juga dapat berperan dalam memperburuk gejalanya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan pencernaan perlu dilakukan secara menyeluruh, baik melalui pola makan yang tepat, gaya hidup sehat, maupun pengelolaan stres yang baik.

Dengan memahami hubungan antara pikiran dan kesehatan tubuh, masyarakat diharapkan dapat lebih sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan mental demi kualitas hidup yang lebih baik.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More