Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pasien Kerap Datang Terlambat, Skrining Kanker Kolorektal Diperkuat

Pasien Kerap Datang Terlambat, Skrining Kanker Kolorektal Diperkuat
Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) menyelenggarakan The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 (IDN Times/Misrohatun)
Intinya Sih
  • Kanker kolorektal menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan lebih dari 19 ribu jiwa melayang tiap tahun akibat keterlambatan deteksi dini.

  • PB PGI dan Kemenkes memperkuat skrining kanker kolorektal melalui program FIT serta pengampuan layanan rujukan, demi menemukan kasus lebih awal dan menekan biaya pengobatan.

  • Ahli menegaskan kanker kolorektal dapat dicegah lewat gaya hidup sehat seperti mengurangi konsumsi daging, memperbanyak sayur, menjaga hidrasi, dan rutin beraktivitas fisik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Kanker kolorektal adalah salah satu tantangan paling mendesak. Secara global tercatat lebih dari 1,9 juta kasus baru kanker kolorektal setiap tahun, menjadikannya kanker paling umum ketiga di dunia. Di Indonesia, penyakit ini menempati peringkat keempat dalam kasus baru dan kelima dalam kematian terkait kanker, merenggut lebih dari 19 ribu nyawa setiap tahunnya, terutama akibat keterlambatan deteksi.

Bercermin dari hal tersebut, Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI)/Indonesian Society of Gastroenterology (ISG) menyelenggarakan The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 dengan tema "Colorectal Cancer Screening and Management: Bridging Gaps for Early Detection and Better Outcomes" dan merekomendasikan skrining kanker kolorektal di Indonesia.

Table of Content

Angka kematian karena kanker kolorektal bisa ditekan

Angka kematian karena kanker kolorektal bisa ditekan

Ketua Pengurus Besar PGI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, FACP, FACG mengatakan sebuah fakta pahit bahwa dalam hal skrining kanker kolorektal, Indonesia sudah tertinggal.

"Kalau lihat data, kita terus terang sudah sangat-sangat terlambat. Taiwan sudah memulai skrining pada 2004, sementara Jepang lebih lama lagi, di tahun 2000. Proyek pilot sudah dimulai di beberapa puskesmas untuk melakukan skrining kanker kolorektal," ujarnya di Jakarta, pada Sabtu (30/05/2026).

Di Jepang, deteksi yang dilakukan di usia 40 tahun saja, 50 persennya ditemukan kasus polip dan 1 persen kanker. Jika ditemukan sejak awal, perjalanan penyakitnya bisa dipotong hingga tidak mencapai tahapan kanker, kata Prof. Ari.

Sementara di Taiwan, skrining kanker kolorektal berhasil menekan angka kematian karena penyakit ganas tersebut sekitar 30 persen. Artinya secara kualitas hidup masyarakat meningkat, dengan jumlah kasus yang ditemukan lebih cepat dan jumlah kematian ditekan melalui skrining.

Kemenkes perkuat skrining kanker

Seorang perempuan berhijab pink duduk di depan meja dengan mikrofon dan cangkir, berbicara dalam konferensi pers di Jakarta.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid (IDN Times/Misrohatun)

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid mengatakan bahwa estimasi kanker kolorektal mencapai 36 ribu dengan angka kematian 19 ribu.

“Angka kematiannya masih sangat tinggi, banyak pasien ditemukan pada stadium lanjut. Kalau kita bicara jumlah kasus, tadi dari cuma registri data dari PGI 3 ribu, berarti baru 10 persen, masih banyak yang harus kita temukan. Either dia di stadium lanjut atau di stadium dini,” jelasnya.

Menurutnya dr. Nadia, kasus baru seharusnya ditemukan sedini mungkin agar pengobatannya tidak berat—hanya butuh operasi, tidak perlu kemoterapi hingga radiasi.

Dukungan obat-obatan juga berkurang, yang otomatis berpengaruh pada biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berbeda jika ditemukan pada stadium lanjut, ada beberapa terapi obat-obatan yang tidak ditanggung JKN.

“Kalau keparahannya itu rendah (stadium awal) belum kemana-mana, belum nyebar ke mana-mana, pasti biaya akan murah. Makanya pemerintah kemudian komitmen bahwa KJSU itu menjadi prioritas kita, kanker adalah salah satu penyakit yang kita dorong untuk prioritas,” lanjut dr. Nadia.

Di layanan rujukan, Kemenkes memperkuat pengampuan kanker, termasuk kanker kolorektal dengan menghadirkan teknologi end-to-end. Skrining tahun lalu dengan Fecal Immunochemical Test (FIT) ditemukan sebanyak 2.100 yang positif, bertambah menjadi 2.300 hingga Februari 2026. Dia berharap penemuan kasus bisa dilakukan lebih dini lagi.

Penyakit yang bisa dicegah

Umumnya pasien di Indonesia datang dengan kondisi yang sudah terlambat, dengan tanda-tanda buang air besar berdarah, berat badan turun, diare kronis. Biasanya dokter menemukan massa atau tumor di usus.

"Pola kanker di Indonesia ini sporadik. Artinya, apa sporadik? Faktor genetik itu nggak terlalu tinggi. Jadi problem ada di kita. Problem mungkin karena infeksi berulang, makanan, segala macam. Jadi kanker ini sebenarnya bisa dicegah," kata Prof. Ari.

Lebih dalam Prof. Ari mengatakan bahwa faktor genetik di kanker usus besar memang ada, tapi sudah tidak lagi menjadi dominan. Ini merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan gaya hidup sehat, mengurangi makan daging, perbanyak sayur, mencukupi kebutuhan minum, serta aktif bergerak.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More