Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Vaksin HPV Sebelum Hamil, Risiko Kelahiran Prematur Lebih Rendah

5 min read
Vaksin HPV Sebelum Hamil, Risiko Kelahiran Prematur Lebih Rendah
ilustrasi vaksinasi pada orang dewasa (IDN Times/NRF)
  • Studi di Swedia terhadap lebih dari 624 ribu kelahiran menemukan kaitan antara vaksin HPV sebelum hamil dan odds yang lebih rendah untuk beberapa komplikasi, termasuk kelahiran prematur.

  • Angka penurunan yang dilaporkan bersifat relatif. Studi ini tidak membuktikan vaksin menyebabkan penurunan risiko tersebut.

  • Penelitian ini menilai vaksinasi sebelum kehamilan. Vaksin HPV tetap tidak direkomendasikan selama kehamilan; jika dosis terlanjur diberikan, dosis selanjutnya ditunda hingga kehamilan selesai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut prematur. Sebagian bayi prematur butuh perawatan intensif karena organ tubuhnya belum berkembang sepenuhnya. Sebuah studi besar di Swedia meneliti apakah vaksinasi HPV sebelum kehamilan berkaitan dengan kemungkinan lebih rendah mengalami persalinan prematur dan komplikasi lainnya.

Studi yang terbit dalam jurnal The BMJ pada 7 Oktober 2026 menemukan bahwa perempuan yang menerima vaksin HPV sebelum hamil memiliki odds (perbandingan peluang) lebih rendah untuk beberapa komplikasi kehamilan. Namun, karena penelitian ini mengamati catatan kesehatan, hasilnya menunjukkan kaitan, bukan bukti bahwa vaksinasi menyebabkan penurunan risiko.

  1. 1. Penelitian mengikuti lebih dari 624 ribu kelahiran

    Peneliti menggunakan data registri nasional Swedia untuk menelaah 624.713 kelahiran tunggal pada perempuan berusia 16–35 tahun yang belum pernah melahirkan, selama 2006–2023. Sebanyak 92.620 perempuan atau 14,8 persen dari kelompok tersebut telah menerima vaksin HPV kuadrivalen sebelum hamil.

    Vaksin kuadrivalen melindungi dari empat tipe HPV. Penelitian ini membandingkan hasil kehamilan pada perempuan yang sudah menerima vaksin dengan mereka yang belum divaksinasi.

    Peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor, seperti usia ibu, tahun konsepsi, kebiasaan merokok, indeks massa tubuh, kondisi kesehatan, penggunaan teknologi reproduksi berbantu, pendidikan, dan pendapatan rumah tangga.

  2. 2. Perbandingan peluang kelahiran prematur tercatat lebih rendah

    Setelah memperhitungkan berbagai faktor tersebut, odds melahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu pada kelompok yang telah divaksinasi tercatat 5 persen lebih rendah.

    Untuk kelahiran sangat prematur (pada usia kehamilan 28 hingga 31 minggu) odds-nya 15 persen lebih rendah.

    Peneliti juga mencatat odds lebih rendah untuk persalinan prematur spontan dan bayi yang sangat kecil dibandingkan usia kehamilannya.

    Angka-angka ini merupakan perbandingan odds relatif, bukan berarti ada 5 dari setiap 100 kelahiran prematur yang pasti dapat dicegah dengan vaksin. Studi ini tidak menyatakan bahwa vaksinasi menjamin kehamilan berlangsung hingga cukup bulan.

    Perempuan yang menerima vaksin sebelum usia 17 tahun menunjukkan kaitan yang lebih kuat. Pada kelompok ini, odds kelahiran prematur tercatat 10 persen lebih rendah dibanding kelompok yang tidak divaksinasi. Akan tetapi, hasil itu pun tidak membuktikan bahwa vaksin menjadi penyebabnya.

    Tidak semua hasil menunjukkan kaitan yang bermakna secara statistik. Peneliti, misalnya, tidak menemukan hubungan yang jelas dengan kematian neonatal maupun lahir mati. Jadi, temuan ini lebih tepat dibaca sebagai kaitan dengan beberapa hasil kehamilan tertentu.

  3. 3. Hasilnya sejalan dengan sebagian penelitian sebelumnya

    Ilustrasi tenaga kesehatan memberikan vaksin HPV kepada seorang perempuan dalam kegiatan vaksinasi.
    ilustrasi pemberian vaksin HPV (IDN Times/Arief Rahmat)

    Studi Denmark terhadap 243.136 kelahiran tunggal menemukan bahwa vaksinasi HPV tidak berkaitan secara bermakna dengan risiko persalinan prematur spontan jika seluruh peserta dianalisis bersama. Namun, seperti studi Swedia terbaru, penelitian itu menemukan odds lebih rendah pada perempuan yang menerima vaksin sebelum usia 17 tahun.

    Kesamaan temuan pada kelompok yang divaksinasi lebih muda menambah alasan untuk meneliti hubungan ini. Namun, hasil keseluruhan dari studi-studi terdahulu belum sepenuhnya seragam, sehingga kaitan tersebut belum bisa dianggap sebagai kesimpulan final.

  4. 4. Cara vaksin mungkin berkaitan dengan hasil kehamilan belum dipastikan

    Ada beberapa kemungkinan yang sedang diteliti. Infeksi HPV dan penanganan lesi prakanker di leher rahim pernah dikaitkan dengan komplikasi kehamilan. Karena vaksin membantu mencegah infeksi HPV tertentu, peneliti menduga vaksinasi sebelum seseorang terpapar virus mungkin berkaitan dengan risiko yang lebih rendah.

    Namun, studi Swedia tidak mengukur secara langsung infeksi HPV setelah vaksinasi ataupun prosedur yang mungkin dijalani peserta untuk menangani lesi prakanker. Saat peneliti memasukkan diagnosis lesi serviks tingkat tinggi ke analisis sebagai perkiraan, sebagian kaitan dengan hasil prematur melemah.

    Penulis menyebut analisis ini masih bersifat eksploratif.

  5. 5. Studi ini bukan alasan untuk mendapat vaksin HPV saat hamil

    Catatan penting: penelitian Swedia mengamati perempuan yang sudah divaksinasi sebelum hamil. Studi itu tidak menguji vaksin HPV sebagai cara mencegah persalinan prematur selama kehamilan.

    Vaksin HPV tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada ibu hamil. Jika seseorang baru mengetahui dirinya hamil setelah menerima dosis vaksin, dosis berikutnya ditunda sampai kehamilan selesai.

    Tinjauan sistematis yang terbit pada 2024, mencakup 11 studi, tidak menemukan peningkatan risiko pada sebagian besar hasil kehamilan yang diteliti setelah vaksinasi di sekitar waktu konsepsi atau selama kehamilan. Namun, penulis menyatakan bahwa kemungkinan kaitan dengan keguguran pada beberapa kelompok waktu dan formulasi vaksin belum sepenuhnya dapat disingkirkan.

    Hasil studi Swedia menambah bukti tentang kemungkinan manfaat vaksin HPV sebelum kehamilan, tetapi belum menetapkan bahwa vaksinasi mencegah komplikasi persalinan. Tujuan utama vaksin HPV tetap mencegah infeksi HPV dan kanker terkait. Studi ini juga tidak mencakup keguguran sebelum usia kehamilan 22 minggu, dan hasilnya belum tentu berlaku sama untuk semua populasi atau formulasi vaksin.

    Referensi

    Zhongsong Zhang et al., “Quadrivalent Human Papillomavirus Vaccination before Pregnancy and Pregnancy Outcomes: Nationwide, Population Based Case-Control Study,” BMJ 395 (2026): e100739, diterbitkan 7 Oktober 2026, https://doi.org/10.1136/bmj-2026-100739.

    Elisabeth McClymont et al., “Spontaneous Preterm Birth Risk among HPV-Vaccinated and -Unvaccinated Women: A Nationwide Retrospective Cohort Study of over 240,000 Singleton Births,” BJOG 130, no. 4 (March 2023): 358–65, https://doi.org/10.1111/1471-0528.17349.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Guidelines for Vaccinating Pregnant Women,” diakses 16 Oktober 2026.

    Jiawei Zhang et al., “Does HPV Vaccination during Periconceptional or Gestational Period Increase the Risk of Adverse Pregnancy Outcomes? An Updated Systematic Review and Meta-Analysis Based on Timing of Vaccination,” Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica 103, no. 10 (October 2024): 1943–54, https://doi.org/10.1111/aogs.14881.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More