Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mau Vaksin HPV? Pahami Beda Vaksin 4 dan 9 Strain

Mau Vaksin HPV? Pahami Beda Vaksin 4 dan 9 Strain
Boks kemasan vaksin HPV Gardasil 9. (commons.wikimedia.org/Aveaoz)
Intinya Sih
  • Vaksin HPV 4-valen melindungi dari tipe 6, 11, 16, dan 18, sedangkan 9-valen menambah lima tipe berisiko tinggi penyebab kanker serviks.

  • Uji klinis menunjukkan 9-valen setara melawan empat tipe utama dan efektif 96,7 persen mencegah lesi terkait 5 tipe tambahan; namun 4-valen tetap efektif jangka panjang.

  • Kedua vaksin berprofil keamanan serupa; vaksin paling optimal sebelum paparan HPV, seri dosis perlu diselesaikan, dan skrining kanker serviks tetap diperlukan setelah vaksinasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat mau mendapatkan vaksin human papillomavirus (HPV), ada pilihan 4 strain dan 9 strain.

Vaksin HPV 4-valen dan 9-valen sama-sama memberikan perlindungan terhadap 4 tipe penting, yaitu HPV 6, 11, 16, dan 18.

HPV 16 dan 18 merupakan dua tipe berisiko tinggi yang secara global menyebabkan sekitar 70 persen kanker serviks, sedangkan HPV 6 dan 11 merupakan penyebab utama kutil kelamin.

Perbedaannya, vaksin 9-valen menambahkan perlindungan terhadap 5 tipe HPV berisiko tinggi lainnya, yaitu 31, 33, 45, 52, dan 58. Tujuh tipe HPV penyebab kanker yang tercakup dalam vaksin 9-valen diperkirakan berkaitan dengan sekitar 90 persen kasus kanker serviks.

Jadi, apakah vaksin 9-valen lebih baik?

Jika yang dimaksud lebih baik adalah cakupan terhadap lebih banyak tipe HPV penyebab kanker, jawabannya adalah ya.

Bukti terkuat datang dari uji klinis fase III terhadap lebih dari 14.000 perempuan usia 16–26 tahun. Vaksin 9-valen menghasilkan respons antibodi terhadap HPV 6, 11, 16, dan 18 yang tidak lebih rendah dibanding vaksin 4-valen. Namun, vaksin 9-valen juga melindungi dari 5 tipe tambahan yang tidak secara langsung ditargetkan oleh vaksin 4-valen.

Pada peserta yang sebelumnya belum terinfeksi tipe HPV tersebut, efektivitas vaksin 9-valen dalam mencegah lesi serviks, vulva, atau vagina derajat tinggi yang berkaitan dengan HPV 31, 33, 45, 52, dan 58 mencapai 96,7 persen dibanding vaksin 4-valen.

Itu artinya, keuntungan utama vaksin 9-valen adalah karena payung perlindungannya lebih lebar.

Vaksin 4-valen tetap terbukti melindungi secara efektif

Vaksin 4-valen memiliki bukti efektivitas jangka panjang yang sangat baik.

Sebuah studi tindak lanjut terhadap perempuan dari Denmark, Islandia, Norwegia, dan Swedia menemukan tidak ada kasus displasia serviks derajat tinggi akibat HPV 16/18 pada kelompok yang mengikuti protokol penelitian selama masa pengamatan. Perlindungannya terbukti bertahan setidaknya 12 tahun, dengan kecenderungan berlanjut hingga 14 tahun tanpa tanda penurunan kekebalan yang berarti.

Vaksin 9-valen juga menunjukkan perlindungan yang bertahan lama. Studi tindak lanjut pada 2024 tidak menemukan kasus displasia serviks derajat tinggi akibat 7 tipe HPV onkogenik dalam vaksin tersebut selama lebih dari 10.000 person-years pengamatan pada kelompok per-protocol (peserta penelitian yang benar‑benar mengikuti protokol studi sesuai rencana). Perlindungan yang signifikan secara statistik bertahan setidaknya 10 tahun.

Jadi, 4-valen tetap merupakan vaksin HPV yang efektif. Sementara itu, vaksin 9-valen menawarkan keuntungan tambahan berupa perlindungan terhadap 5 tipe HPV berisiko tinggi lainnya.

Bagaimana dengan efek sampingnya?

Ilustrasi vaksinasi HPV pada orang dewasa sebagai upaya perlindungan dari infeksi human papillomavirus.
ilustrasi vaksinasi HPV pada orang dewasa (IDN Times/NRF)

Profil keamanan keduanya secara umum serupa.

Dalam penelitian yang membandingkan vaksin 4-valen dan 9-valen pada anak perempuan usia 9–15 tahun, keduanya menghasilkan respons imun yang kuat dan memiliki profil keamanan yang dapat diterima.

Reaksi di lokasi suntikan, khususnya bengkak, sedikit lebih sering ditemukan pada kelompok 9-valen.

Efek yang paling umum setelah vaksin HPV adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan, serta keluhan sementara seperti sakit kepala atau demam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menilai HPV sebagai vaksin dengan profil keamanan yang baik.

Kalau bisa memilih, pilih yang mana?

Panduan sederhananya:

Kondisi

Pertimbangannya

Baru akan memulai vaksin dan kedua pilihan tersedia

Vaksin 9-valen memberikan cakupan HPV paling luas

Hanya tersedia vaksin 4-valen

Tetap memberikan perlindungan kuat terhadap HPV 6, 11, 16, dan 18

Sudah mulai vaksin 4-valen

Seri dapat diselesaikan sesuai rekomendasi vaksinasi yang berlaku

Sudah menyelesaikan seri 4-valen

Tidak otomatis perlu mengulang vaksinasi dengan 9-valen

Para ahli menyebut tidak perlu ada dosis tambahan apabila seseorang sudah menyelesaikan seri vaksin HPV dengan valensi apa pun dengan jadwal dan interval dosis yang sesuai.

Yang lebih penting adalah kapan vaksin diberikan. Vaksin HPV bekerja untuk mencegah infeksi baru, bukan menghilangkan infeksi HPV yang sudah ada. Jadi, manfaat vaksin paling besar jika diberikan sebelum seseorang terpapar tipe HPV yang menjadi target vaksin.

Vaksin tetap tidak menggantikan skrining kanker serviks

Bahkan vaksin 9-valen sekalipun tidak mencakup seluruh tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker. Karena itu, perempuan yang sudah divaksinasi lengkap tetap perlu mengikuti skrining kanker serviks sesuai usia dan rekomendasi yang berlaku.

WHO menempatkan vaksinasi dan skrining sebagai dua komponen yang saling melengkapi dalam pencegahan kanker serviks.

Kesimpulannya, kalau kamu baru akan mendapatkan vaksinasi HPV dan vaksin 4-valen maupun 9-valen tersedia, vaksin 9-valen menawarkan perlindungan yang lebih luas. Namun, vaksin 4-valen tetap efektif dan memiliki bukti perlindungan jangka panjang yang kuat. Yang paling penting adalah mendapatkan vaksin pada waktu yang tepat dan menyelesaikan serinya sesuai rekomendasi.

Referensi

World Health Organization, “Human Papillomavirus Vaccines (HPV),” Immunization, Vaccines and Biologicals, diakses Agustus 2026.

Elmar A. Joura et al., “A 9-Valent HPV Vaccine against Infection and Intraepithelial Neoplasia in Women,” New England Journal of Medicine 372, no. 8 (2015): 711–23, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1405044.

Susanne K. Kjaer et al., “Final Analysis of a 14-Year Long-Term Follow-up Study of the Effectiveness and Immunogenicity of the Quadrivalent Human Papillomavirus Vaccine in Women from Four Nordic Countries,” EClinicalMedicine 23 (2020): 100401, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2020.100401.

Susanne K. Kjaer et al., “Long-Term Effectiveness of the Nine-Valent Human Papillomavirus Vaccine: Interim Results after 12 Years of Follow-up in Scandinavian Women,” Human Vaccines & Immunotherapeutics 20, no. 1 (2024): 2377903, https://doi.org/10.1080/21645515.2024.2377903.

Timo Vesikari et al., “A Randomized, Double-Blind, Phase III Study of the Immunogenicity and Safety of a 9-Valent Human Papillomavirus L1 Virus-Like Particle Vaccine (V503) versus Gardasil in 9–15-Year-Old Girls,” Pediatric Infectious Disease Journal 34, no. 9 (2015): 992–98, https://doi.org/10.1097/INF.0000000000000773.

Centers for Disease Control and Prevention, “Child Immunization Schedule Notes,” Vaccines & Immunizations, diakses Agustus 2026.

World Health Organization, “Screening for Cervical Cancer,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More