Konferensi pers album Maliq & D'essentials "Kabar Gembira" di ASHTA District 8, Jakarta, Kamis (29/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Ketika ditanya mengenai pesan khusus dari Rhoma Irama kepada Maliq & D'Essentials, Angga Puradiredja mengaku tidak mendapat pesan tertentu. Alih-alih membahas musik secara khusus, mereka justru lebih sering berdiskusi mengenai kehidupan dan perjalanan panjang Rhoma Irama sebagai seorang musisi.
"Sama Pak Haji (Rhoma) lebih banyak diskusi kehidupan aja sama sejarah-sejarah perjalanan hidupnya dia yang kita dengarnya semacam menginspirasi, memvalidasi, mengaminkan bahwa kita sampai hari ini udah ada di jalan yang benar," jelas Angga.
Menurut Angga, sosok Rhoma Irama memberikan energi yang jauh lebih besar daripada sekadar kolaborasi di atas panggung. Ia melihat ada nilai-nilai yang bisa dipelajari dari Rhoma sebagai musisi senior sekaligus sosok yang telah melewati perjalanan panjang dalam industri musik.
"Value-value dia (Rhoma Irama) sebagai musisi senior, orang tua kita, bahkan bisa kakek juga ya, itu dia bisa menggambarkan semua tuh beyond dari hanya sekadar main musik aja, gitu," ucap Angga.
Pengalaman tersebut semakin terasa ketika Maliq & D'Essentials harus mempelajari "Penasaran" untuk penampilan di Pestapora 2025. Angga membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk memahami lagu tersebut sebelum festival berlangsung. Dari proses tersebut, Angga justru semakin memahami alasan Rhoma Irama bisa menjadi sosok sebesar sekarang.
"Gua langsung berpikir, 'Kenapa Rhoma adalah Rhoma, ya?' Terbukti karena bahwa Rhoma memang sebesar itu dengan lagunya," ujar Angga.