Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Evil Dead Rise vs. Lee Cronin's The Mummy, Lebih Seram Mana?

Evil Dead Rise vs. Lee Cronin's The Mummy, Lebih Seram Mana?
Evil Dead Rise dan Lee Cronin's The Mummy (dok. Warner Bros./Evil Dead Rise | dok. Blumhouse/Lee Cronin's The Mummy)
Intinya Sih
  • Evil Dead Rise menonjol dengan horor fisik brutal penuh darah dan mutilasi, sementara Lee Cronin’s The Mummy menghadirkan kengerian lebih sunyi lewat kerusakan tubuh yang terasa nyata dan personal.
  • Gaya penceritaan Evil Dead Rise berfokus pada survival intens, sedangkan The Mummy mengusung pendekatan investigatif slow-burn yang menggali misteri hilangnya anak dan ketegangan psikologis mendalam.
  • Keduanya berbeda dalam sumber teror: Evil Dead Rise menyebar lewat infeksi fisik cepat, sementara The Mummy menggunakan manipulasi psikis licik dengan penutupan moral yang memuaskan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nama Lee Cronin kini kian lekat dengan genre horor yang gemar mengulik sisi kelam hubungan keluarga. Setelah sukses memicu adrenalin lewat Evil Dead Rise (2023), banyak yang menanti apakah karyanya yang terbaru, Lee Cronin's The Mummy (2026), mampu memberikan level kengerian yang setara. Menariknya, meski lahir dari tangan sutradara yang sama, kedua film ini membawa pendekatan yang sangat berbeda dalam cara mereka meneror penontonnya.

Bagi kamu yang mencari jawaban mana yang lebih seram, hal itu sebenarnya akan sangat bergantung pada apa yang paling kamu takuti. Daripada sekadar membandingkan kengerian antara Evil Dead Rise vs. Lee Cronin's The Mummy, mari kita bedah bagaimana Lee Cronin berevolusi dalam membangun kengerian lewat poin-poin berikut ini.

1. Antara gempuran splatter brutal dan kengerian kerusakan tubuh

Evil Dead Rise
Evil Dead Rise (dok. Warner Bros./Evil Dead Rise)

Kalau bicara soal visual yang bikin mual, Evil Dead Rise adalah juaranya. Film ini sangat agresif dengan teror fisik yang meledak-ledak. Sepanjang filmnya, layar dipenuhi ribuan liter darah dan berbagai adegan mutilasi ekstrem yang membuat kita secara refleks menutup mata karena tak sanggup melihat kebrutalannya.

Sebaliknya, Lee Cronin's The Mummy bermain di wilayah yang lebih sunyi. Kengeriannya tidak datang dari kejutan instan, melainkan dari proses kerusakan tubuh yang sebenarnya terasa lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Cronin mengeksplorasi kerapuhan tubuh manusia yang membuat penonton merinding, seperti kulit yang mengering dan mengerut akibat lama tak tersentuh sinar matahari, hingga penampakan tubuh yang kurus dengan kebotakan dini akibat kekurangan nutrisi. Hal ini menciptakan rasa ngeri yang lebih personal dan nyata, lho.

2. Adrenalin survival melawan alur investigasi

Lee Cronin's The Mummy
Lee Cronin's The Mummy (dok. Blumhouse/Lee Cronin's The Mummy)

Meski ditemukan beberapa elemen serupa, gaya penceritaan kedua film ini berada di kutub yang berbeda. Evil Dead Rise adalah tipe horor survival murni. Filmnya bergerak cepat, berisik, dan rasanya menyulitkan penonton untuk bernapas.

Kita dipaksa merasakan sesaknya terjebak dalam situasi dilematis, di mana para karakter tidak mungkin meninggalkan ibu mereka sendiri meski dalam keadaan kerasukan iblis yang mengerikan. Namun, di film terbarunya, Lee Cronin's The Mummy, Cronin mencoba formula slow-burn dengan elemen investigative thriller.

Cronin bahkan sempat menyebutkan bahwa atmosfer film ini terinspirasi dari gaya film Se7en (1995). Penonton diajak bersabar untuk mengupas misteri hilangnya seorang anak selama 8 tahun. Kepingan kebenaran yang terungkap justru menjadi pukulan yang lebih menyeramkan daripada sekadar jump scare.

3. Siksaan mutilasi fisik vs. teror psikologis

Lee Cronin's The Mummy
Lee Cronin's The Mummy (dok. Blumhouse/Lee Cronin's The Mummy)

Inilah poin paling kontras yang membedakan kedua karya Cronin ini. Di Evil Dead Rise, istilah "sadis" berarti mutilasi dan teror fisik yang memang dirancang untuk memancing adrenaline rush. Penonton dibuat bergidik dan berteriak karena kekejaman yang ditampilkan sangat intens serta dieksekusi secara frontal tepat di depan mata.

Sementara itu, Lee Cronin's The Mummy memilih jalan kesadisan yang menyerang mental. Teror psikologisnya memuncak pada sosok ayah bernama Charlie (Jack Reynor) yang didera rasa bersalah karena merasa gagal melindungi anaknya. Rasa itu semakin menjadi saat Charlie mengetahui proses mumifikasi mengerikan yang terpaksa dialami anaknya karena dijadikan korban ritual kuno.

Siksaan batin ini begitu hebat hingga Charlie merasa harus membayar rasa bersalahnya sekalipun harus menukarnya dengan nyawa. Ditambah lagi, kita melihat sang ibu, Larissa (Laia Costa), berusaha bertahan dengan mengabaikan perubahan mengerikan pada anaknya demi bisa kembali bersama sang buah hati. Ini bukan tipe horor yang bikin kamu teriak histeris, tapi memberikan sensasi ngeri dan menyesakkan.

4. Infeksi fisik yang agresif vs. manipulasi psikis

Lee Cronin's The Mummy
Lee Cronin's The Mummy (dok. Blumhouse/Lee Cronin's The Mummy)

Perbedaan paling teknis terletak pada bagaimana entitas jahat ini menyebarkan pengaruhnya. Dalam film Cronin sebelumnya, Evil Dead Rise, roh jahat bekerja layaknya wabah yang menular lewat kontak fisik langsung. Sang ibu, Ellie (Alyssa Sutherland), menularkan kutukan tersebut melalui gigitan, cakaran, hingga semburan darah yang mematikan. Prosesnya terjadi sangat cepat. Begitu cairan tubuh monster mengenai korban, mereka akan segera berubah menjadi sosok yang agresif dan haus darah.

Sebaliknya, dalam Lee Cronin's The Mummy, pengaruh rohnya bekerja lebih halus melalui manipulasi supranatural. Entitas kuno ini bisa menghipnotis Sebastian (Shylo Molina) untuk melakukan hal-hal ganjil demi melayani entitas tersebut. Ia juga memberikan bisikan gaib untuk menggerakkan si bungsu Maud (Billie Roy) agar menyerang orang lain dalam keadaan tidak sadar. Prosesnya memang tidak secepat gumpalan darah di Evil Dead Rise, namun taktik sihir mental ini terasa jauh lebih licik karena ia menghancurkan para korban dari dalam pikiran mereka sendiri.

5. Menutup teror lewat katarsis berdarah dan keadilan moral

Evil Dead Rise
Evil Dead Rise (dok. Warner Bros./Evil Dead Rise)

Meski metode menakut-nakutinya bertolak belakang, Lee Cronin selalu tahu cara memberikan kepuasan akhir yang sepadan bagi penontonnya. Evil Dead Rise memberikan katarsis fisik yang luar biasa melegakan ketika karakter utamanya berhasil menghancurkan para Deadites secara brutal menggunakan gergaji dan mesin pencacah kayu.

Di sisi lain, Lee Cronin's The Mummy memberikan kepuasan lewat keadilan moral dan karma yang tertata rapi. Ketimbang sekadar pertarungan fisik yang bising, penonton justru dipuaskan melihat pelaku utama termakan kutukannya sendiri. Sebuah ganjaran yang tuntas dan penutupan yang cerdas.

Pada akhirnya, menentukan mana yang lebih seram di antara Evil Dead Rise dan Lee Cronin's The Mummy kembali pada preferensi "siksaan" yang sanggup kamu tanggung. Apakah kamu lebih takut pada raungan gergaji mesin di tengah hujan darah atau pada keputusasaan seorang ayah yang hancur oleh rasa bersalah?

Yang jelas, Lee Cronin telah mengukuhkan posisinya sebagai sutradara yang paling ahli dalam merusak kedamaian keluarga lewat cara-cara yang tak terduga—baik secara fisik maupun mental. Mumpung Lee Cronin’s The Mummy masih tayang di bioskop, segera rasakan sendiri terornya, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More