Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Film Pulang Kampung Ajak 100-an Warga Lokal Sumut Jadi Extras

4 min read
Film Pulang Kampung Ajak 100-an Warga Lokal Sumut Jadi Extras
potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Film musikal Pulang Kampung melibatkan lebih dari 100 penari dan sekitar 100 warga Sumatra Utara sebagai extras untuk menghidupkan adegan serta suasana lokal.
  • Koreografer Dimas Praditya melatih warga lokal, termasuk yang belum pernah menari, sementara acting coach Batak membantu menyampaikan arahan dengan bahasa setempat.
  • Syuting adegan musikal di air terjun Sumatra Utara terkendala suara deras dan perjalanan tiga jam, namun instruksi diteruskan warga lokal hingga adegan berjalan lancar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tidak hanya menjadi proyek dengan titik lokasi syuting terbanyak dari rumah produksi Imajinari, film musikal Pulang Kampung ternyata juga melibatkan ratusan warga lokal Sumatra Utara dalam proses produksinya.

Mereka tidak hanya direkrut sebagai extras, tetapi sebagian juga ikut menjadi penari untuk menghidupkan berbagai adegan musikal. Menariknya lagi, beberapa di antara mereka bahkan belum pernah menari sebelumnya dan harus belajar koreografi dari nol.

Saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) Bene Dion selaku sutradara sekaligus penulis skenario dan Kristo Immanuel sebagai ko-sutradara antusias membagikan cerita di balik keterlibatan masyarakat setempat. Mulai dari proses pencarian extras, latihan koreografi, hingga tantangan mengarahkan banyak orang di lokasi syuting.

  1. 1. Selain 100 dancer, film Pulang Kampung libatkan 100-an warga lokal Sumatra Utara jadi extras

    Tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada Kamis, 5 November 2026.
    potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Untuk menghidupkan berbagai adegan musikal sekaligus menghadirkan suasana yang sesuai dengan latar cerita, film Pulang Kampung turut melibatkan masyarakat lokal Sumatra Utara. Bahkan, sebagai dari mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap adegan, tetapi juga ikut ambil bagian dalam sejumlah penampilan musikal bersama para dancer, lho.

    Menurut Bene, ada lebih dari 100 dancers yang terlibat dalam film ini. Selain itu, ia juga memperkirakan ada sekitar 100 warga lokal juga direkrut sebagai extras yang dipilih oleh tim casting berdasarkan kebutuhan adegan, mulai dari karakter opung, inang muda, tante-tante, hingga anak-anak.

    “Dancer-nya itu 100 lebih, extras-nya kayaknya ada 100-an juga. Yang pilih tim casting. Kita bilang, ‘Kita butuh sepuluh orang, dua opung-opung, satu inang muda, satu perempuan, tante-tante, dua anak-anak.’ Merekalah yang mencari orang sana yang sesuai dengan permintaan kita,” ungkap sang sutradara.

  2. 2. Koreografer Dimas Praditya terbang langsung ke Sumatra untuk latih warga lokal menari

    Tim produksi film musikal Pulang Kampung berpose saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, 5 November 2026.
    potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Sebagai film musikal, Pulang Kampung juga memiliki tim koreografi yang dipimpin oleh Dimas Praditya. Ia bertugas menyusun gerakan sekaligus mengarahkan para penari selama proses produksi. Menariknya, film ini menjadi pengalaman pertama Dimas sebagai koreografer film. Menurut Kristo Immanuel, sebelumnya, Dimas lebih banyak berkecimpung di dunia teater musikal. Meski begitu, mereka percaya Dimas bisa menangani proyek berskala besar dengan jumlah penari yang mencapai 100 orang.

    Tidak hanya mengarahkan penari di Jakarta, Dimas bahkan sampai terbang langsung ke Sumatra Utara untuk melatih warga lokal yang telah direkrut oleh tim casting, terutama mereka yang memang belum pernah menari sebelumnya.

    “Banyak orang yang terlibat di Sumatra sebenarnya bukan penari profesional. Ada yang bahkan belum pernah menari sebelumnya sehingga harus belajar dari nol. Namun, justru di situlah letak keseruannya, termasuk ketika melihat bapak-bapak di sana ikut belajar menari. Hal yang paling menarik dari proses tersebut adalah bagaimana mereka membangun komunikasi dengan orang-orang lokal,” kata Kristo dengan nada antusias.

    Di sisi lain, Bene juga merasa sangat bersyukur karena mereka juga memiliki acting coach yang berasal dari Batak dan memahami bahasa setempat. Hal tersebut membuatnya merasa sangat terbantu saat menyampaikan instruksi kepada warga.

    “Misalnya kita mau mengarahkan gitu, suruh Bang Paulus. Dia yang akan menghampiri dan ngomong pakai bahasa Batak. Jadi akan dengan cepat membuat mereka ngerti,” ungkap sang sutradara.

  3. 3. Cerita Kristo Immanuel garap adegan musikal di air terjun, suara air kalahkan speaker

    Tim produksi film musikal Pulang Kampung dalam potret bersama di Jakarta Selatan pada Kamis, 5 November 2026.
    potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Selain proses melatih banyak penari dan extras, tim produksi Pulang Kampung juga menghadapi tantangan saat menggarap adegan musikal di lokasi yang tidak biasa, nih. Salah satunya adalah sebuah air terjun di Sumatra Utara. Kristo Immanuel mengungkapkan bahwa perjalanan menuju lokasi tersebut saja membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

    Tantangan pun terasa semakin berat ketika mereka tiba di lokasi. Kristo mengaku sempat mempertanyakan keputusan untuk membuat adegan musikal di air terjun karena derasnya suara air yang harus dihadapi. Kekhawatirannya pun terbukti, suara air terjun ternyata jauh lebih bising dari yang dibayangkan. Kondisi ini pun membuatnya bertanya-tanya bagaimana tim bisa menyampaikan arahan kepada para penari dan extras agar tetap bisa mengikuti koreografi.

    “Itu di air terjun. Perjalanan ke sananya aja tiga jam. Terus di air terjunnya juga bikin adegan musikal. Gue dari dengar pertamanya aja, ‘Ini bikin adegan musikal di tempat ini?’ Lo mau bawa speaker yang bisa melawan suara air terjun? Apakah saya bodoh?’ Gak kedengeran, guide-nya kita sampai di depan,” cerita Kristo.

    Menurut Bene, untuk mengatasi hal tersebut, tim produksi akhirnya mengandalkan bantuan warga lokal yang bisa menyampaikan instruksi menggunakan bahasa Batak dengan suara yang lantang, yang mana Dimas terlebih dahulu memperagakan gerakan koreografi, kemudian orang tersebut membantu meneruskan hitungan dan arahan kepada para penari maupun extras agar semuanya bisa mengikuti gerakan secara bersamaan.

    “Solusinya? Batak. Kita nyari orang Batak untuk mengikuti arahannya Dimas.”

    Meski sempat terkendala suara air terjun, Bene menjelaskan bahwa adegan musikal tersebut dapat berjalan lancar.

Related Articles

See More