potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Selain proses melatih banyak penari dan extras, tim produksi Pulang Kampung juga menghadapi tantangan saat menggarap adegan musikal di lokasi yang tidak biasa, nih. Salah satunya adalah sebuah air terjun di Sumatra Utara. Kristo Immanuel mengungkapkan bahwa perjalanan menuju lokasi tersebut saja membutuhkan waktu sekitar tiga jam.
Tantangan pun terasa semakin berat ketika mereka tiba di lokasi. Kristo mengaku sempat mempertanyakan keputusan untuk membuat adegan musikal di air terjun karena derasnya suara air yang harus dihadapi. Kekhawatirannya pun terbukti, suara air terjun ternyata jauh lebih bising dari yang dibayangkan. Kondisi ini pun membuatnya bertanya-tanya bagaimana tim bisa menyampaikan arahan kepada para penari dan extras agar tetap bisa mengikuti koreografi.
“Itu di air terjun. Perjalanan ke sananya aja tiga jam. Terus di air terjunnya juga bikin adegan musikal. Gue dari dengar pertamanya aja, ‘Ini bikin adegan musikal di tempat ini?’ Lo mau bawa speaker yang bisa melawan suara air terjun? Apakah saya bodoh?’ Gak kedengeran, guide-nya kita sampai di depan,” cerita Kristo.
Menurut Bene, untuk mengatasi hal tersebut, tim produksi akhirnya mengandalkan bantuan warga lokal yang bisa menyampaikan instruksi menggunakan bahasa Batak dengan suara yang lantang, yang mana Dimas terlebih dahulu memperagakan gerakan koreografi, kemudian orang tersebut membantu meneruskan hitungan dan arahan kepada para penari maupun extras agar semuanya bisa mengikuti gerakan secara bersamaan.
“Solusinya? Batak. Kita nyari orang Batak untuk mengikuti arahannya Dimas.”
Meski sempat terkendala suara air terjun, Bene menjelaskan bahwa adegan musikal tersebut dapat berjalan lancar.