Imam Darto Spill Bujet Film Gudang Merica: 2 Juta Penonton Balik Modal

- Imam Darto ungkap film horor komedi Gudang Merica butuh 2 juta penonton untuk balik modal karena bujet produksinya tergolong besar demi hasil visual maksimal.
- Biaya tinggi bukan dari honor aktor, melainkan lokasi syuting di daerah pelosok Cianjur dan bangunan bekas rumah sakit di Kaliurang yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
- Tim produksi membangun ladang asli di Cianjur selama satu setengah bulan tanpa CGI agar tampilan film terasa autentik dan mendukung atmosfer cerita.
Jakarta, IDN Times - Imam Darto kembali hadir sebagai sutradara lewat film terbaru berjudul Gudang Merica. Mengusung genre horor komedi, film yang dibintangi oleh Ardhito Pramono dan Arla Ailani ini pun menjadi film ketiganya yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 21 Mei 2026.
Menariknya, saat sesi doorstop interview di XXI Epicentrum, Selasa (12/5/2026), Imam Darto bicara blak-blakan soal bujet produksi film tersebut. Sutradara bernama asli Imam Hendarto Sukarno itu bahkan tak ragu mengungkap target jumlah penonton yang harus dicapai agar Gudang Merica bisa balik modal.
1. Imam Darto sebut film Gudang Merica baru bisa balik modal dengan 2 juta penonton

Saat ditanya IDN Times soal bujet produksi film Gudang Merica, Imam Darto mengungkap, biaya produksinya terbilang cukup besar. Menurutnya, hal tersebut dilakukan demi mendapatkan hasil visual yang sesuai dengan keinginannya.
“Bujet produksinya lumayan asoy. Makanya ketika ide itu dicetuskan, terus sama Multivision disetujui dengan konsekuensi yang kita punya, ya udah sikat gitu. Apapun itu, ya kita jalanin demi dapetin shot itu,” kata Imam Darto, Selasa (12/5/2026).
Tanpa ragu, Darto kemudian menyebut, Gudang Merica diperkirakan baru akan balik modal jika berhasil mendapatkan sekitar 2 juta penonton di bioskop.
“Pokoknya, 2 juta penonton lah, balik modal,” tambahnya.
2. Tegaskan pemilihan lokasi syuting lebih mahal dari bayaran aktor

Menurut Imam Darto, membengkaknya bujet produksi film Gudang Merica bukan disebabkan oleh bayaran para pemainnya, melainkan karena pemilihan lokasi syutingnya. Ia menjelaskan bahwa tim produksi benar-benar memilih lokasi syuting yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Mereka bahkan rela terjun ke daerah pelosok di kawasan Cianjur dengan medan yang cukup sulit dijangkau.
“Mahalnya di lokasi. Lokasinya tuh benar-benar kita milih lokasinya. Lokasinya tuh bukan di Jakarta. Itu aja di Cianjur, pas setengah jam dari Jakarta naik mobil. Dari Cipanas tuh tiga setengah jam lagi dan itu benar-benar masuk pelosok yang medannya sesuai dengan yang kita mau,” lanjutnya.
Selain Cianjur, Imam Darto menjelaskan bahwa film Gudang Merica juga menjalani proses pengambilan gambar di beberapa lokasi lain, termasuk salah satu bangunan bekas rumah sakit yang berlokasi di Kaliurang, Yogyakarta.
3. Tim produksi juga sediakan bujet dan waktu khusus untuk bangun ladang di film Gudang Merica

Selama durasi 1 jam 38 menit, film ini menampilkan sebuah hamparan ladang tumbuhan. Meski belum bisa menjelaskan detail ladang tersebut secara spesifik karena gak mau spoiler, Imam Darto mengungkap bahwa seluruh ladang tersebut dibuat secara nyata, bukan menggunakan CGI maupun properti buatan.
Ia menjelaskan, lokasi pengambilan gambar untuk adegan ladang tersebut dilakukan di kawasan Cianjur dan membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan untuk proses penanaman.
“Itu beneran. Itu bukan CGI, bukan plastik, itu benar-benar tumbuhan. Lokasinya di Cianjur. Butuh waktu tanam selama satu setengah bulan,” ungkapnya.
Menurut Imam Darto, ia dan tim produksi memang sengaja memilih secara langsung demi mendapatkan hasil visual yang maksimal dan terasa autentik di layar. Sementara itu, saat ditanya lebih lanjut soal hal teknis lainnya, Imam Darto hanya menanggapinya dengan santai. “Ya, gak tahu deh. Biarkan itu menjadi misteri,” lanjutnya.
Adapun Gudang Merica mengikuti kisah empat mahasiswa kedokteran yang menjalani masa koas di Rumah Sakit Harapan Ayah. Namun, kegiatan mereka berubah mencekam setelah seorang pasien misterius meninggal di tangan mereka.

















