James Cameron Tolak Netflix Akuisisi WB: Bencana buat Bisnis Film Bioskop

- James Cameron menolak rencana akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Netflix senilai 83 miliar dolar AS, menyebutnya sebagai ancaman besar bagi masa depan industri bioskop.
- Ia menilai orientasi streaming akan menggerus nilai artistik film dan membunuh ekosistem layar lebar, termasuk ribuan pekerja di sektor produksi serta distribusi bioskop.
- Sementara CEO Netflix Ted Sarandos berjanji tetap menayangkan film Warner Bros. di bioskop selama 45 hari, Cameron menganggap janji itu tidak cukup melindungi ruh sinema.
Dunia perfilman Hollywood kembali riuh. Sutradara Titanic (1997) dan Avatar (2009), James Cameron, mengkritisi raksasa streaming, Netflix yang dikabarkan tengah mengincar Warner Bros. Discovery (WBD) dalam kesepakatan fantastis senilai sekitar 83 miliar dolar AS atau Rp1,4 triliun.
Cameron melihat rumor ini sebagai 'bencana' bagi industri bioskop. Ia bahkan disebut sudah mengirim surat terbuka bernada keras ke Senator Mike Lee, ketua subkomite Senat bidang antimonopoli Amerika Serikat, untuk mencoba menjegal merger tersebut.
1. James Cameron sebut tak cuma cari untung lewat film

Cameron, yang selama ini dikenal sebagai pembela garis keras layar lebar, menilai, jika Warner Bros. benar-benar jatuh ke tangan Netflix, nilai artistik film akan tergerus dan berubah jadi sekadar "konten." Dalam salah satu pernyataannya, Cameron menegaskan bahwa perjuangannya bukan semata-mata soal bisnis.
"Saya yakin sekali rencana penjualan Warner Bros. Discovery ke Netflix bakal jadi bencana buat bisnis film bioskop, dunia yang sudah saya dedikasikan seluruh hidup saya di sana. Tentu, film-film saya juga tayang di platform digital nantinya, tapi cinta pertama saya tetaplah bioskop," ujarnya, seperti dilansir Variety (19/2/2026).
Ia juga mengingatkan pemerintah AS bahwa dirinya bukan hanya pembuat film komersial, melainkan pionir teknologi sinema modern. Dari 3D digital, VFX mutakhir, hingga eksperimen high frame rate, semua ia kembangkan untuk pengalaman layar raksasa, bukan untuk ditonton di ponsel atau laptop sambil rebahan.
Menurut Cameron, jika film-film besar Warner Bros. nantinya diproduksi dengan orientasi streaming sejak awal, maka ruh sinema akan menghilang.
2. Anggap bisnis Netflix bakal bunuh ekosistem bioskop

Lebih jauh, Cameron menilai model bisnis Netflix berpotensi membunuh ekosistem bioskop secara sistemik. Ia khawatir film-film Warner Bros. hanya akan numpang lewat sebentar di layar lebar sebelum akhirnya tenggelam di algoritma Netflix.
"Menampilkan film di bioskop adalah bagian krusial dari visi kreatif saya. Saya sangat percaya pada layar lebar," tegasnya lagi.
Bagi Cameron, merger ini bukan cuma soal uang, tapi efek domino yang lebih luas. Ia memperingatkan bahwa ribuan pekerja di sektor produksi, distribusi, dan jaringan bioskop bisa terdampak.
"Jika Warner Bros. berubah menjadi pabrik konten streaming, ribuan pekerja teknis di bioskop, dan distribusi film akan kehilangan tempat. Kita sedang melihat potensi bencana besar yang akan mengubah wajah Hollywood selamanya," tulis Cameron dalam suratnya.
Ia menuding Netflix terlalu agresif memperluas kekuasaan ekonomi dan politik di industri hiburan. Dalam pandangannya, membiarkan satu perusahaan menguasai distribusi digital sekaligus perpustakaan film legendaris adalah kesalahan fatal.
3. Bos Netflix sudah janji bakal rilis film Warner Bros. di bioskop

Di sisi lain, CEO Netflix Ted Sarandos sebenarnya sudah mencoba meredakan ketegangan. Ia berjanji jika akuisisi benar terjadi, film-film Warner Bros. tetap akan tayang di bioskop setidaknya selama 45 hari sebelum masuk platform streaming. Namun bagi Cameron, itu hanya janji manis di atas kertas.
Menariknya, di tengah kritik kerasnya terhadap Netflix, Cameron justru terdengar lebih "adem" saat membahas kemungkinan akuisisi lain, seperti oleh Paramount Skydance. Menurutnya, Paramount masih punya "darah" bioskop yang kental dan lebih menghargai film sebagai karya seni, bukan sekadar komoditas digital.
Kini, bola panas ada di tangan regulator Amerika Serikat. Apakah mereka akan mendengarkan peringatan sang raja box office atau membiarkan Netflix makin berkuasa dan mengubah cara kita menonton film selamanya? Satu hal yang pasti, James Cameron tak akan tinggal diam melihat "anaknya," yakni layar lebar, tenggelam begitu saja.

![[QUIZ] Berasal dari Klan Manakah Kamu di Jujutsu Kaisen?](https://image.idntimes.com/post/20260222/upload_a9b27840dcdf348b8e3f37a4fdeb6922_dd796a3b-6a9c-43e1-b226-7b006925e80f.jpg)
















