Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perbedaan Film Live Action, Adaptasi, dan Remake

Perbedaan Film Live Action, Adaptasi, dan Remake
ilustrasi syuting film (pexels.com/Martin Lopez)
Intinya Sih
  • Live action merujuk pada bentuk film dengan aktor nyata, sering mengubah animasi, komik, atau game menjadi tayangan manusia, tanpa otomatis berarti remake.
  • Adaptasi mengambil cerita dari media berbeda seperti novel, komik, drama, game, atau kisah nyata, dengan penyesuaian format sambil mempertahankan inti cerita.
  • Remake membuat ulang film yang sudah ada dengan pembaruan teknis atau pendekatan; satu karya dapat sekaligus menjadi live action, adaptasi, maupun remake.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Istilah live action, adaptasi, dan remake semakin sering muncul ketika membahas film. Meski terdengar mirip, ketiganya sebenarnya memiliki arti yang berbeda sehingga tidak bisa digunakan secara bergantian. Kesalahan dalam memahami istilah ini juga sering memicu perdebatan di kalangan penonton.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan asal cerita, cara produksi, hingga tujuan pembuatannya. Ada film yang mengubah media asalnya, ada yang mengangkat kembali karya lama, dan ada pula yang sekadar menghadirkan versi baru dengan pendekatan yang berbeda. Yuk, simak lebih lanjut perbedaan ketiganya.

1. Live action mengubah karya animasi atau fiksi menjadi film nyata

One Piece live action
One Piece live action (dok. Netflix/One Piece)

Live action mengacu pada teknik pembuatan film yang menggunakan aktor sungguhan sebagai pemeran utama. Istilah ini sering digunakan ketika sebuah animasi, komik, atau game diubah menjadi film yang diperankan oleh manusia, meskipun efek visual berbasis komputer tetap digunakan untuk menciptakan karakter atau latar tertentu. Contoh yang cukup dikenal adalah The Little Mermaid, Aladdin, dan One Piece versi serial yang diperankan oleh aktor asli.

Namun, tidak semua live action merupakan remake. Sebuah live action juga bisa menjadi adaptasi apabila sumber ceritanya berasal dari manga, novel, atau video game yang sebelumnya belum pernah dibuat dalam bentuk film nyata. Dengan kata lain, istilah live action lebih menjelaskan bentuk penyajian film dibandingkan dengan hubungan ceritanya dengan suatu karya terdahulu.

2. Adaptasi mengambil cerita dari media yang berbeda

ilustrasi membaca buku
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Rahul Shah)

Film adaptasi merupakan karya yang mengangkat cerita dari media lain, seperti novel, komik, drama, game, atau kisah nyata. Dalam prosesnya, sutradara dan penulis skenario dapat mempertahankan sebagian besar cerita asli atau melakukan berbagai penyesuaian agar lebih sesuai dengan format film. Karena itu, hasil akhirnya tidak selalu sama persis dengan sumber aslinya.

Banyak film populer lahir dari proses adaptasi, seperti Harry Potter dari novel karya J. K. Rowling atau The Last of Us yang diadaptasi dari video gim. Adaptasi memberikan kebebasan bagi pembuat film untuk menafsirkan ulang cerita selama tetap mempertahankan inti kisahnya. Inilah yang membuat satu karya dapat memiliki beberapa versi adaptasi dengan pendekatan yang berbeda.

3. Remake menghadirkan kembali film yang sudah pernah dibuat

The Lion King
The Lion King (dok. Walt Disney Pictures/The Lion King)

Berbeda dari adaptasi, remake berarti membuat ulang sebuah film yang sudah pernah diproduksi sebelumnya. Cerita utamanya umumnya tetap sama, tetapi kualitas gambar, teknologi, penyutradaraan, pemeran, hingga penyampaian cerita diperbarui agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Tujuannya bukan menciptakan kisah baru, melainkan memperkenalkan kembali film lama kepada generasi penonton berikutnya.

Sebagai contoh, The Lion King versi 2019 merupakan remake dari film animasi tahun 1994. Demikian pula West Side Story versi 2021 mengangkat kembali film klasik tahun 1961. Walaupun alur ceritanya serupa, pembuat film sering menambahkan sudut pandang baru atau penyempurnaan teknis sehingga hasil akhirnya tetap terasa segar bagi penonton.

4. Satu film dapat memiliki lebih dari satu kategori

ilustrasi syuting film
ilustrasi syuting film (pexels.com/Lê Minh)

Ketiga istilah tersebut sebenarnya tidak selalu berdiri sendiri, karena sebuah film dapat masuk ke lebih dari satu kategori sekaligus. Sebuah film dapat disebut live action sekaligus adaptasi apabila diangkat dari manga atau novel ke dalam bentuk film yang diperankan oleh aktor.

Di sisi lain, ada pula live action remake yang mengubah film animasi lama menjadi versi baru menggunakan pemeran manusia. Contohnya adalah Beauty and the Beast versi 2017 yang dapat disebut sebagai live action sekaligus remake karena dibuat ulang dari film animasi Disney tahun 1991.

Sementara itu, serial One Piece versi Netflix merupakan live action dan adaptasi karena berasal dari manga, tetapi bukan remake. Memahami hubungan antara ketiga istilah ini membuat kita lebih mudah mengenali proses produksi yang dilakukan oleh para pembuat film.

Ketiga istilah tersebut tidak saling menggantikan karena masing-masing memiliki makna dan tujuan yang berbeda dalam industri perfilman. Dengan mengenali perbedaannya, kita dapat melihat bagaimana sebuah film lahir dari proses kreatif yang berbeda. Jadi, sudah tahu kan perbedaannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More