Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review The Drama, Ruwetnya Pernikahan Robert Pattinson dan Zendaya
The Drama (dok. A24/The Drama)

Konflik sebelum pernikahan sering kali terasa seperti bom waktu, sampai akhirnya meledak di waktu yang paling tidak tepat. The Drama (2026) menangkap momen itu dengan cara yang tidak biasa, bahkan cenderung "chaos." Dibintangi Robert Pattinson dan Zendaya, film produksi A24 ini menawarkan potret hubungan yang rapuh tepat di ambang janji suci.

Disutradarai oleh Kristoffer Borgli, sineas di balik Dream Scenario (2023), film ini tidak datang sebagai romcom biasa. Ia lebih mirip eksperimen emosional yang canggung, absurd, kadang melelahkan, tapi anehnya tetap bikin kita betah duduk dan terus bertanya, "Ini bakal ke mana lagi, ya?" Lalu, apakah film ini sekadar "drama pre-wedding" atau sesuatu yang lebih liar? Simak ulasannya di bawah ini!

Sinopsis The Drama (2026)

Charlie (Robert Pattinson) dan Emma (Zendaya) adalah pasangan yang bersiap melangkah ke jenjang pernikahan setelah dua tahun menjalin hubungan. Seminggu sebelum hari-H, keduanya berkumpul bersama sahabat dekat, Mike dan Rachel, dalam sebuah momen santai yang berubah jadi titik balik.

Sebuah permainan sederhana (mengakui kesalahan terburuk di masa lalu) malah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Pengakuan Emma tentang niat gelap yang pernah ia pendam mengguncang semua orang yang ada di ruangan itu, terutama Charlie. Dari situ, keraguan mulai tumbuh, perlahan merusak fondasi hubungan yang selama ini mereka bangun.

Seiring waktu berjalan menuju hari pernikahan, ketegangan psikologis keduanya semakin memuncak. Masa lalu, persepsi, dan rasa tidak percaya bercampur jadi satu, menciptakan spiral emosi yang sulit dikendalikan. Apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan, atau justru runtuh oleh satu kebenaran yang terlambat diungkap?

The Drama
2026
3.5/5
Directed by Kristoffer Borgli
ProducerAri Aster, Tyler Campellone, Lars Knudsen
WriterKristoffer Borgli
Age RatingD17
GenreDark comedy, romance
Duration106 Minutes
Release Date22 April
ThemeRom-com, dark romance, psychology romance, marriage
Production HouseA24
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastZendaya, Robert Pattinson, Alana Haim, Mamoudou Athie, Hailey Benton Gates

Trailer The Drama (2026)

1. Proses menuju pernikahan yang tak pernah benar-benar mulus

The Drama membuka dirinya dengan premis yang cukup sederhana: satu pengakuan, satu rahasia, satu percakapan, dan semuanya berubah. Dari obrolan santai, konflik berkembang seperti bola salju yang meluncur di lereng curam. Semakin lama, semakin besar, semakin sulit dikendalikan.

Film ini paham betul bahwa hubungan tidak runtuh karena satu momen saja, melainkan karena cara kita memaknai momen tersebut. Apa yang dulu terasa kecil, tiba-tiba jadi pusat gravitasi baru. Apa yang dulu bisa diabaikan, kini menuntut jawaban. Borgli dengan cerdas menempatkan penonton di wilayah abu-abu, membuat kita terus berganti posisi. Kadang memihak Charlie, kadang memahami Emma, lalu tiba-tiba ragu pada keduanya.

Hasilnya? Sebuah drama yang tidak memberi jawaban pasti, tapi justru membuat kita bertanya pada diri sendiri. Seberapa jauh kita benar-benar ingin mengenal pasangan kita? Dan kalau kita sudah tahu semuanya, baik dan buruk, apakah hubungan itu masih layak untuk dipertahankan?

2. Robert Pattinson dan Zendaya tampil "aneh" dengan cara terbaik

Kalau kamu berharap versi glamor dari Robert Pattinson dan Zendaya, film ini akan terasa seperti jebakan. Sepanjang film, Pattinson tampil dengan energi gelisah yang nyaris tak pernah padam. Sementara Zendaya memainkan kebingungan dengan lapisan yang lebih subtil, seperti seseorang yang berusaha memahami dirinya sendiri di tengah kekacauan.

Chemistry keduanya bukan tentang romantisme manis, melainkan tarik-ulur yang tidak nyaman. Ada momen hangat, tapi selalu diikuti jarak yang dingin. Seperti dua orang yang saling mencintai, tapi tidak sepenuhnya mengenal satu sama lain. Dan di situlah keindahannya. Hubungan mereka terasa manusiawi, rapuh, dan sedikit berantakan. Seperti kata Fyodor Dostoyevsky:

"Dua orang cerdas tidak bisa jatuh cinta; cinta sejati membutuhkan satu orang idiot."

3. Plot chaos yang snowballing, khas film A24

Film ini bergerak cepat. Sangat cepat. Dari normal, ke tegang, ke intens, lalu tiba di titik di mana kamu hanya bisa bergumam, "What the hell just happened?" Struktur narasinya penuh kilas balik yang "brutal," melompat dari satu waktu ke waktu lain tanpa banyak aba-aba. Kadang melelahkan, kadang membingungkan, tapi justru efektif menggambarkan kondisi mental karakter yang sedang dilanda pre-wedding syndrome.

Ada satu momen jump scare yang benar-benar tak terduga, membuktikan bahwa film ini tahu cara bermain dengan ekspektasi penonton. Dan ketika hari-H akhirnya tiba, semuanya meledak dalam kekacauan yang terasa absurd sekaligus masuk akal dalam logika emosional karakter utamanya.

4. Editing, visual, dan "aftertaste" yang sulit dilupakan

Kalau ada satu aspek yang benar-benar bersinar, itu adalah editing. Ritme film dijaga dengan presisi, membuat setiap beat terasa hidup. Transisi yang tajam, potongan adegan yang berani, hingga penggunaan flashback yang agresif, membuatnya jadi pengalaman menonton yang intens.

Secara visual, Borgli bermain dengan komposisi yang rapi tapi dingin. Karakter sering ditempatkan dalam ruang bergaya Skandinavia yang terasa luas tapi kosong, mempertegas isolasi emosional mereka. Percakapan terasa terlalu panjang. Keheningan terasa berat. Setiap adegan seperti memperlihatkan sesuatu yang seharusnya privat. Ada rasa ingin "mengintip" kehidupan orang lain dari celah pintu yang setengah terbuka.

Aftertaste-nya? Sangat kuat. Film ini tidak berhenti ketika kredit bergulir. Ia terus menempel di benak penonton, memancing percakapan, pertanyaan, bahkan mungkin konflik kecil dengan pasangan. Seberapa jauh kita benar-benar ingin tahu masa lalu orang yang kita cintai? Saat keluar bioskop, di situlah kamu mulai mendiskusikannya.

5. Apakah The Drama wajib ditonton?

Ya, terutama kalau kamu siap diajak berpikir dan merasa tidak nyaman sepanjang 106 menit. The Drama bukan tontonan ringan. Ia menuntut perhatian, kesabaran, dan sedikit keberanian untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terlalu personal. Tapi di balik itu, film ini sangat rewarding.

The Drama adalah jenis film yang cocok ditonton bareng pasangan, gebetan, atau teman dekat. Karena setelahnya, pasti ada satu pertanyaan yang menggantung di kepala dan tidak semua orang siap menjawabnya. Karena percaya atau tidak, konflik di layar bisa terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Editorial Team