"Kalau Rayhan Noor sebelum manggung dia harus lari minimal 12 kilo. Minimal 12 kilo dalam waktu 15 menit.
Sisi Lain Lomba Sihir, Ternyata Kepincut Genre Dangdut!

- Anggota Lomba Sihir punya ritual unik sebelum manggung, dari lari 12 km, memilih baju untuk semua orang, hingga memastikan rigging aman di panggung.
- Natasha dan Enrico kompak ingin eksplor genre dangdut, sementara Rayhan justru memilih jazz sebagai bentuk keunikan dirinya.
- Keseruan internal band terlihat dari candaan soal jadwal Baskara yang padat, menunjukkan kekompakan dan kejujuran mereka di balik kesuksesan musiknya.
Jakarta, IDN Times - Lomba Sihir bukan band yang susah dikenal. Mereka hadir dengan warna musik yang dalam, konsernya padat, dan lagunya tipe yang masuk kepala tanpa permisi. Tapi ada satu sisi dari band lokal ini yang jarang keluar ke permukaan, sisi yang receh, jujur, dan sama sekali tidak berusaha terlihat keren!
Dalam sebuah roundtable exclusive interview pada Kamis (23/4/2026) di The Veranda, CIBIS Park, Jakarta Selatan, Baskara, Rayhan, Natasha Udu, Enrico, dan Tristan membuktikan bahwa di balik diskografi yang rapi, ada berbagai keseruan internal. Dari ritual manggung yang tidak terduga, mimpi bermusik yang cukup mengejutkan, sampai jokes soal dealing jadwal bersama Baskara. Penasaran?
1. Ritual anggota Lomba Sihir sebelum manggung

Ditanya soal ritual sebelum manggung, Rayhan Noor langsung menjawab singkat. Menurutnya, tak ada ritual, langsung naik panggung saja. Tapi Baskara punya cerita lain. Menurut dia, hal pertama yang selalu Rayhan lakukan sebelum perform adalah 'memaki' panitia, yang langsung disambut teriakan kompak dari anggota lainnya. Enrico menambahkan,
Tristan kebagian peran sebagai quality control konsumsi alias seksi konsumsi. Natasha Udu punya ritual paling tak terduga, memilihkan baju untuk sesama anggota, panitia, sampai penonton. Baskara selalu minta prompter ke EO agar tidak ada satu pun lirik yang kelewat. Di sisi yang lebih serius, Enrico selalu melakukan pengecekan rigging terakhir sebelum naik panggung.
"Kalau gue biasanya nge-last rigging dulu biar aman gitu semua sebelum naik manggung. Jadi gue pernah ada acara di-cancel gara-gara gak safe, gara-gara gue. Jadi gue mesti memastikan itu lancar," tambah Enrico.
2. Tertarik buat explore genre dangdut, kecuali satu orang

Kalau soal mimpi genre yang ingin dibawakan di luar genre-genre Lomba Sihir, Natasha dan Enrico tidak perlu waktu lama untuk sepakat. Keduanya kompak, nyaris bersamaan: dangdut.
"Kalau dangdut, dangdut Pantura gitu sih. Gak tau, tapi sulit. Karena kalau dangdut gua pribadi lagi suka banget nontonin video-video King Nassar, sering banget nontonin. Dan itu selalu menggugah hati," kata Enrico.
Baskara mengangguk setuju, tapi langsung mengingatkan satu hal, dangdut itu tidak semudah kelihatannya. Kekompakan bertahan sampai giliran Rayhan menjawab. Satu kata keluar dari mulutnya: jazz.
"Pick me gila! Kayak gue harus beda banget nih dari temen-temen gue," canda Baskara.
3. Soal dealing dengan jadwal Baskara

Satu topik yang rasanya tidak pernah basi kalau membahas Lomba Sihir, yaitu jadwal Baskara. Pertanyaan soal bagaimana mereka selama ini menyelaraskan jadwal sang vokalis yang padat disambut dengan jawaban yang bernada candaan.
"Saya kalau misalnya mereka manggung Sabtu, gak ada saya, Jumatnya saya dipukulin dulu," ujar Baskara disambut tawa member lainnya.
Rayhan tidak mau kalah. Ia melontarkan candaan dan mengaku pernah melempar bom molotov ke rumah Bakara sebagai bentuk protes.
"Terus saya laporin. Makanya pernah ada Raihan gak ikut manggung. Itu dia lagi di Bui," timpal Baskara.
Bertahun-tahun bersama, Lomba Sihir membuktikan bahwa band yang baik bukan hanya soal musik yang bagus. Tapi juga soal bisa jujur, receh, dan tawa bareng tanpa kehilangan satu sama lain!

















