Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)
Pertanyaan mengenai posisi moral Matt Hagen sebenarnya sudah muncul sejak awal film. Matt awalnya adalah korban. Wajahnya dirusak oleh Szabo dan kehidupannya hancur. Setelah mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki wajahnya, ia justru mengalami degradasi. Penonton pun diajak memahami alasan di balik tindakan Matt. Namun, simpati tersebut perlahan berubah ketika aksi balas dendamnya semakin brutal.
Dalam wawancara dengan Steve Weintraub dari Collider, James Watkins membahas bagaimana Clayface sengaja membuat penonton ikut menikmati perjalanan balas dendam Matt sebelum akhirnya mempertanyakan batas moral karakter tersebut.
"Dalam kehidupan nyata, jika seseorang menyakiti Anda atau jika Anda diperlakukan tidak adil atau apa pun, Anda mengalami frustrasi dalam kehidupan nyata, dan umumnya dalam kehidupan nyata, kita tidak bisa membalas. Kita mendapatkan sensasi mendebarkan secara tidak langsung dengan menonton film di mana orang-orang melakukan balas dendam, bukan?," ucapnya dilansir Collider (25/10/2026).
Menurut Watkins, Clayface membawa penonton melewati batas tersebut. Pada awalnya, aksi Matt terasa seperti pembalasan yang bisa dipahami. Namun, ketika jumlah korbannya bertambah, penonton mulai dipaksa mempertanyakan apakah mereka masih bisa mendukungnya. Ia kemudian menyoroti perjalanan Matt ketika kembali dari klub dan bagaimana penonton ikut merasakan kegembiraan gelap dari tindakan yang dilakukannya.
"Dan kemudian yang menurut saya sangat menarik adalah membawa penonton melewati batas dan membuat mereka mempertanyakan hal itu, dan berkata, 'Oh, bagaimana perasaan saya tentang ini?' dari sudut pandang moralitas. Saya hanya berpikir itu menciptakan dinamika yang menarik dalam hal percakapan yang Anda lakukan dengan penonton. Pada titik mana sang pahlawan menjadi anti-hero?," lanjutnya.
Namun, Watkins juga menegaskan bahwa tindakan Matt tidak sepenuhnya lahir dari kejahatan. Ia masih digerakkan oleh perasaan yang sangat manusiawi, terutama cintanya kepada Caitlyn. Namun tentu saja, pada akhirnya ia adalah villain yang dikenal dengan nama Clayface.
"Aku tahu dia sudah keterlaluan dan sebagainya, tapi dia didorong oleh cinta, dan dia benar-benar dikuasai oleh, kurasa, dorongan naluriahnya," pungkasnya.