Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Komunikasi Asertif Saat Merasa Dipinggirkan dari Proyek

5 Cara Komunikasi Asertif Saat Merasa Dipinggirkan dari Proyek
ilustrasi berdiskusi dengan tim kerja (pexels.com/Alena Darmel)
Intinya Sih
  • Artikel membahas pentingnya komunikasi asertif di tempat kerja agar karyawan tetap bisa menyuarakan diri saat merasa diabaikan dalam pembagian proyek.
  • Ditekankan lima langkah praktis seperti menanyakan status dengan sopan, menyampaikan keinginan berkontribusi, hingga meminta penjelasan tanpa nada menyerang.
  • Pesan utama artikel menyoroti bahwa komunikasi yang tenang dan profesional membantu menjaga hubungan kerja sekaligus memastikan kontribusi tetap terlihat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Rasanya gak enak saat daftar tim proyek dibagikan di grup, lalu matamu mencari namamu berkali-kali tapi hasilnya tetap sama. Kamu mencoba meyakinkan diri kalau mungkin itu hanya salah ketik atau daftar sementara. Meski begitu, perasaan diabaikan tetap susah benar-benar hilang.

Momen seperti ini sering bikin orang memilih diam karena takut dianggap sensitif atau sulit diajak kerja sama. Padahal, komunikasi asertif di kantor justru dibutuhkan supaya posisimu gak terus terlewat. Yuk simak beberapa kalimat yang bisa kamu sampaikan dengan profesional saat merasa dipinggirkan dari proyek.

1. Tanyakan statusmu tanpa langsung berasumsi

ilustrasi berdiskusi
ilustrasi berdiskusi (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Saat rapat selesai, semua orang mulai membahas pembagian tugas, sementara kamu cuma mendengar tanpa pernah disebut. Tanganmu sudah beberapa kali ingin mengangkat, tetapi kamu masih berharap seseorang akan mengingat keberadaanmu. Ruangan terasa ramai, tapi kamu seperti berdiri di luar percakapan.

Kamu bisa berkata, "Aku ingin memastikan, apakah memang belum ada peran yang dialokasikan untukku di proyek ini?" Kalimat ini menunjukkan rasa ingin tahu, bukan tuduhan. Cara seperti ini membantu membuka ruang diskusi tanpa membuat lawan bicara merasa diserang.

2. Sampaikan kalau kamu ingin ikut berkontribusi

ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja
ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (freepik.com/pressfoto)

Obrolan di grup makin aktif membahas target mingguan, sedangkan notifikasi yang masuk cuma berisi keputusan yang sudah dibuat orang lain. Kamu mulai bertanya-tanya apakah memang dianggap gak relevan lagi. Pikiran itu sering muncul sebelum ada penjelasan apa pun.

Coba katakan, "Kalau masih ada kebutuhan di proyek ini, aku siap terlibat dan berkontribusi." Kalimat sederhana ini termasuk komunikasi saat dipinggirkan yang tetap menjaga profesionalitas. Kamu sedang menyampaikan kesiapan, bukan memohon belas kasihan.

3. Minta penjelasan dengan nada yang tenang

ilustrasi berbicara dengan atasan
ilustrasi berbicara dengan atasan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kamu mungkin melihat rekan yang baru bergabung justru sudah masuk ke proyek tersebut. Sementara itu, kamu yang pernah menangani pekerjaan serupa malah belum diajak berdiskusi. Situasi seperti ini memang mudah memancing rasa kecewa.

Daripada memendam asumsi, kamu bisa mengatakan, "Boleh tahu pertimbangan pembagian tim kali ini supaya aku bisa memahami arahnya?" Pertanyaan seperti ini terdengar terbuka dan dewasa. Jawaban yang muncul juga bisa menjadi bekal untuk menuntut hak dalam proyek kerja secara lebih tepat.

4. Jelaskan dampaknya terhadap pekerjaanmu

ilustrasi orang berdiskusi di kantor
ilustrasi orang berdiskusi di kantor (magnific.com/KamranAydinov)

Saat evaluasi bulanan berlangsung, pencapaian proyek menjadi salah satu indikator penilaian. Kamu sadar kontribusimu terlihat lebih sedikit karena gak banyak dilibatkan sejak awal. Situasi itu membuatmu merasa usahamu sulit terlihat meski tetap bekerja setiap hari.

Kamu dapat menyampaikan, "Aku khawatir kesempatan berkontribusi yang terbatas akan memengaruhi target kerjaku, jadi aku ingin mendiskusikan solusinya." Kalimat ini fokus pada dampak pekerjaan, bukan menyerang orang tertentu. Pesanmu pun lebih mudah dipahami sebagai kebutuhan profesional.

5. Akhiri dengan menawarkan solusi

ilustrasi berbicara dengan rekan kerja
ilustrasi berbicara dengan rekan kerja (freepik.com/pressfoto)

Setelah semua unek-unek tersampaikan, suasana biasanya menjadi lebih tenang. Di titik itu, pembicaraan bisa bergerak ke arah yang lebih produktif jika kamu gak berhenti pada rasa kecewa saja. Justru di sinilah kesempatanmu membangun kembali kepercayaan.

Kamu bisa menutup dengan, "Kalau memungkinkan, aku ingin ikut di tahap berikutnya atau membantu bagian yang masih membutuhkan dukungan." Kalimat ini menunjukkan inisiatif sekaligus menjaga hubungan kerja tetap baik. Komunikasi asertif di kantor bukan soal memenangkan perdebatan, melainkan memastikan suaramu ikut didengar.

Merasa dipinggirkan memang bisa membuatmu meragukan kemampuan sendiri, apalagi saat semuanya terjadi di depan banyak orang. Meski begitu, kamu tetap berhak menyampaikan kebutuhanmu dengan cara yang tenang dan jelas. Suara yang disampaikan dengan hormat sering kali membuka percakapan yang sebelumnya gak pernah benar-benar dimulai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More