“Kuncinya adalah kesiapan perkembangan,” ujar Tokunbo Akande, MD, dokter anak integratif dan pendiri Harmony 360 Health, dikutip dari Parents.
Usia yang Tepat untuk Anak Mulai Ikut Olahraga Terorganisir

Mengajak anak mengikuti olahraga terorganisir bisa membuat mereka aktif sekaligus belajar bekerja sama. Namun, orangtua gak perlu buru-buru mendaftarkan anak hanya karena teman seusianya sudah ikut berbagai kegiatan. Usia, kesiapan, minat, dan kemampuan anak tetap perlu dipertimbangkan agar olahraga terasa menyenangkan.
Olahraga terorganisir memang punya banyak manfaat, tetapi kesiapan setiap anak berbeda. Anak prasekolah masih membutuhkan banyak kesempatan untuk bergerak dan bermain bebas sebelum mengikuti aktivitas yang lebih terstruktur. Lantas, kapan anak mulai siap dan apa yang perlu diperhatikan orangtua? Yuk, simak selengkapnya berikut ini!
1. Kapan anak mulai siap ikut olahraga terorganisir?

ilustrasi siswa kompak bermain (pexels.com/kampus) Banyak anak mulai cukup siap mengikuti olahraga terorganisir sekitar usia 6–7 tahun. Pada usia ini, mereka umumnya mulai memiliki koordinasi yang lebih baik dan mampu mengikuti aturan dasar dalam permainan. Memasuki usia 8–9 tahun, sebagian anak juga sudah lebih siap mengikuti permainan yang membutuhkan strategi dan kompetisi.
Meski begitu, usia bukan satu-satunya patokan karena perkembangan setiap anak bisa berbeda. Anak yang masih prasekolah biasanya lebih membutuhkan aktivitas fisik yang menyenangkan dan gak terlalu terstruktur untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Jadi, orangtua sebaiknya melihat kesiapan anak daripada sekadar mengikuti usia atau tren di sekitarnya.
2. Berapa banyak kegiatan yang sebaiknya diikuti anak?

ilustrasi siswa kompak (pexels.com/kampus) Gak ada jumlah pasti kegiatan ekstrakurikuler yang ideal untuk semua anak. Ada anak yang cukup dengan satu aktivitas, sementara lainnya senang mencoba beberapa kegiatan selama tetap punya waktu untuk bermain dan beristirahat. Yang penting, jadwal anak tetap seimbang dan gak sepenuhnya dipenuhi aktivitas terstruktur.
Selain olahraga, anak tetap membutuhkan waktu untuk bermain bebas dan bersantai tanpa jadwal. Terlalu banyak kegiatan bisa membuat anak sekadar menjalani aktivitas tanpa benar-benar menikmati atau mengeksplorasi minatnya. Karena itu, orangtua sebaiknya menilai apakah setiap kegiatan membuat anak berkembang sekaligus tetap merasa senang.
“Saya rasa gak ada angka ajaib untuk menentukan terlalu banyak atau terlalu sedikit,” ujar Janine Domingues, PhD, psikolog klinis di Child Mind Institute, dikutip dari Parents.
3. Kapan orangtua perlu mengurangi kegiatan anak?

ilustrasi siswa berolahraga (pexels.com/yankrukov) Jadwal yang terlalu padat bisa membuat anak kehilangan waktu untuk istirahat, bermain bebas, atau melakukan hal yang disukainya. Orangtua bisa mengevaluasi jadwal saat anak sering lelah, stres, atau enggan mengikuti kegiatan yang sebelumnya disukai. Kondisi ini juga bisa dipengaruhi suasana latihan atau tingkat kesulitan olahraga.
Sebelum memutuskan berhenti, ajak anak berbicara untuk mengetahui alasan di balik keengganannya. Dari situ, orangtua bisa menentukan apakah yang perlu dikurangi adalah jumlah kegiatan, intensitas latihan, atau aktivitas tertentu. Jika tanda-tanda tersebut terus muncul, mengurangi jadwal bisa memberi anak lebih banyak waktu untuk beristirahat dan menikmati aktivitasnya.
“Namun, jika hal itu sering terjadi, mungkin sudah waktunya untuk mengambil langkah mundur dan melihat jadwal tersebut untuk menentukan apakah ada terlalu banyak hal yang harus mereka Jalani,” ujar Janine Domingues.
4. Apa tanda anak belum siap ikut olahraga terorganisir?

ilustrasi anak-anak bermain di lapangan (pexels.com/goumbik) Beberapa perubahan perilaku bisa menjadi tanda anak belum siap mengikuti olahraga terorganisir. Misalnya, anak sering gak mau meninggalkan rumah, pasif saat latihan, mudah lelah atau stres, mengalami perubahan suasana hati, hingga prestasi sekolah menurun. Anak juga bisa kesulitan menikmati waktu sendiri karena terbiasa dengan jadwal kegiatan yang terstruktur.
Orangtua gak perlu langsung menganggap anak malas saat melihat tanda-tanda tersebut. Perhatikan apakah kondisi itu hanya sesekali atau terus berulang setiap kali kegiatan berlangsung. Jika anak semakin tertekan, ajak bicara untuk mencari tahu apa yang membuat olahraga tersebut terasa berat baginya.
“Ketika sesuatu berhenti menyenangkan, kebanyakan anak akan mengatakannya atau mencoba berhenti,” ujar Tokunbo Akande.
5. Apa yang perlu dipersiapkan sebelum mendaftarkan anak?

ilustrasi anak minum dari botol air minum (pexels.com/lilianadrew) Sebelum mendaftarkan anak, orangtua sebaiknya memahami alasan memilih olahraga tersebut. Untuk anak kecil, olahraga sebaiknya menjadi kesempatan mengenal aktivitas baru dan mengembangkan kemampuan sosial, bukan sekadar mengejar prestasi. Sebelum usia 10–11 tahun, pengenalan berbagai aktivitas juga penting agar anak menemukan hal yang mereka sukai.
Ikuti minat dan temperamen anak dengan memulai satu olahraga sebelum menambah kegiatan lain. Orangtua bisa mencoba aktivitas santai di rumah, seperti bermain lempar tangkap atau basket, sebelum bergabung dengan tim. Setelahnya, tanyakan perasaan anak dan beri ruang untuk berhenti atau mencoba aktivitas lain jika diperlukan.
“Selalu biarkan minat dan temperamen anak menjadi panduan,” ujar Anita Cleare, pakar parenting dan penulis The Working Parent’s Survival Guide, dikutip dari Parents.
Memilih waktu yang tepat untuk mengenalkan olahraga terorganisir gak harus mengikuti patokan orang lain. Selama kegiatan sesuai dengan kesiapan dan minat anak, olahraga bisa menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus membantu mereka belajar banyak hal.


















