Apakah kamu dan pasangan pernah mendapatkan laporan bahwa anakmu berperilaku nakal di luar rumah? Mungkin saat ia bermain bersama anak-anak tetangga atau ketika di sekolah. Bagaimana reaksi kalian saat itu?
Perilaku yang Bikin Anak Dicap Nakal, Kapan Perlu Bantuan Ahli?

- Orangtua diminta tidak langsung tersinggung saat anak dicap nakal, melainkan menilai laporan secara terbuka karena perilaku di luar rumah mungkin perlu dibenahi.
- Perilaku yang mengganggu meliputi terlalu aktif hingga kerap cedera, refleks fisik impulsif, ucapan tidak sopan, candaan berlebihan, serta kebiasaan memulai konflik.
- Anak perlu diajari kontrol diri, empati, cara berkomunikasi, dan alasan di balik aturan; bila perilaku hiperaktif tak membaik, konsultasi ke dokter anak atau psikolog dianjurkan.
Cap anak nakal yang disematkan pada buah hati barangkali membuat kalian tersinggung. Anak di matamu baik-baik saja. Orang yang menyebutnya nakal juga belum tentu bisa kasih bukti kenakalan anak.
Jangan-jangan anak dia yang terlalu cengeng serta sensitif, tapi anakmu yang disalahkan. Sebelum dirimu dan pasangan mati-matian membela anak, pahami dulu beberapa perilaku yang bikin anak dicap nakal ketika di luar rumah. Selain didikan yang lebih baik, beberapa kasus juga butuh penanganan khusus oleh dokter anak atau psikolog.
1. Terlalu aktif

ilustrasi anak tertawa (pexels.com/Zavier Chow) Anak yang aktif di satu sisi merupakan tanda bahwa ia tumbuh dengan sehat. Anak gak bisa aktif apabila sakit-sakitan. Namun, perilaku anak yang terlampau aktif dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa terganggu.
Contoh perilaku anak di sekolah, lari ke sana ke mari. Ini bahkan dilakukan di dalam kelas yang penuh dengan meja dan kursi, sehingga ia sering tersandung. Anak juga bermain naik turun bangku atau melompat-lompat.
Dia seperti gak ada capeknya. Apabila perilakunya sudah membuat teman-teman terganggu, bahkan anak sendiri menjadi kerap cedera, nasihati dan tegaskan larangan berperilaku sembarangan. Aktif itu baik, tetapi anak tetap harus memiliki kontrol atas dirinya.
Jika usaha tersebut tidak berhasil, bawa anak ke dokter anak atau psikolog. Orangtua perlu mewaspadai anak yang mengalami gangguan hiperaktivitas. Bila benar, anak membutuhkan penanganan lebih lanjut.
2. Refleks fisik yang berlebihan

ilustrasi anak laki-laki (pexels.com/setengah lima sore) Beberapa anak menunjukkan refleks fisik yang sangat cepat atau cenderung impulsif dan berkekuatan tinggi. Misalnya, sedikit-sedikit dia menabok lengan temannya. Padahal, mungkin maksud anak hanya supaya kawannya menengoknya.
Anak juga refleks menendang teman atau meja dan kursi saat kesal karena apa pun. Ia berbuat tanpa terlebih dahulu memikirkan akibatnya bagi orang lain. Anak perlu diarahkan supaya memiliki lebih banyak kontrol diri.
Contohkan kepada anak cara menarik perhatian kawannya tanpa perlu menabok. Ia bisa cukup memegang atau mencolek lengan teman sembari memanggil namanya. Jika teman sedang berbicara dengan orang lain atau fokus pada sesuatu, tunggu sampai selesai. Sementara itu, kekesalan cukup diekspresikan dengan raut wajah atau dengan menceritakannya kepada sahabat.
3. Ucapan tidak sopan dan over dalam bercanda

ilustrasi anak berkacamata hitam (pexels.com/musthafa mohd) Dari mana anak belajar berkata tidak sopan kepada orang lain? Ini kadang kerap tak disadari oleh orangtua. Bahkan ketika kalian merasa sudah berusaha mengontrol ucapan di depan anak, belum tentu aman.
Anak setiap saat terpapar oleh berbagai perkataan orang-orang di sekitarnya. Belum lagi suara dari tayangan. Misalnya, sekali saja ada orang dewasa di luar rumah yang mengucapkan makian, anak bisa terus mengingatnya.
Sewaktu-waktu ia dapat tiba-tiba melontarkannya sekalipun gak paham artinya. Ketidaksopanan anak juga bisa disebabkan oleh gaya bercandanya yang berlebihan. Dia terus menggoda temannya sampai temannya terlalu kesal lantas menangis.
4. Suka memulai perkelahian dan pertengkaran

ilustrasi anak cemberut (pexels.com/Vidal Balielo Jr.) Di antara teman-temannya, anak mungkin gak cuma disebut nakal. Mereka bahkan menjuluki anak sok jagoan. Sebutan sok jagoan tentu gak sama dengan jagoan sungguhan. Jagoan yang asli akan dikagumi karena keberaniannya melindungi teman yang dinakali.
Sedang sikap sok jagoan justru terasa seperti teror bagi teman-temannya. Anak gemar menekan kawan-kawannya, merasa dirinya paling hebat, kemudian menantang mereka untuk berkelahi. Kalaupun duel fisik tak sampai terjadi, ia selalu memprovokasi teman biar ribut.
Anak yang bersikap sok jagoan begini juga memiliki sifat sombong. Ajari anak untuk rendah hati dan mencintai hubungan pertemanan tanpa drama. Hidupkan cinta kasih dalam hatinya sehingga dia dapat bersikap lebih menyenangkan sebagai kawan.
5. Berperilaku sesuka hati, mengabaikan peraturan

ilustrasi anak dengan raut kesal (pexels.com/Chaleco De Mono) Anakmu makin tahu ada peraturan justru makin suka sengaja melanggar. Misalnya, peraturan berpakaian di sekolah ialah baju dimasukkan ke celana atau rok. Dari rumah anak memang rapi. Namun, sesampainya anak di sekolah malah bajunya dikeluarkan.
Anak juga kurang memedulikan kepemilikan orang lain. Peralatan belajar teman kerap diambilnya begitu saja tanpa izin. Kawannya menjadi kesal dan merasa barang-barangnya dicuri, bukan dipinjam. Anak senang melanggar aturan kemungkinan disebabkan oleh pemahamannya yang kurang.
Ia tidak mengerti tujuan dari berbagai peraturan tersebut. Sayangnya, anak bukannya bertanya, malah langsung bertindak melawan aturan tertulis maupun tidak tertulis yang umum. Anak perlu sering diajak bicara serta diberi penjelasan dan kesempatan untuk bertanya secara kritis.
Jika setiap komplain atas perilaku yang bikin anak dicap nakal dijawab orangtua dengan tersinggung, masalah tidak akan terselesaikan. Tak semua penilaian orang tepat. Akan tetapi, kamu dan pasangan juga perlu mewaspadai kalau-kalau perilaku anak di luar rumah memang kurang baik dan perlu dibenahi.







![[QUIZ] Apakah Kamu Termasuk Orang yang Tone-Deaf?](https://image.idntimes.com/post/20240627/pexels-olly-3808012-0b6997c8ae2ba547b4f3e41dce3440bf.jpg)













