Lembur masih menjadi bagian dari budaya kerja di banyak tempat. Dalam situasi tertentu, bekerja di luar jam kerja memang bisa diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang mendesak atau memenuhi target tertentu. Namun, di balik kebiasaan tersebut, masih ada berbagai anggapan tentang lembur yang terus dipercaya, padahal belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Kesalahpahaman ini dapat membentuk ekspektasi yang kurang tepat terhadap dunia kerja. Ada yang menganggap lembur selalu menjadi tanda dedikasi, sementara yang lain merasa harus terus bekerja lebih lama agar dinilai berkinerja baik. Padahal, kebutuhan lembur dipengaruhi oleh banyak faktor dan gak bisa dijadikan satu-satunya ukuran profesionalisme.
Memahami lembur secara lebih objektif dapat membantumu mengambil keputusan yang lebih bijak dalam bekerja sekaligus menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dengan begitu, kamu bisa melihat bahwa kualitas kerja gak hanya ditentukan oleh lamanya waktu yang dihabiskan di kantor. Berikut lima kesalahpahaman tentang lembur yang masih sering dianggap wajar.
