Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Etos Kerja Gen Z yang Ternyata Sejalan dengan Semangat R.A Kartini

7 Etos Kerja Gen Z yang Ternyata Sejalan dengan Semangat R.A Kartini
Ilustrasi wanita karir (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
  • Gen Z sering disalahpahami sebagai generasi manja, padahal mereka membawa etos kerja progresif yang sejalan dengan semangat R.A Kartini dalam menolak stagnasi dan memperjuangkan kesetaraan.
  • Tujuh etos kerja Gen Z mencakup keberanian bersuara, semangat belajar sepanjang hayat, fleksibilitas, keterbukaan pikiran, pencarian makna kerja, kolaborasi tanpa batas, serta kerapian dan organisasi tinggi.
  • Melalui nilai-nilai tersebut, Gen Z melanjutkan perjuangan Kartini dengan cara modern—menggunakan teknologi dan kreativitas untuk menciptakan ruang kerja yang inklusif, bermakna, dan berdampak nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Gen Z acapkali dianggap sebagai generasi yang suka semaunya sendiri, kurang tahan tekanan, dan terlalu vokal. Mereka memiliki perbedaan karakter yang kontras dengan generasi sebelumnya, membuat etos kerjanya sering diragukan. Seringkali dianggap sulit diatur karena lebih memprioritaskan kesehatan mental di atas tuntutan pekerjaan.

Namun, cara pandang itu sebenarnya terlalu sempit. Di balik sikap kritisnya, Gen Z justru membawa pendekatan baru pada efektivitas dan dampak nyata. Ada kesamaan etos kerja mereka dengan semangat juang Kartini, seperti keberanian untuk mendobrak tatanan lama yang dianggak tidak relevan saat ini. Keduanya sama-sama menolak tunduk pada keadaan yang stagnan. Mau tau etos kerja apa dari Gen Z yang sejalan dengan R.A Kartini? Yuk simak artikel berikut.

1. Berani menyuarakan ketidakadilan

Ilustrasi menyuarakan keadilan
Ilustrasi menyuarakan keadilan (pexels.com/Edmond Dantès)

Gen Z memiliki keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan yang patut diacungi jempol. Baik melalui utas kritis di media sosial maupun berdialog dengan atasan secara langsung.

Jika dahulu kartini menggunakan surat-suratnya untuk menyampaikan ketidaksetujuannya mengenai adat dan sistem yang tidak adil bagi perempuan, kini Gen Z menggunakan kekuatan digital dan transparansi untuk menyuarakan aspirasinya.

Hal ini merupakan etos kerja yang positif dari gen Z untuk melanjutkan misi emansipasi dan memastikan bahwa setiap individu memiliki hak yang setara dan harus didengar.

2. Lifelong learning, haus akan pengetahuan baru

Ilustrasi terus belajar
Ilustrasi terus belajar (pexels.com/Ivan S)

GenZ memiliki etos kerja lifelong learning atau belajar sepanjang hayat dan haus akan pengetahuan baru. Pada dasarnya setiap harinya kita belajar akan hal baru apalagi di era perkembangan teknologi yang serba cepat ini. Semangat belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan semangat Kartini yang juga memiliki rasa ingin tahu luar biasa meskipun berasa dalam keterbatasan.

Jika zaman dulu Kartini belajar diam-diam untuk menambah pengetahuannya, Gen Z kini memanfaatkan akses digital yang luas untuk mengasah kemampuan mereka. Dengan terus belajar, tanpa disadari Gen Z juga sedang meneruskan perjuangan Kartini.

3. Fleksibel dan bebas berekspresi

Ilustrasi bebas berekspresi
Ilustrasi bebas berekspresi (pexels.com/Anna Shvets)

Etos kerja yang fleksibel dan bebas berekspresi yang dimiliki Gen Z merupakan manifestasi modern dari upaya Kartini di masa lampau dalam mendobrak tradisi "pingitan" yang membatasi potensi diri.

Jika dulu Kartini berjuang melawan kekakuan adat yang membelenggu ruang gerak perempuan, kini fleksibilitas kerja menjadi jalan bagi perempuan untuk keluar dari sistem kerja konvensional yang terlalu kaku. Baik Gen Z maupun kartini sama-sama menginginkan keleluasaan dalam berkarya sehingga mampu menjadi wanita yang produktif dan inovatif.

4. Open minded

Ilustrasi wanita open minded
Ilustrasi wanita open minded (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dibandingkan dengan generasi lain, Gen Z memang termasuk yang paling open minded terhadap berbagai hal. Para Gen Z punya kecenderungan dengan mudah menerima perspektif baru tanpa menghakimu dan tidak segan untuk saling bertukar pikiran dengan kelompok yang berbeda di kantor. Hal ini ditunjukan dengan mereka dengan mudah berdiskusi hangat di sosmed maupun dalam interaksi nyata.

Sama seperti pemikiran Kartini yang melampaui pada masanya. Ia juga merupakan sosok yang open minded yang menolak terpenjara oleh belenggu pemikirian sempit bangsa Indonesia pada saat itu. Ia justru terbuka dengan gagasan-gagasan modern dari luar untuk menjadikan wanita sebagai agen perubahan. Dan terbukti saat ini sudah banyak Gen Z yang bisa jadi agen perubahan itu.

5. Mengutamakan makna dan nilai dalam pekerjaan

Ilustrasi mengutamakan makna
Ilustrasi mengutamakan makna (pexels.com/Kampus Production)

Seringkali dianggap tidak tahan terhadap tekanan kerja karena terlalu sering mengambil keputusan resign, namun sebenarnya Gen Z tidak se cupu itu lho. Mereka tidak semata-mata memiliki etos kerja yang buruk, beberapa alasan utamanya karena adanya ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan makna nilai yang mereka pegang. Mayoritas Gen Z lebih menikmati pekerjaan yang dapat memberikan makna, dihargai, dan bisa memberikan kontribusi yang nyata.

Karakter etos kerja ini berkesinambungan dengan semangat Kartini yang sejak awal menekankan pentingnya makna dalam kehidupan. Kartini tidak sekadar menerima realitas sosial pada masanya, tetapi juga mencari jalan keluar yang lebih bermakna melalui surat-suratnya.

6. Mampu berkolaborasi tanpa pandang bulu

ilustrasi kerja tim
ilustrasi kerja tim (pexels.com/fauxels)

Mampu berkolaborasi tanpa pandang bulu adalah salah satu keunggulan Gen Z. Cenderung tidak terlalu pedui soal jabatan, usia atau latar belakang. Mereka lebih fokus pada ide dan kontribusi yang dilakukan. Pola etos kerja ini mendorong terciptanya lingkungan kerja yang terbuka akan diskusi dan setiap individu merasa nyama untuk berpartisipasi dan berkembang.

Kartini juga berpikiran yang sama pada zaman itu. ia ingin semua orang tanpa memandang gender dan status bisa memiliki kesempatan yang sama dalam belajar, berpendapat, dan berkontribusi untuk semua orang. Semangat itu masih diteruskan hingga saat ini.

7. Rapi dan terorganisir

Ilustrasi data terorganisir
Ilustrasi data terorganisir (pexels.com/Mikhail Nilov)

Etos kerja rapi dan terorganisir yang dimiliki Gen Z terlihat dari cara mereka mengelola pekerjaan secara sistematis dengan bantuan teknologi. Tidak hanya menyelesaikan data, mereka juga mampu memastikan setiap proses terdokumentasi dengan baik dan mudah diakses. Setiap pencatatan dilekola dengan rapi dan terstruktur.

Sama halnya dengan Kartini yang secara konsisten menulis pemikiran-pemikiran visionernya melalui surat dan menyimpan suratnya dengan baik hingga dikemudian hari dapat dijadikan sebuah karya buku yang bisa berdampak luas untuk wanita saat ini.

Banyak semangat etos kerja dari generasi Z yang sejalan dengan semangat perjuangan emansipasi wanita dari R.A Kartini. Dengan keberanian untuk bersuara, kegigihan dalam belajar, serta tekad yang kuat, kita sedang meneruskan semangat perjuangan Kartini. Generasi Z adalah salah satu tombak utama yang akan menentukan arah masa depan bangsa Indonesia nantinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us