Hasil temuan IDN Times menunjukkan bahwa alasan individu bertahan di tengah ketidaknyamanan pekerjaan cukup beragam. Mayoritas responden mengaku lingkungan kerja mereka terasa toxic atau penuh tekanan (39,7 persen). Namun, fenomena job hugging ternyata tidak selalu tumbuh dari tempat kerja yang sepenuhnya tidak nyaman.
Sebanyak 28,5 persen responden mengatakan tempat kerja mereka memang tidak memberikan kepuasan dan tekanan yang dirasakan juga cukup melelahkan, namun ada sebagian lainnya yang menganggap lingkungan kerjanya cukup suportif (26,3 persen). Bahkan, 5,6 persen menilai pekerjaan yang dijalani saat ini sudah ideal untuk mereka. Temuan ini memberi gambaran bahwa keinginan untuk berpindah kerja tidak semata-mata lahir dari lingkungan yang toxic, tetapi juga bisa datang dari berbagai pertimbangan lain.
Jika mengulik dari sisi passion atau tujuan hidup, terlihat adanya jarak antara pekerjaan yang dijalani dan apa yang sebenarnya diinginkan. Mayoritas responden merasa pekerjaan yang mereka lakoni saat ini tidak sepenuhnya sesuai dengan passion (58,1 persen). Di sisi lain, 30,2 persen penjawab menganggap pekerjaan yang sedang dijalani sudah sesuai dengan passion mereka, sedangkan 11,7 persen merasa pekerjaannya sama sekali tidak sejalan dengan tujuan awal karier. Artinya, rasa ingin berpindah kerja tidak selalu muncul karena seseorang membenci pekerjaannya. Bisa jadi, ada pencarian yang lebih personal, seperti keinginan untuk menemukan pekerjaan yang lebih bermakna dan selaras dengan nilai hidup.
Responden bernama Andrian Ilham menilai bahwa job hugging menjadi kondisi yang wajar dialami oleh pekerja. Sebagai pekerja di bidang keuangan dan perbankan, ia juga pernah alami job hugging karena beberapa pertimbangan. Namun, ketika bertahan ia berusaha mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan, mempelajari keterampilan baru, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menambah pengalaman. Langkah ini menjadi persiapan untuknya melakoni jenjang karier baru.
“Berdasarkan pengalaman saya, job hugging adalah hal yang cukup wajar, terutama di tengah kondisi dunia kerja yang penuh ketidakpastian. Saya sendiri pernah memilih untuk tetap bertahan di posisi saya karena mempertimbangkan stabilitas pekerjaan. Bagi saya, keputusan tersebut bukan berarti saya tidak memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi lebih sebagai langkah yang realistis dalam mengelola risiko,” ujarnya.
Lalu, seperti apa rasanya menjalani pekerjaan yang ingin ditinggalkan? Perasaan yang paling dominan dirasakan responden adalah monoton atau sekadar menjalani rutinitas (43,6 persen). Kedua generasi juga mengaku mengalami kelelahan secara emosional saat bekerja (35,2 persen). Sementara, sebagian lainnya merasa kehilangan arah (9,5 persen) dan stres (6,7 persen). Angka-angka ini menunjukkan bahwa job hugging bisa berlangsung dalam kondisi psikologis yang tidak stabil.
Menariknya, beban psikologis yang dipikul gen Z dan Milenial tak menyurutkan perjuangan mereka untuk tetap menuntaskan pekerjaan. Bagi mayoritas responden, belum adanya peluang kerja baru menjadi pertimbangan terbesar, ditambah kekhawatiran terhadap ketidakpastian (62,6 persen). Di sisi lain, 36,3 persen pekerja mengaku tertahan oleh rasa takut yang muncul akibat tekanan sosial. Dengan kata lain, keputusan untuk bertahan tidak selalu berarti seseorang masih ingin berada di sana. Ada kalanya, mereka hanya belum menemukan pijakan yang cukup aman untuk melangkah pergi.
Dilema job hugging semakin terlihat ketika alasan untuk bertahan berhadapan langsung dengan dorongan untuk resign. Meski pekerjaan saat ini membuat mereka ingin pergi, sebagian besar Gen Z dan Milenial sebenarnya mengaku bahwa lingkungan kerja mereka sudah cukup nyaman (21,8 persen). Selain lingkungan kerja, kedua generasi juga beranggapan bahwa gaji yang diterima tergolong cukup besar (20,1 persen) dan ada harapan untuk mengembangkan keterampilan atau mendapatkan peluang kenaikan jabatan (16,2 persen).
Hal ini selaras dengan pandangan responden bernama Dila yang berdomisili di Pulau Jawa. Pekerja di bidang transportasi yang telah menjabat selama 3-4 tahun di posisi tersebut mengaku fenomena job hugging cukup relevan dengan situasi saat ini.
Ia membagikan perspektif, “Menurut saya, fenomena job hugging cukup relevan. Saya tetap bertahan di pekerjaan saat ini karena mempertimbangkan stabilitas penghasilan dan benefit kesehatan. Di sisi lain, saya merasa ada keinginan untuk berkembang dan mencoba tantangan baru. Kondisi tersebut terkadang menimbulkan tekanan serta memengaruhi kesehatan mental karena merasa berada di zona nyaman, tetapi belum sepenuhnya merasa berkembang”.
Padahal, mereka mengaku kondisi mentalnya alami kelelahan meski masih terkendali (53,1 persen). Selain lelah, banyak pekerja juga yang mengaku alami burnout (17,3 persen), bahkan banyak juga yang mengaku alami stres (15,6 persen).
Data di atas menggambarkan kondisi dan pengalaman kerja yang beragam di antara job hugger. Sebagian responden merasa cukup nyaman dengan pekerjaannya, sementara lainnya melihat lingkungan kerja sebagai tempat yang toxic. Persentase ini memotret realitas di dunia pekerja, ketika seseorang terpaksa bertahan di suatu pekerjaan, kemungkinan faktornya tidaklah tunggal, melainkan terdapat banyak pertimbangan. Dengan kata lain, tidak semua orang yang mengalami job hugging sedang berada dalam kondisi menderita dan terpaksa.
Memang, lingkungan kerja yang toxic dan kekhawatiran terhadap ketidakpastian menjadi alasan yang banyak mendapat sorotan. Namun ada sisi lain yang tak kalah menarik, yakni kenyamanan. Aspek kenyamanan juga bisa menjadi alasan seseorang memilih untuk tetap bertahan. Seseorang mungkin merasa pekerjaannya belum sepenuhnya ideal, tetapi gaji yang memadai, kehidupan yang relatif terjamin, lingkungan yang familier, atau ritme kerja yang sudah nyaman membuat keputusan untuk pergi terasa tidak sepadan dengan risikonya.
Persentase ini memotret realitas di dunia pekerja, ketika seseorang terpaksa bertahan di suatu pekerjaan, faktornya tidaklah tunggal. Ada sebagian orang yang memeluk erat pekerjaan ini karena 'terjebak', sebab tidak cukup alasan untuk melepas kenyamanan, ada pula yang beranggapan kondisi pekerjaan ini cukup ideal meski tidak semua aspek terpenuhi secara optimal.
Di titik inilah job hugging menjadi fenomena yang lebih kompleks, bukan sekadar tentang bertahan karena terpaksa, tetapi juga karena berada di zona nyaman dan rasa enggan mendobrak status quo.
Dari sisi psikologis, Hoshael menerangkan,“Ada istilah yang namanya "Borgol Emas" (Golden Handcuffs). Orang-orang ini bukan korban, mereka adalah penikmat stagnasi. Dan ini pun tidak selalu buruk. Dari sisi psikologi positif, jika pekerjaan itu memenuhi kebutuhan dasar akan stabilitas dan relatedness (koneksi sosial), maka ini adalah bentuk flourishing yang sah”.
Hoshael sendiri berpandangan hal semacam ini dapat menjadi berbahaya apabila kenyamanan ini berubah menjadi apathy, di mana seseorang justru tidak lagi berkembang dan mulai mentally rusting (berkarat). Namun selama masih sadar diri, job hugging karena nyaman adalah pilihan gaya hidup, bukan patologi.