Gen Z Ramai Ikut Tren Zero Post, Aktif Main Medsos tapi Ogah Posting

- Tren zero post menggambarkan kebiasaan Gen Z yang tetap aktif di media sosial namun jarang membagikan kehidupan pribadi demi menjaga privasi dan menghindari tekanan publik digital.
- Fenomena ini muncul karena kelelahan terhadap tuntutan tampil sempurna, dominasi algoritma, serta penurunan kualitas platform yang kini lebih berorientasi pada iklan dan konten viral.
- Alih-alih berhenti bermain media sosial, Gen Z beralih ke ruang privat seperti close friends atau grup tertutup untuk interaksi yang lebih nyaman dan minim tekanan mental.
Media sosial dulu identik sebagai tempat berbagi aktivitas sehari-hari. Foto liburan, makanan, pencapaian pribadi, hingga momen bersama teman ramai memenuhi beranda berbagai platform digital. Namun, kebiasaan tersebut perlahan mulai berubah.
Generasi Z (Gen Z) yang dikenal aktif di internet kini justru semakin jarang mengunggah kehidupan pribadi mereka ke media sosial. Meski tetap aktif membuka aplikasi seperti Instagram, TikTok, dan X, banyak generasi muda kini lebih memilih menikmati konten dibanding rutin membuat unggahan. Fenomena ini dikenal dengan istilah zero post.
Tren zero post menggambarkan perubahan cara pengguna menggunakan media sosial. Daripada menjadikan akun sebagai tempat membagikan kehidupan sehari-hari, banyak Gen Z kini lebih memilih menjaga privasi dan membatasi aktivitas di ruang publik digital. Apa yang menarik dari fenomena ini?
1. Apa itu zero post?

Mengutip ThePrint, istilah zero post dipopulerkan oleh penulis The New Yorker, Kyle Chayka, melalui kolom mingguannya bertajuk Infinite Scroll. Istilah ini merujuk pada semakin jarangnya pengguna internet membagikan kehidupan sehari-hari mereka di media sosial. Dalam tulisannya, Chayka mengenang masa ketika media sosial terasa lebih spontan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat itu, platform dipenuhi unggahan sederhana dari pengguna biasa, mulai dari foto sarapan hingga momen berkumpul bersama teman. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Lini masa yang dulu dipenuhi unggahan personal kini lebih banyak berisi video viral, rekomendasi algoritma, iklan, hingga konten berbasis kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini membuat sebagian pengguna merasa media sosial semakin kehilangan sisi personalnya. Seiring itu, platform digital juga semakin berorientasi pada algoritma dan iklan, yang pada akhirnya menggeser fungsi media sosial dari ruang berbagi cerita menjadi ruang berburu perhatian dan keterlibatan (engagement).
2. Gen Z mulai lelah dengan tekanan media sosial

Banyak pengamat menilai tren zero post muncul sebagai bentuk kelelahan Gen Z terhadap dunia digital. Media sosial yang awalnya dirancang untuk membangun hubungan sosial kini justru kerap memunculkan tekanan untuk tampil sempurna di depan publik. Konten yang serba estetik, tuntutan mendapatkan like, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat sebagian pengguna memilih mengurangi unggahan di ruang publik. Istilah enshittification yang diperkenalkan penulis Cory Doctorow pada 2022 juga sering dikaitkan dengan kondisi media sosial saat ini. Istilah ini menggambarkan penurunan kualitas platform digital yang perlahan dipenuhi iklan, influencer, dan konten viral berulang demi mengejar keuntungan.
3. Bukan berhenti main medsos, tapi pindah ke ruang privat

Meski tidak membuat unggahan dan terlihat seperti meninggalkan media sosial, para ahli menilai tren zero post lebih mencerminkan perubahan pola interaksi digital. Pengguna tidak benar-benar berhenti menggunakan media sosial, melainkan mulai beralih ke ruang yang lebih privat. Financial Times melaporkan studi terhadap 250 ribu pengguna yang menunjukkan penggunaan media sosial menurun hampir 10 persen.
Banyak Gen Z kini lebih nyaman berinteraksi lewat fitur seperti close friends, akun kedua, atau grup percakapan tertutup dibanding membuat unggahan publik. Menurut Dr. Aditi Govitrikar, aktris sekaligus aktivis kesehatan mental asal India, tren zero post muncul karena banyak generasi muda mulai lelah dengan tekanan digital. Mereka kini lebih selektif dalam memilih konten yang ingin dilihat maupun dibagikan di media sosial.
4. Apakah zero post baik untuk kesehatan mental?

Psikolog dan konselor Rumah Sakit PSRI, New Delhi, Arpita Kohli, menilai tren zero post dapat membantu mengurangi tekanan untuk mencari validasi dari like dan komentar di media sosial. Namun, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain belum tentu sepenuhnya hilang. Menurutnya, zero post bukan solusi mutlak bagi kesehatan mental, melainkan bentuk adaptasi pengguna terhadap tekanan dunia digital yang semakin padat dan melelahkan.
Gen Z tidak sepenuhnya meninggalkan media sosial. Mereka hanya mulai mengubah cara berinteraksi di internet agar terasa lebih nyaman dan minim tekanan, sejalan dengan tren zero post.



















