Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Pekerjaan yang Dulu Kamu Sukai Sekarang Terasa Melelahkan?

3 min read
Kenapa Pekerjaan yang Dulu Kamu Sukai Sekarang Terasa Melelahkan?
ilustrasi burn out (pexels.com/n-voitkevich)
  • Stres kerja kronis dapat menguras energi, menciptakan jarak mental, dan menurunkan efektivitas profesional hingga memicu burnout.

  • Rasa suka pada pekerjaan bisa terkikis ketika passion berubah menjadi tuntutan dan motivasi lebih berpusat pada target atau imbalan.

  • Perubahan minat, keterampilan, nilai, serta pekerjaan yang monoton atau tidak sesuai dapat membuat pekerjaan terasa semakin melelahkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dulu, kamu mungkin bangun pagi dengan semangat karena akan mengerjakan sesuatu yang benar-benar kamu suka. Tapi entah sejak kapan, pekerjaan yang sama mulai terasa berat. Notifikasi masuk bikin malas, tugas kecil pun kini terasa besar. Ditambah, semangat yang dulu muncul dengan mudah sekarang harus dipaksa.

Kalau kamu sedang merasakannya, itu belum tentu berarti kamu salah jalan atau sudah tidak cinta lagi dengan pekerjaanmu. Ada beberapa penjelasan dari ilmu psikologi yang bisa membantu memahami kenapa rasa suka bisa berubah jadi lelah. Yuk, simak alasannya!

  1. 1. Stres kerja yang menumpuk berubah jadi burnout

    ilustrasi merasa burn out (pexels.com/MART PRODUCTION)
    ilustrasi merasa burn out (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Situs resmi WHO mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang muncul dari stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Ciri-cirinya ada tiga. Pertama, energi terkuras atau kelelahan. Kedua, jarak mental dari pekerjaan atau rasa negatif dan sinis terhadapnya. Ketiga, menurunnya efektivitas profesional. WHO juga menegaskan bahwa burnout bukan kondisi medis dan istilahnya hanya dipakai dalam konteks pekerjaan.

    Itu sebabnya pekerjaan yang dulu kamu sukai bisa terasa asing. Hal ini bukan disebabkan karena pekerjaannya berubah. Hanya saja, tekanan yang menumpuk pelan-pelan membuatmu 'menjaga jarak'. Kalau kamu mulai sinis dan sering kehabisan tenaga, mungkin itu sinyal untuk meninjau ulang beban kerja dan waktu istirahatmu.

  2. 2. Rasa suka bergeser jadi tuntutan

    ilustrasi burn out (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
    ilustrasi burn out (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

    Psikolog Robert Vallerand membedakan dua jenis passion. Menurut ulasan humanistic psychologist Scott Barry Kaufman di Psychology Today, orang dengan harmonious passion merasakan kegembiraan intrinsik dan melihat pekerjaannya selaras dengan aktivitas hidup lain. Sebaliknya, obsessive passion ditandai dorongan kompulsif dan emosi negatif. Kaufman menyebut kuncinya adalah,

    "Kunci untuk menjaga produktivitas kerja sekaligus melindungi diri dari risiko burnout (kejenuhan ekstrem) adalah dengan meningkatkan harmonious passion (gairah kerja yang selaras/sehat) dan mengurangi obsessive passion (gairah kerja yang terobsesi/kompulsif)."

    Dari sisi motivasi, Simply Psychology yang ditulis oleh Charlotte Nickerson, cognitive engineer, menjelaskan bahwa motivasi intrinsik berasal dari kepuasan menjalani prosesnya. Sedangkan motivasi ekstrinsik berorientasi pada hasil seperti uang, nilai, atau pengakuan. Imbalan berwujud seperti uang cenderung lebih melemahkan motivasi intrinsik dibanding imbalan tidak berwujud. Jadi, ketika pekerjaan makin dipandang sebagai alat mengejar target atau gaji, rasa suka yang dulu ada bisa terkikis. Coba ingat lagi bagian pekerjaan yang dulu membuatmu jatuh cinta, lalu cari cara supaya porsinya tidak hilang.

  3. 3. Pekerjaannya tidak lagi cocok dengan minat dan nilaimu

    Ilustrasi burn out (Pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
    Ilustrasi burn out (Pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Kadang, yang berubah justru dirimu. Seiring waktu, minat, keterampilan, dan nilai yang kamu pegang ikut berkembang, sementara pekerjaannya tetap di tempat. Dalam rangkuman penyebab burnout yang mengacu pada Mayo Clinic dan dimuat di American Association for Physician Leadership, ada beberapa faktor yang relevan. Pertama, poor job fit, yaitu pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan keterampilan. Kedua, mismatch in values, yaitu nilai pribadi yang berbeda dengan cara perusahaan menjalankan bisnis atau menangani keluhan. Ketiga, extremes of activity, yaitu pekerjaan yang terlalu lambat, monoton, atau justru terlalu kacau.

    Artikel yang sama juga menyebut perasaan terus-menerus kelebihan beban atau kurang tertantang sebagai pemicu stres yang bisa berujung burnout. Jadi, pekerjaan yang dulu terasa pas bisa pelan-pelan berubah jadi sumber lelah ketika tugasnya terulang tanpa tantangan baru. Atau, saat cara kerja di sekitarmu mulai bertentangan dengan apa yang kamu anggap penting. Kalau ini yang kamu rasakan, coba evaluasi ulang apa yang sekarang kamu cari dari pekerjaan, lalu bicarakan dengan atasan soal peran atau tugas yang lebih sesuai.

    Itu dia beberapa penyebab yang mungkin terjadi jika kamu merasa pekerjaanmu sangat melelahkan, padahal dulu kamu sangat menyukainya. Mana nih yang paling cocok dengan kondisimu?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More