Lingkungan kerja bukan hanya tempat untuk menyelesaikan tugas dan mengejar target. Hubungan dengan rekan kerja, atasan, maupun anggota tim juga ikut menentukan apakah suasana kerja terasa nyaman atau justru penuh tekanan. Konflik kecil sebenarnya merupakan hal yang wajar karena setiap orang memiliki cara berpikir dan gaya komunikasi yang berbeda.
Masalah pun dapat muncul ketika seseorang terus menempatkan dirinya sebagai korban dalam hampir setiap persoalan. Pola tersebut dikenal dengan istilah playing victim dan dapat membuat komunikasi menjadi semakin rumit. Jika berlangsung terus-menerus, perilaku ini bukan hanya memengaruhi satu orang, tetapi juga dapat mengganggu hubungan dalam sebuah tim.
Seseorang yang sedang merasa dirugikan tentu tidak otomatis sedang melakukan playing victim. Ada situasi ketika seseorang memang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan membutuhkan dukungan dari lingkungan kerja. Perbedaannya dapat terlihat dari pola perilaku dan cara seseorang menghadapi tanggung jawab setelah masalah terjadi.
Ketika setiap kritik dianggap sebagai serangan dan kesalahan terus diarahkan kepada orang lain, hubungan kerja bisa menjadi tidak sehat. Rekan kerja pun dapat merasa harus berhati-hati dalam berbicara karena khawatir akan memicu konflik baru. Lantas, kenapa kebiasaan playing victim bisa merusak hubungan di lingkungan kerja?
