Kamu sudah mengirim surat pengunduran diri dan bahkan sudah mendapat pekerjaan baru. Tinggal menunggu hari terakhir di kantor, tiba-tiba atasan mengajak bicara dan menawarkan kenaikan gaji supaya kamu gak jadi pergi. Bukan cuma soal gaji, perusahaan juga bisa menawarkan jabatan baru, bonus, atau janji bahwa masalah yang selama ini dikeluhkan akan segera diperbaiki. Tawaran dari perusahaan kepada karyawan yang hendak resign seperti ini disebut counter offer.
5 Hal yang Sebaiknya Dipikirkan sebelum Terima Counter Offer

- Counter offer dapat berupa kenaikan gaji, jabatan, bonus, atau janji perbaikan. Sebelum menerima, karyawan perlu mengingat alasan awal resign, terutama bila masalahnya bukan sekadar gaji.
- Setiap penawaran perlu diklarifikasi secara rinci dan resmi, mencakup nominal, jabatan, tugas, bonus, serta waktu berlaku. Janji lisan berisiko tidak terealisasi setelah pekerjaan baru ditolak.
- Bandingkan kantor lama dan baru secara menyeluruh, termasuk tunjangan, jam kerja, perjalanan, tugas, serta peluang karier. Keputusan bertahan atau pergi perlu dibuat untuk kebutuhan diri sendiri, bukan rasa tidak enak.
Wajar kalau tawaran tersebut bikin kamu berubah pikiran. Selisih gaji beberapa juta rupiah per bulan, misalnya, memang cukup besar untuk membuat seseorang mempertimbangkan ulang keputusan yang sudah dibuat. Namun, jangan langsung menerima hanya karena tawarannya terlihat menarik. Sebelum terima counter offer, coba pikirkan dulu beberapa hal ini.
1. Sebenarnya kenapa kamu ingin resign?

ilustrasi resign (pexels.com/Mikhail Nilov) Kenaikan gaji memang terdengar menarik, tetapi coba ingat lagi kenapa kamu sampai mencari pekerjaan lain. Kalau sejak awal masalahnya memang gaji, tawaran tersebut mungkin bisa menjadi alasan yang masuk akal untuk bertahan. Ceritanya berbeda kalau kamu resign karena sering lembur, pekerjaan terasa terlalu berat, punya masalah dengan atasan, atau sudah lama ingin pindah bidang.
Kantor dan pekerjaan yang sama tetap menunggumu setelah kenaikan gaji itu. Kamu masih akan bertemu atasan yang sama, mengerjakan tugas yang sama, dan menghadapi persoalan yang sama kalau gak ada perubahan nyata. Jangan sampai beberapa bulan setelah menerima counter offer, kamu kembali merasa ingin resign karena alasan yang dulu belum selesai.
2. Jangan cuma percaya pada janji saat ngobrol

ilustrasi ngobrol (unsplash.com/Praveen Gupta) Atasan mungkin mengatakan gajimu akan naik bulan depan. Bisa juga ada tawaran promosi atau janji bahwa beban kerja akan dikurangi. Sebelum menyetujui, tanyakan semuanya dengan jelas, termasuk nominal gaji baru, jabatan, tugas, bonus, dan kapan perubahan tersebut mulai berlaku.
Kalau memang serius ingin membuatmu bertahan, seharusnya ada penawaran resmi yang bisa kamu pelajari. Jangan sampai kamu sudah menolak pekerjaan baru hanya karena mendapat janji belaka, lalu beberapa bulan kemudian ternyata kenaikan gaji belum juga diberikan. Simpan dokumen atau surat yang menjelaskan perubahan tersebut supaya kamu tahu apa saja yang memang sudah disepakati.
3. Lihat lagi tawaran dari tempat baru

ilustrasi tawaran (vecteezy.com/nateeme) Jangan buru-buru mencoret perusahaan baru hanya karena kantor sekarang tiba-tiba menawarkan gaji lebih banyak. Kamu perlu melihat apa yang sebenarnya ditawarkan oleh kedua tempat tersebut. Gaji tentu penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang akan kamu jalani setelah pindah atau memutuskan untuk bertahan.
Misalnya, kantor sekarang menawarkan tambahan Rp3 juta per bulan. Di tempat baru, gajinya memang lebih kecil, tetapi posisi yang ditawarkan sesuai dengan bidang yang selama ini ingin kamu tekuni dan jam kerjanya juga lebih masuk akal. Coba hitung semuanya dengan teliti sebelum memilih, termasuk tunjangan, bonus, waktu perjalanan, pekerjaan yang akan dikerjakan, dan peluang naik jabatan.
4. Bayangkan kalau enam bulan lagi kamu masih di kantor sekarang

ilustrasi bekerja (pexels.com/Ofspace LLC, Culture) Coba bayangkan rutinitasmu enam bulan setelah menerima counter offer. Kamu masih datang ke kantor yang sama, duduk bersama rekan kerja yang sama, dan mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya membuatmu ingin pergi. Apakah kamu merasa lega karena sudah memilih bertahan atau malah bertanya-tanya kenapa waktu itu gak jadi pindah?
Pertanyaan sederhana ini bisa membantu melihat alasan di balik keputusanmu. Kalau yang membuatmu ingin bertahan cuma kenaikan gaji, sementara persoalan lainnya tetap sama, rasa senang tersebut mungkin gak bertahan lama. Sebaliknya, kalau perusahaan memang memperbaiki hal yang selama ini mengganggu dan pekerjaannya masih sesuai dengan keinginanmu, menerima tawaran tersebut bisa saja menjadi pilihan yang tepat.
5. Jangan bertahan cuma karena gak enak sama kantor

ilustrasi masalah di kantor (pexels.com/Yan Krukau) Terakhir, sebelum kamu terima counter offer, ada baiknya belajar untuk menghilangkan rasa gak enakan dengan kantor. Kalau bisa, tetaplah profesional. Saat tahu kamu mau resign, atasan mungkin bilang tim sedang kekurangan orang. Rekan kerja juga bisa meminta kamu bertahan karena pekerjaan yang selama ini kamu pegang belum ada penggantinya. Mendengar hal seperti itu tentu bisa bikin gak enak hati, apalagi kalau kamu sudah cukup lama bekerja di sana.
Namun, keputusan soal karier tetap perlu kamu ambil untuk dirimu sendiri. Perusahaan bisa mencari orang baru ketika memang membutuhkan. Begitu juga kamu, berhak mencari tempat kerja yang menurutmu lebih cocok. Kalau setelah dipikirkan baik-baik kamu memang masih ingin pergi, gak perlu merasa bersalah hanya karena kantor menawarkan lebih banyak uang agar kamu bertahan.
Tawaran dari kantor lama memang bisa membuat rencana resign yang sudah disusun jadi berantakan. Gaji lebih besar tentu menggoda, apalagi kalau selama ini kamu merasa penghasilan yang diterima belum sepadan dengan tanggung jawab yang kamu emban. Kalau kamu ada di posisi ini, kamu bakal tetap memilih resign atau mulai mempertimbangkan untuk bertahan?
























