sesi tanda tangan bersama penulis dalam acara “Bincang Buku Bersama Penulis: Sebuah Kota, Sebuah Cerita” di KCC Indonesia (Dok. Pribadi/Indiana Malia)
Untuk membuat cerita terasa lebih hidup, Tsugaeda banyak mengamati langsung kehidupan sehari-hari masyarakat Wonju.
Salah satu hal yang membuatnya terkesan adalah transportasi di wilayah yang menurutnya sangat jauh dari gambaran perkotaan. Ia menemukan halte bus lengkap dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan. Bus tetap datang sesuai jadwal meskipun berada di kawasan pedesaan. Pengalaman semacam itu kemudian menjadi bahan untuk menghidupkan latar dalam novel.
“Saya pernah pergi ke pasar yang gak ada turisnya. Ini, kan, wilayah pedesaan banget. Ada halte bus, ada jadwalnya dan on time, saya gak expect ada bus masuk ke pedesaan gitu,” katanya.
Selain pasar tradisional, ia juga kerap mampir ke kedai dan bahkan berkunjung ke rumah petani. Menurutnya, aktivitas tersebut bukan sekadar jalan-jalan, melainkan cara untuk memahami lingkungan tempat cerita berlangsung.
Suatu hari, ketika sedang bersantai, ia melihat banyak pesawat tempur di sekitar kawasan tersebut. Ia kemudian mengetahui bahwa ada pangkalan militer di dekat Wonju yang terkenal karena idol yang sedang menjalani wajib militer. Hal ini membuatnya tertarik menggali dunia K-pop lebih jauh untuk mengembangkan naskah.
Tsugaeda bertanya kepada teman-temannya yang merupakan penggemar K-pop. Ia juga memanfaatkan akses perpustakaan Yonsei University yang diberikan kepada peserta program residensi untuk mencari literatur yang dibutuhkan.
Bagi Tsugaeda, proses menulis Hilang di Wonju menunjukkan bahwa inspirasi tidak selalu datang dari tempat yang sudah dikenal atau dari riset yang direncanakan sejak awal. Wonju, kota yang awalnya bahkan tidak ia kenal justru memberinya bahan untuk membangun sebuah cerita.
Novel Hilang di Wonju mengisahkan Iptu Hani Rustaman, polwan Indonesia yang kariernya sedang di ujung tanduk. Jika bisa membantu memecahkan kasus hilangnya Felisia—gadis dari Jakarta—di Korea, ada harapan jalan hidupnya di kepolisian masih bisa diselamatkan. Namun, kehadiran Hani diremehkan dan ditolak Kepolisian Korea.
Hani tetap memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya. Bersama Detektif Lee Kyungseok—detektif yang ditugaskan untuk mendampinginya—Hani mulai menyusun kepingan petunjuk yang membawa mereka lebih jauh ke dalam labirin teka-teki penyelamatan Felisia. Koper yang sengaja dibuang, rumor Pembunuh Saputangan, hingga ritual angka tujuh yang mengerikan menyadarkan Hani bahwa misi penyelamatan Felisia lebih pelik daripada yang dia bayangkan.