Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Rekomendasi Novel yang Ditulis dengan Format Epistolari
ilustrasi orang berdiskusi tentang buku (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Format epistolari menyajikan cerita melalui surat, catatan harian, atau dokumen, sehingga pembaca dapat merasakan sudut pandang karakter secara lebih personal.
  • The Color Purple mengisahkan perjuangan Celie menghadapi rasisme, patriarki, dan kekerasan; sementara Dracula menampilkan teror Count Dracula lewat surat serta catatan para tokoh.
  • We Need to Talk About Kevin menelusuri refleksi seorang ibu pascatragedi penembakan sekolah, sedangkan The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society berlatar Guernsey setelah Perang Dunia II.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah mendengar novel yang ditulis menggunakan format epistolari? Epistolari adalah teknik penceritaan yang disajikan lewat rangkaian dokumen seperti surat, catatan harian, atau klipping koran. Format ini tentu punya daya tarik tersendiri bagi pembaca. Gaya penulisan epistolari dinilai personal dan membuat pembaca mampu mendalami secara langsung karakternya.

Ada banyak lho novel dengan format epistolari yang populer dengan berbagai macam genre. Nah, kalau kamu penasaran ingin merasakan sensasi membaca cerita lewat kumpulan catatan dan surat, berikut rekomendasi novel berformat epistolari yang wajib masuk daftar bacaanmu tahun ini!

1. The Color Purple karya Alice Walker

cover buku The Color Purple karya Alice Walker (www.amazon.com)

Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1982. Mengangkat isu terkait rasisme dan patriarki, Alice Walker selaku penulis berhasil meraih Pulitzer Prize untuk kategori fiksi tahun 1983 lewat novel ini. The Color Purple menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan Afrika-Amerika bernama Celie.

Sejak usianya masih muda, Celie telah menghadapi kejadian menyesakkan, seperti pelecehan seksual dari ayah tirinya dan menikah dengan pria berperangai kasar bernama Albert. Meski begitu, The Color Purple gak hanya menyoroti terus menerus penderitaan Celie, tetapi juga perjuangannya dan perjalanannya menemukan kekuatan diri. The Color Purple adalah novel yang merepresentasikan perjuangan perempuan untuk mandiri dan sembuh.

2. Dracula karya Bram Stoker

cover buku Dracula karya Bram Stoker (www.amazon.com)

Novel Dracula pertama kali rilis pada tahun 1897. Kemudian, di tahun 2018, novel ini diterbitkan oleh penerbit Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, dalam edisi bahasa Inggris. Novel bergenre horor menegangkan ini berkisah tentang sekelompok orang yang berusaha menghentikan teror vampir, Count Dracula.

Disajikan melalui kumpulan surat dan catatan harian, Dracula karya Bram Stoker memberikan pengalaman membaca yang mencekam bagi pembacanya, sebab para tokoh harus berhadapan dengan kekuatan ghaib. Pengaruh novel ini terhadap representasi vampir dalam budaya Barat amat besar lho. Novel itulah yang membentuk citra vampir seperti yang kita kenal sekarang.

3. We Need to Talk About Kevin karya Lionel Shriver

cover buku We Need to Talk About Kevin karya Lionel Shriver (www.amazon.com)

Selanjutnya adalah novel bergenre psychological thriller berjudul We Need to Talk About Kevin karya Lionel Shriver. Novel ini berkisah tentang Eva Khatchadourian, sosok ibu yang berusaha memahami kehidupannya sebelum dan sesudah putranya bernama Kevin melakukan penembakan massal di sekolah menggunakan panah silang.

Lewat rangkaian surat yang ditujukan kepada suaminya yang terasing, Eva mengenang kembali hubungan dirinya dengan Kevin. Ia mempertanyakan apakah tragedi itu bersumber dari pola asuhnya yang gagal atau memang sifat bawaan sang anak. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 2003 dan telah diadaptasi ke dalam film yang dirilis pada tahun 2011.

4. The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society karya Mary Ann Shaffer

cover buku The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society karya Mary Ann Shaffer (www.amazon.com)

Rekomendasi novel terakhir adalah The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society karya Mary Ann Shaffer. Novel ini tergolong novel sejarah berbentuk epistolari yang berlatar pada tahun 1946, masa setelah Perang Dunia II berakhir. Novel ini menceritakan tentang Juliet Ashton, seorang penulis asal London yang tengah mencari ide untuk buku terbarunya. Secara gak sengaja, Juliet menerima surat dari seorang laki-laki asing asal Pulau Guernsey. Laki-laki itu menemukan nama Juliet tertulis di buku karya Charles Lamb.

Surat-menyurat itu pun berkembang hingga mengenalkan Juliet pada klub buku bernama The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society. Juliet tertarik dengan kisah-kisah tentang perjuangan masyarakat Guernsey bertahan hidup di masa perang lewat surat-surat yang diterimanya. Hal itu lantas membuat Juliet memutuskan untuk pergi ke pulau itu. Novel ini juga sudah diadaptasi ke dalam sebuah film dengan judul sama pada tahun 2018.

Di antara keempat novel tersebut, adakah novel yang sudah pernah kamu baca? Lewat novel berformat epistolari, kita jadi memahami bahwa surat dan catatan pribadi bisa menyampaikan emosi yang mendalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article