Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Rereading Buku Favorit Bisa Bikin Kamu Lebih Tenang

5 Alasan Rereading Buku Favorit Bisa Bikin Kamu Lebih Tenang
ilustrasi membaca buku (pexels.com/RF._.studio _)
  • Membaca ulang buku favorit mengurangi beban dari ketidakpastian cerita karena pembaca sudah mengenal alur, karakter, dan akhir kisah.
  • Cerita yang familier memberi kenyamanan saat stres, sekaligus memungkinkan pembaca menikmati bab favorit serta menangkap detail, simbol, dan sudut pandang yang sebelumnya terlewat.
  • Rereading menjadi jeda tanpa target produktivitas dan dapat menghubungkan pembaca dengan versi dirinya di masa lalu melalui perspektif yang berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada momen ketika kamu sedang tidak ingin membaca buku baru. Bukan karena kehabisan rekomendasi, tapi justru karena pikiran sudah terlalu penuh untuk berkenalan dengan cerita, karakter, dan konflik yang baru. Di momen seperti ini, mengambil novel lama dari rak dan membacanya untuk kesekian kali ternyata bisa terasa jauh lebih nyaman.

Anehnya, meski sudah tahu bagaimana ceritanya berakhir, kegiatan rereading ini tetap bisa memberikan rasa tenang. Bagi sebagian orang, rereading bisa menjadi aktivitas favorit setelah seharian beraktivitas. Lalu, apa yang membuat rereading bisa terasa begitu menenangkan saat sedang stres?

  1. 1. Kamu tidak perlu menghadapi ketidakpastian cerita

    Memegang buku
    ilustrasi memegang buku (pexels.com/ hayriyenur)

    Saat membaca buku baru, ada banyak hal yang belum kamu ketahui. Siapa sebenarnya tokoh yang bisa dipercaya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah konflik akan berakhir bahagia atau malah menyakitkan? Rasa penasaran memang menjadi bagian menarik dari membaca, tapi ketika pikiran sedang lelah, ketidakpastian semacam ini justru bisa bikin tekanan baru.

    Berbeda ketika kamu membuka buku yang sudah pernah dibaca. Kamu sudah tahu jalan ceritanya, kenal karakternya, bahkan mungkin hafal beberapa dialognya. Kamu gak ada tuntutan untuk terus menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Kondisi ini membuat otak tak perlu bekerja keras untuk memproses informasi baru. Kamu bisa membaca dengan lebih santai karena gak sedang memahami dunia cerita dari awal.

  2. 2. Cerita yang sudah familiar bisa memberikan rasa nyaman

    Membaca buku
    ilustrasi perempuan membaca buku (unsplash.com/heftiba)

    Ada alasan mengapa orang suka menonton ulang film atau serial yang sama ketika sedang stres. Hal serupa juga bisa terjadi saat kamu membaca ulang buku favorit. Cerita yang sudah familiar dapat memberikan semacam rasa nyaman karena kamu tahu apa yang akan kamu temui di halaman berikutnya. Tidak ada kejutan besar yang harus diantisipasi.

    Kamu hanya perlu mengikuti alur yang sudah dikenal dan menikmati kembali bagian-bagian yang pernah membuatmu tertawa, dan menangis. Bahkan, terkadang kamu gak perlu membaca seluruh buku. Beberapa orang cukup membuka bab favorit, membaca bagian tertentu, lalu merasa suasana hatinya menjadi lebih baik. Buku itu bukan hanya menjadi bacaan, tapi juga menyimpan kenangan emosional.

  3. 3. Rereading membuatmu bisa menikmati detail yang sempat terlewat

    Membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

    Saat pertama kali membaca sebuah buku, perhatianmu biasanya tertuju pada jalan cerita. Kamu ingin tahu apa yang akan terjadi sehingga terkadang melewatkan detail kecil yang sebenarnya menarik. Ketika rereading, rasa penasaran terhadap akhir cerita sudah berkurang. Kamu tak lagi terburu-buru membalik halaman hanya untuk mengetahui kelanjutannya.

    Di sinilah pengalaman membaca bisa berubah. Kamu mulai memperhatikan cara penulis menggambarkan karakter, simbol tertentu, hubungan antartokoh, atau kalimat-kalimat yang dulu mungkin terlewatkan. Bahkan, karakter yang awalnya kamu benci bisa terlihat berbeda ketika dibaca ulang. Menariknya, buku yang sama bisa memberikan kesan berbeda ketika kamu membacanya di fase kehidupan yang berbeda.

  4. 4. Membaca ulang memberikan waktu untuk gak selalu produktif

    ilustrasi membaca skimming (unsplash.com/thoughtcatalog)
    ilustrasi membaca skimming (unsplash.com/thoughtcatalog)

    Di tengah kesibukan harian yang menuntutmu untuk selalu produktif, membaca untuk kesenangan terkadang dianggap kurang penting. Kamu merasa harus selalu melakukan sesuatu yang menghasilkan. Padahal, otak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Rereading bisa menjadi aktivitas yang tidak menuntut pencapaian tertentu.

    Kamu gak harus selesai satu bab dalam waktu tertentu. Tidak perlu membuat rangkuman. Tidak harus mendapatkan insight baru. Kamu cukup membaca. Justru karena tidak ada target yang harus dicapai, rereading bisa menjadi bentuk istirahat yang menyenangkan. Kamu memberikan izin kepada diri sendiri untuk menikmati sesuatu yang disukai.

  5. 5. Buku lama bisa menghubungkanmu dengan versi diri di masa lalu

    Membaca buku
    ilustrasi membaca (pexels.com/Karola G)

    Setiap kali kamu membaca buku, sebenarnya kamu tak hanya berinteraksi dengan cerita. Kamu juga membacanya sebagai versi dirimu pada saat itu. Karena itu, rereading beberapa tahun kemudian bisa terasa seperti bertemu kembali dengan diri sendiri di masa lalu. Mungkin dulu kamu sangat menyukai karakter tertentu karena merasa punya masalah yang sama.

    Sekarang, setelah melewati berbagai pengalaman, kamu justru lebih memahami karakter lain. Atau mungkin dulu sebuah cerita terasa sangat sedih, tapi sekarang kamu bisa melihatnya dengan perspektif yang lebih tenang. Pengalaman semacam ini dapat membuat rereading terasa emosional sekaligus reflektif.

    Rereading bisa menjadi cara untuk meredakan stres karena menawarkan rasa familiar dan kepastian. Kamu gak perlu menebak akhir cerita, gak harus memahami dunia baru, atau mengejar target tertentu. Cukup membiarkan diri menikmati cerita dengan ritme yang lebih santai. Jadi, apa judul buku favoritmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More