Bukan cuma Kartini, 5 Tokoh Perempuan Ini Juga Berjuang Lewat Tulisan

Rohana Kudus merintis Soenting Melajoe pada 1912 untuk membuka ruang pers perempuan dan mengkritik pergundikan, eksploitasi pekerja, serta ketidakadilan kolonial.
R.A. Lasminingrat menerjemahkan bacaan Belanda ke bahasa Sunda, termasuk Carita Erman dan Warnasari, guna memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat, khususnya perempuan.
Rasuna Said, S.K. Trimurti, dan Suwarsih Djojopuspito memakai pers serta sastra untuk menyuarakan kemerdekaan, keadilan sosial, kesetaraan perempuan, dan peran aktif perempuan dalam perjuangan.
Nama R.A. Kartini tentu sudah gak asing ketika membicarakan perjuangan perempuan Indonesia. Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menyuarakan pemikirannya tentang pendidikan dan kesetaraan perempuan. Namun, tahukah kamu bahwa ada banyak tokoh perempuan lain yang juga menjadikan tulisan sebagai alat perjuangan?
Di tengah keterbatasan akses pendidikan dan kebebasan berpendapat, mereka berani menyampaikan gagasan melalui surat kabar, majalah, hingga karya sastra. Yuk, kenali lima tokoh perempuan Indonesia yang turut mengukir sejarah lewat karya tulisnya!
1. Rohana Kudus, mendirikan surat kabar khusus untuk menyuarakan hak perempuan

Rohana Kudus (1884-1872), tokoh pergerakan perempuan Indonesia sekaligus wartawan perempuan awal Indonesia. (melayuonline.com) Jauh sebelum perempuan memiliki ruang yang luas di dunia jurnalistik, Rohana Kudus sudah lebih dulu menggunakan media massa untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Perempuan asal Sumatra Barat ini memulai kiprahnya sebagai penulis di surat kabar Poetri Hindia, sebelum kemudian ikut merintis Soenting Melajoe pada 1912. Surat kabar tersebut menjadi salah satu pelopor pers perempuan di Indonesia yang memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan pemikiran dan pengalaman mereka.
Perjuangannya juga mencakup berbagai persoalan sosial yang merugikan perempuan. Rohana mengkritik praktik pergundikan, eksploitasi pekerja perempuan, hingga ketidakadilan yang terjadi pada masa kolonial. Baginya, kemampuan membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan bekal agar perempuan bisa memperjuangkan nasibnya sendiri.
2. R.A. Lasminingrat, memperluas akses pengetahuan melalui buku terjemahan
![Raden Ayu Lasminingrat [nomor tiga dari kiri]](https://image.idntimes.com/post/20201111/raden-ayu-06f2c25873390b6c76800adb962353cc.png)
Raden Ayu Lasminingrat [nomor tiga dari kiri]. (pustaka.unpad.ac.id) Perjuangan melalui tulisan gak selalu harus berupa kritik terhadap pemerintah atau kondisi sosial. Raden Ayu Lasminingrat membuktikan bahwa menerjemahkan buku juga bisa menjadi langkah penting untuk memajukan pendidikan masyarakat, khususnya perempuan. Tokoh asal Garut ini dikenal sebagai salah satu perempuan pribumi yang menguasai bahasa Belanda pada masa ketika kesempatan memperoleh pendidikan masih sangat terbatas.
Lasminingrat menerjemahkan berbagai cerita dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda agar lebih mudah dipahami pembaca lokal. Beberapa karyanya antara lain Carita Erman dan Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng. Melalui buku-buku tersebut, Lasminingrat membantu memperkenalkan bacaan dan pengetahuan kepada masyarakat yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap literatur berbahasa asing.
3. Rasuna Said, menggunakan tulisan untuk melawan penjajahan

Foto pahlawan nasional HR Rasuna Said (https://direktoratk2krs.kemsos.go.id/) Rasuna Said mungkin lebih dikenal sebagai orator yang berani menyampaikan kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun, perjuangannya ternyata gak berhenti di atas mimbar pidato. Tokoh asal Sumatra Barat ini juga aktif di dunia pers untuk menyebarkan gagasan mengenai kemerdekaan, pendidikan, dan kesetaraan perempuan.
Rasuna pernah memimpin majalah Raya dan kemudian Menara Putri di Medan. Melalui media tersebut, ia menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus membahas persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Tulisan-tulisannya dikenal tegas dan berani, sejalan dengan sikap politiknya yang menentang penjajahan. Baginya, pena dan pidato sama-sama menjadi sarana untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa.
4. S.K. Trimurti, berani mengkritik ketidakadilan lewat dunia jurnalistik

S. K. Trimurti (IDN Times/Sukma Shakti) S.K. Trimurti merupakan salah satu tokoh perempuan yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat dunia jurnalistik. Ia pernah memimpin sejumlah media, termasuk Pesat dan Mawas Diri. Melalui media tersebut, Trimurti turut menyebarkan gagasan tentang kemerdekaan, keadilan sosial, dan hak-hak masyarakat.
Perempuan bernama lengkap Surastri Karma Trimurti ini dikenal berani menyuarakan kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda melalui tulisan-tulisannya. Ia juga aktif mengangkat berbagai persoalan sosial, termasuk ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dan pekerja. Keberaniannya dalam menyampaikan pemikiran membuat Trimurti menjadi salah satu sosok penting dalam sejarah pers Indonesia.
5. Suwarsih Djojopuspito, menghadirkan suara perempuan dalam sastra perjuangan

Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito (dok. Penerbit Djambatan/Manusia Bebas) Ketika banyak karya sastra menempatkan perempuan hanya sebagai tokoh pendamping, Suwarsih Djojopuspito justru menghadirkan karakter perempuan yang aktif menentukan jalan hidupnya sendiri. Penulis ini dikenal melalui novel Buiten het Gareel yang terbit dalam bahasa Belanda pada 1940 dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Manusia Bebas.
Tokoh-tokoh perempuan dalam ceritanya digambarkan memiliki pemikiran, cita-cita, serta keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakini. Suwarsih seolah ingin menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam sejarah kemerdekaan, melainkan individu yang juga memiliki suara dan pilihan.
Itu tadi lima tokoh perempuan lain selain Kartini yang berjuang lewat karya tulisnya. Siapa yang paling menginspirasi kamu?















![[MADING] STOP PERUNDUNGAN MULAI DARI KITA. Mengenal, Mencegah, dan Mengatasi Seluruh Bentuk Kekerasan dan Perundangan di Lingkungan Remaja](https://image.idntimes.com/post/20261107/img-20261106-wa0019_63b85599-68ca-4254-8195-2075dc7f6f36.jpg)






