Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Mengatasi Kurangnya Konsentrasi Siswa di Era Digital?
ilustrasi kurang konsentrasi (pexels.com/Ron Lach)

Perkembangan teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Digitalisasi menghadirkan berbagai kemudahan yang membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan, termasuk memberikan akses informasi dan sumber pembelajaran yang lebih luas bagi siswa.

Namun, kemudahan tersebut juga berjalan beriringan dengan meningkatnya penggunaan perangkat digital dan screen time, terutama di kalangan siswa. Paparan terhadap berbagai konten digital dapat membuat siswa lebih mudah terdistraksi dan kesulitan mempertahankan fokus saat belajar. Lantas, bagaimana cara membantu meningkatkan konsentrasi siswa di era digital? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Terapkan pembelajaran mikro (microlearning)

ilustrasi microlearning (freepik.com/jcomp)

Microlearning atau pembelajaran mikro dapat menjadi salah satu metode yang diterapkan untuk membantu meningkatkan konsentrasi siswa. Metode ini dirancang untuk mengatasi rentang perhatian yang pendek dengan memberikan materi dalam modul pembelajaran singkat yang berfokus pada satu topik atau konsep tertentu.

“Metode ini memungkinkan siswa untuk fokus pada satu ide dalam satu waktu, memanfaatkan puncak perhatian mereka sekitar 15 menit dan meningkatkan daya ingat,” jelas Ivet Cano Boada, manajer marketing, dilansir Seven Education.

Dengan materi yang lebih singkat dan spesifik, siswa dapat lebih mudah mempertahankan perhatian tanpa merasa terbebani oleh informasi yang terlalu banyak dalam satu waktu.

2.Gunakan pembelajaran berbasis tantangan

ilustrasi belajar (pexels.com/Min An)

Pembelajaran berbasis tantangan atau challenge-based learning (CBL) dapat menjadi cara lain untuk membantu siswa mempertahankan fokus selama proses belajar. Dalam metode ini, siswa diberikan sebuah tantangan atau tujuan yang perlu diselesaikan sehingga mereka terdorong untuk terlibat secara aktif, baik secara intelektual maupun emosional.

“Jika ingin memperkenalkan CBL, buatlah unit pembelajaran di mana kamu menjelaskan dengan jelas apa saja yang akan menjadi tantangan, tahapannya, bagaimana siswa harus bekerja, dan sebagainya,” tambah Ivet.

Adanya tujuan yang jelas dapat membuat siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan setiap tahapan sehingga perhatian mereka tetap terarah pada proses pembelajaran.

3. Lakukan aktivitas sederhana untuk membantu pikiran tetap aktif

ilustrasi para remaja yang fokus melakukan aktivitas positif (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Rebecca Shapiro, penulis dan mantan konselor perguruan tinggi, dikutip dari Columbia Magazine, merekomendasikan aktivitas sederhana yang dapat membuat pikiran tetap terlibat, seperti merajut, berkebun, atau bermain game sederhana. Aktivitas tersebut dapat membantu otak tetap aktif sekaligus memberikan kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat sejenak dari tugas utama.

“Dengan menerapkan aktivitas hafalan sederhana dapat meningkatkan pemikiran divergen atau kreatif, karena aktivitas ini menjaga otak tetap aktif sambil memungkinkan pikiran kita untuk mengembara,” ungkapnya.

Meski begitu, aktivitas tersebut tetap perlu dilakukan dengan batas waktu yang jelas agar siswa dapat kembali berkonsentrasi pada tugas atau pembelajaran utama.

4. Terapkan pembelajaran visual, cerita, dan gerakan

ilustrasi metode pembelajaran visual (pexels.com/Liza Summer)

Penggunaan materi pembelajaran yang terlalu banyak teks dapat membuat siswa lebih cepat kehilangan perhatian. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan visual, diagram, cerita, contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, serta gerakan untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan dinamis.

“Manfaatkan ekspresi wajah dan gerakan tangan untuk menciptakan kehadiran yang lebih dinamis di layar. Selain itu, dapat mendorong gerakan dengan memasukkan jeda peregangan singkat atau aktivitas berdiri, terutama untuk siswa muda,” ucap Ellier Leng, guru ilmu pengetahuan dan bahasa sekolah menengah atas, dilansir Latin Hire.

Variasi dalam penyampaian materi dapat membantu siswa tetap terlibat dan tidak mudah kehilangan fokus selama pembelajaran berlangsung. Di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi, penggunaan perangkat digital memang sulit dipisahkan dari aktivitas belajar siswa.

Namun, hal tersebut perlu diimbangi dengan metode pembelajaran yang mampu mempertahankan perhatian mereka agar teknologi tidak justru menjadi sumber distraksi. Dengan menerapkan microlearning, pembelajaran berbasis tantangan, aktivitas sederhana, serta pendekatan visual dan interaktif, proses belajar dapat menjadi lebih menarik sekaligus membantu siswa menjaga konsentrasinya di era digital.

Curated For You

Editorial Team

Related Article