Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merdeka Finansial dengan Gaji UMR, Apakah Realistis?
ilustrasi gaji UMR (vecteezy.com/Miftachul Huda)
  • Merdeka finansial dengan gaji UMR dimulai dari menghitung sisa penghasilan setelah kebutuhan wajib, lalu menetapkan tabungan sesuai kondisi pribadi tanpa membandingkan nominal dengan orang lain.
  • Penghematan realistis dilakukan lewat perubahan kecil yang konsisten, sementara dana darurat dibangun bertahap di rekening terpisah agar kebutuhan mendadak tidak langsung memicu utang.
  • Investasi nominal kecil bermanfaat setelah kebutuhan utama dan dana darurat lebih aman; ketika penghematan terbatas, tambahan penghasilan dapat memperluas ruang tabungan dan investasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gaji setara UMR sering kali harus dibagi untuk banyak kebutuhan sekaligus, mulai dari tempat tinggal, makan, transportasi, tagihan, sampai kebutuhan keluarga. Setelah semua pengeluaran wajib dibayar, uang yang tersisa mungkin tidak banyak sehingga rencana menabung atau berinvestasi terasa seperti sesuatu yang sulit dilakukan.

Kondisi tersebut membuat istilah "merdeka finansial" terdengar seperti target yang muluk-muluk. Padahal, kondisi keuangan yang lebih mandiri tidak selalu dimulai dari nominal gaji yang tinggi. Lalu, seberapa realistis sebenarnya merdeka finansial jika penghasilan masih setara UMR?

1. Hitung dulu berapa uang yang benar-benar tersisa setiap bulan

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Pembicaraan soal merdeka finansial sering terdengar tidak realistis ketika seseorang disarankan langsung menabung 20 persen atau 30 persen dari gaji, padahal kebutuhan dasarnya saja sudah mengambil sebagian besar pendapatan. Karena itu, titik awalnya bukan menentukan berapa persen uang yang harus ditabung, melainkan melihat kondisi keuangan secara apa adanya. Catat penghasilan bersih yang benar-benar masuk rekening, kemudian kurangi biaya kos atau kontrakan, makan, transportasi, listrik, internet, cicilan, dan kebutuhan rutin lainnya.

Misalnya, seseorang menerima gaji bersih Rp3,5 juta dan harus membayar kos Rp800 ribu, transportasi Rp400 ribu, makan Rp1,2 juta, serta tagihan dan kebutuhan lain Rp600 ribu. Sisa uangnya sekitar Rp500 ribu per bulan, sehingga memaksakan tabungan Rp1 juta jelas tidak masuk akal. Namun, Rp200 ribu atau Rp300 ribu masih mungkin dipisahkan jika pengeluaran lain dapat dikendalikan, sementara sisanya tetap digunakan sebagai ruang untuk kebutuhan tidak terduga.

Perhitungan sederhana seperti ini penting karena kondisi setiap pekerja berbeda meskipun sama-sama menerima UMR. Pekerja yang tinggal bersama orangtua mungkin bisa menyisihkan lebih banyak, sedangkan orang yang harus membayar kos dan membantu keluarga bisa saja hanya memiliki sisa beberapa ratus ribu rupiah. Jadi, ukuran keberhasilan bukan seberapa besar nominal yang berhasil ditabung orang lain, tetapi apakah kondisi keuanganmu mulai membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

2. Jangan memaksakan gaya hidup hemat yang malah bikin gagal konsisten

ilustrasi hemat (pexels.com/www.kaboompics.com)

Mengurangi pengeluaran memang bisa memperbesar sisa uang, tetapi tidak semua penghematan masuk akal untuk dilakukan. Kalau setiap hari harus menghilangkan kebutuhan yang sebenarnya masih terjangkau hanya demi mengejar target tabungan, rencana tersebut justru lebih sulit dipertahankan. Penghematan yang realistis biasanya berasal dari pengeluaran yang sering dilakukan tanpa disadari, seperti terlalu sering memesan makanan, membeli barang karena diskon, berlangganan layanan yang jarang digunakan, atau menggunakan transportasi yang lebih mahal padahal ada pilihan lain.

Contohnya, mengurangi pesan makanan dari empat kali menjadi dua kali seminggu bisa memberikan tambahan uang tanpa mengubah seluruh kebiasaan makan. Begitu juga dengan membawa bekal beberapa kali dalam seminggu, memilih transportasi umum untuk rute tertentu, atau menetapkan batas belanja bulanan. Jika dari perubahan kecil tersebut terkumpul tambahan Rp150-Rp300 ribu, uang tersebut bisa langsung dipindahkan ke rekening terpisah setelah menerima gaji.

Cara seperti ini lebih realistis dibandingkan membuat anggaran yang terlalu ketat sejak awal. Kamu tetap memiliki uang untuk menikmati hasil kerja, tetapi jumlahnya sudah ditentukan sehingga tidak mengambil jatah kebutuhan lain. Kalau suatu bulan ada pengeluaran mendadak, target menabung juga dapat disesuaikan tanpa menganggap seluruh rencana keuangan telah gagal.

3. Dana darurat tidak harus langsung belasan juta

ilustrasi dana darurat (unsplash.com/Miles Burke)

Bagi pekerja dengan gaji UMR, target dana darurat sering terasa berat karena angka yang digunakan dalam berbagai panduan bisa mencapai beberapa kali pengeluaran bulanan. Masalahnya, seseorang yang baru mulai menabung mungkin bahkan belum mempunyai uang cadangan sebesar satu juta rupiah. Daripada menjadikan target akhir sebagai syarat untuk mulai, lebih masuk akal jika dana tersebut dibangun secara bertahap.

Misalnya, kamu hanya mampu menyisihkan Rp250 ribu saja setiap bulan. Dalam empat bulan, sudah ada Rp1 juta yang bisa menjadi cadangan awal. Setelah itu, target dapat dinaikkan secara bertahap menjadi Rp2 juta, Rp3 juta, dan seterusnya sesuai kondisi pengeluaran serta jumlah tanggungan. Jika suatu saat mendapatkan uang lembur, bonus, THR, atau pemasukan tambahan, sebagian dapat dimasukkan ke dana tersebut agar pertumbuhannya lebih cepat.

Dana darurat juga sebaiknya tidak dicampur dengan rekening yang digunakan untuk belanja sehari-hari. Pemisahan sederhana ini membuat uang cadangan tidak mudah terpakai untuk kebutuhan yang sebenarnya masih bisa ditunda. Setelah jumlahnya mulai terbentuk, kamu akan memiliki sedikit ruang ketika terjadi pengeluaran mendadak sehingga tidak langsung mengandalkan kartu kredit, paylater, atau pinjaman.

4. Investasi Rp100 ribu tetap berguna, tetapi jangan berharap cepat kaya

ilustrasi uang (unsplash.com/Muhammad Daudy)

Memulai investasi dengan nominal kecil memang memungkinkan, tetapi ada hal yang perlu dibuat realistis sejak awal misal investasi Rp100 ribu per bulan, tidak akan membuat seseorang mendadak kaya dalam waktu singkat. Nilai utamanya justru terletak pada kebiasaan menyisihkan uang dan memberikan waktu bagi aset untuk berkembang. Semakin kecil modal awal, semakin panjang pula waktu yang biasanya dibutuhkan untuk membangun nilai investasi yang berarti.

Misalnya, jika setelah kebutuhan utama dan dana darurat mulai aman kamu mampu menginvestasikan Rp200 ribu setiap bulan, fokus awalnya bukan mengejar keuntungan besar. Karena yang lebih penting adalah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan dan memahami bahwa setiap investasi memiliki risiko. Uang yang kemungkinan digunakan dalam waktu dekat, sebaiknya tidak ditempatkan pada instrumen yang nilainya bisa turun tajam ketika sedang kamu butuhkan.

Nominal investasi juga bisa dinaikkan ketika penghasilan bertambah. Jika awalnya hanya mampu menyisihkan Rp200 ribu, kemudian mendapat kenaikan gaji dan memiliki tambahan ruang Rp300 ribu, sebagian kenaikan tersebut dapat dialihkan ke investasi. Dengan cara ini, jumlah investasi berkembang mengikuti kemampuan finansial, bukan dipaksakan sejak awal sampai mengganggu kebutuhan sehari-hari.

5. Kalau penghasilan mentok, yang perlu diubah bukan cuma pengeluaran

ilustrasi penghasilan (pexels.com/Moon Bhuyan)

Ada batas tertentu dalam berhemat ketika sebagian besar pendapatan memang sudah habis untuk kebutuhan dasar. Seseorang bisa mengurangi jajan, membatasi hiburan, dan memilih transportasi yang lebih murah, tetapi penghematan tersebut tetap memiliki batas. Kalau penghasilan Rp3,5 juta dan kebutuhan wajib sudah mencapai Rp3 juta, mencari tambahan ruang Rp1 juta dari pengeluaran tentu jauh lebih sulit dibandingkan mencari tambahan pemasukan.

Karena itu, meningkatkan penghasilan bisa menjadi bagian penting dari perjalanan menuju kondisi finansial yang lebih kuat. Tidak harus langsung membuka bisnis besar karena tambahan Rp500 ribu-Rp1 juta per bulan saja sudah dapat mengubah ruang keuangan seseorang. Pekerjaan lepas, jasa desain, menulis, mengajar, menjual makanan, menjadi reseller, mengambil pekerjaan akhir pekan, atau mencari pekerjaan baru dengan gaji lebih tinggi bisa dipertimbangkan sesuai keterampilan dan waktu yang tersedia.

Tambahan penghasilan tersebut juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai uang untuk menaikkan gaya hidup. Misalnya, dari tambahan Rp800 ribu per bulan, Rp500 ribu dapat digunakan untuk memperkuat tabungan atau investasi sementara Rp300 ribu menjadi tambahan uang yang bisa dinikmati. Ketika penghasilan utama kemudian naik, pola yang sama bisa diterapkan sehingga peningkatan pendapatan benar-benar membuat kondisi finansial lebih longgar, bukan sekadar membuat pengeluaran ikut membesar.

Merdeka finansial dengan gaji UMR mungkin tidak terlihat seperti gambaran hidup tanpa pekerjaan atau memiliki aset miliaran rupiah dalam waktu singkat. Bentuknya bisa jauh lebih sederhana, seperti tidak lagi panik ketika ada kebutuhan mendadak, punya pilihan ketika pekerjaan terasa tidak cocok, atau mampu mengambil keputusan penting tanpa harus mencari pinjaman. Kalau kondisi keuanganmu sekarang belum memungkinkan untuk mengejar target besar, mungkin pertanyaannya bukan “kapan bisa merdeka finansial?”, tetapi “berapa banyak uang yang bisa mulai kamu sisihkan dari gaji bulan ini?”

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article