"Konsumen juga perlu (berhati-hati)-terutama saat menggunakan media sosial untuk berhenti sejenak ketika melihat sesuatu yang memancing emosi mereka. Baik itu emosi negatif maupun positif, luangkan waktu sejenak untuk merenung: apa sebenarnya dari informasi ini yang membuat saya kesal? Mengapa saya ingin membagikannya kepada orang lain? Selain itu, pahamilah bahwa jika Anda membagikannya, maka sampai tingkat tertentu Anda turut bertanggung jawab atas penyebaran informasi yang keliru," kata psikolog Chrysalis Wright, PhD, dikutip dari American Psychological Association(APA).
5 Red Flags Konten Viral yang Sebaiknya Jangan Langsung Percaya

Media sosial membuat informasi bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Satu unggahan bisa mendapatkan ribuan komentar dan dibagikan berkali-kali hanya dalam beberapa jam. Namun, viral bukan berarti valid. Konten yang banyak ditonton atau dibicarakan tetap bisa mengandung informasi yang keliru, dipotong dari konteks, bahkan sengaja dibuat untuk memancing emosi.
Masalahnya, kita kadang tidak selalu memproses informasi secara hati-hati ketika sedang terburu-buru, emosional, atau merasa sudah mengenal sumbernya. Jadi ada baiknya kamu mengenali tanda bahaya atau red flags sebelum ikut menekan tombol share.
1. Judulnya terlalu sensasional dan bikin emosi

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio) Salah satu tanda yang patut dicurigai adalah judul yang sengaja dibuat sangat dramatis. Misalnya, menggunakan kata-kata seperti “TERNYATA SELAMA INI…”, “WAJIB TAHU!”, “BONGKAR FAKTA SEBENARNYA!”, atau “JANGAN SAMPAI KAMU MENYESAL!”. Judul semacam ini tidak otomatis berarti informasi tersebut palsu, tetapi seharusnya membuat kita lebih berhati-hati.
Ia menjelaskan bahwa kita perlu bertanya mengapa informasi tersebut membuat kita marah atau terganggu sebelum memutuskan untuk membagikannya. Jadi, semakin sebuah konten membuat kamu ingin langsung marah, takut, atau ikut heboh, semakin penting untuk berhenti dan memeriksa faktanya.
2. Tidak ada sumber yang jelas atau sumbernya berputar-putar

ilustrasi seseorang yang sedang bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska) Konten viral juga patut dicurigai ketika menyampaikan klaim besar tetapi tidak memberikan sumber yang bisa diperiksa. Kalimat seperti “menurut penelitian terbaru”, “kata para ahli”, atau “diberitakan media asing” seharusnya tidak langsung dipercaya kalau tidak ada nama penelitian, ahli, media, atau tautan yang bisa ditelusuri.
Oleh karena itu, jangan berhenti pada akun yang pertama kali membagikan informasi. Coba cari klaim tersebut di mesin pencari dan lihat apakah ada sumber independen yang mengonfirmasinya. Kalau sumbernya tidak jelas dan tidak bisa diverifikasi, lebih baik jangan ikut menyebarkannya.
3. Foto atau videonya tidak jelas asal-usulnya

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio) Visual sering membuat sebuah informasi terasa lebih meyakinkan. Ketika sebuah unggahan disertai foto atau video yang terlihat dramatis, kita bisa langsung menganggap visual tersebut sebagai bukti. Padahal foto yang nyata atau bahkan asli, belum tentu digunakan dalam konteks yang benar.
Foto lama bisa digunakan untuk peristiwa baru, video dari negara lain bisa diberi lokasi berbeda, atau potongan video dapat dipakai tanpa konteks lengkap. Jadi kita perlu lebih bijak dalam menggunakan internet dan perlu melakukan pengecekan secara lateral, bukan hanya membaca halaman yang pertama kali ditemukan.
"Kita berada dalam situasi yang serba berlimpah. Langkah pertama dalam berpikir kritis adalah menentukan apakah objek pemikiran tersebut layak untuk dipikirkan. Jika kamu tidak mengetahui apa itu sebuah organisasi atau dari mana asal informasinya, manfaatkanlah internet untuk memperoleh konteks,” kata Sam Wineburg, PhD, professor emeritus di bidang pendidikan dalam wawancaranya bersama Stanford University Report.
Prinsip tersebut juga bisa diterapkan pada foto dan video. Coba cari kata kunci yang berkaitan dengan peristiwa, cek tanggal unggahan, cari versi video yang lebih panjang, atau gunakan pencarian gambar untuk melihat apakah foto tersebut pernah muncul sebelumnya. Jangan menganggap visual sebagai bukti final sebelum mengetahui asal-usulnya.
4. Informasinya terlalu cocok dengan apa yang sudah kamu percaya

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska) Sebuah konten bisa tampak sangat meyakinkan karena isinya sesuai dengan pandangan atau keyakinan yang sudah kita miliki. Ketika menemukan informasi yang mendukung pendapat sendiri, kita cenderung lebih mudah menerima dan membagikannya tanpa melakukan pemeriksaan sedalam ketika menemukan informasi yang berlawanan.
"Orang cenderung lebih mungkin menyebarkan misinformasi jika informasi tersebut selaras dengan identitas pribadi atau norma sosial, bersifat baru, serta memicu emosi yang kuat," demikian laporan APA.
"Faktor-faktor psikologis berperan besar dalam proses ini: orang cenderung lebih mungkin menyebarkan misinformasi jika informasi tersebut selaras dengan identitas pribadi atau norma sosial, bersifat baru, serta memicu emosi yang kuat," lanjutnya.
Jadi, coba lakukan pemeriksaan yang sama terhadap informasi yang kamu sukai maupun yang kamu tidak sukai. Jangan hanya mencari sumber yang membenarkan pendapatmu. Justru cari apakah ada sumber kredibel yang memberikan konteks berbeda atau menunjukkan kelemahan dari klaim tersebut.
5. Kontennya seakan mendesak kamu untuk segera membagikan

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL) Dorongan untuk segera bertindak dapat membuat kita melewati proses sederhana untuk mengecek apakah informasi tersebut benar. Penelitian Gordon Pennycook dan David G. Rand menemukan bahwa mengarahkan perhatian pengguna pada akurasi dapat mengurangi penyebaran misinformasi.
"Intervensi yang mengalihkan perhatian pengguna pada konsep akurasi merupakan pendekatan yang menjanjikan untuk mengurangi penyebaran misinformasi secara daring," jelasnya dalam studi Accuracy prompts are a replicable and generalizable approach for reducing the spread of misinformation Nature.
Dalam meta-analisis terhadap 20 eksperimen dengan total 26.863 partisipan, Gordon Pennycook dan David G menemukan bahwa intervensi yang membuat orang lebih memperhatikan akurasi/keakuratan meningkatkan kualitas keputusan berbagi informasi. Hal ini membantu pengguna internet menyebarkan misinformasi.
"Secara keseluruhan, dorongan terkait akurasi meningkatkan kualitas berita yang dibagikan oleh pengguna (kemampuan memilah informasi saat berbagi)," jelasnya.
Jadi, ketika sebuah konten seakan mendesak kamu untuk segera membagikannya, sebaiknya perlambat prosesnya. Baca ulang judul, cari sumber asli, periksa tanggal dan konteks, bandingkan dengan sumber kredibel, lalu tanyakan apakah ada bukti yang benar-benar mendukung klaim tersebut.
Lima tanda tersebut pada dasarnya mengajarkan satu kebiasaan sederhana: jangan biarkan kecepatan media sosial menentukan seberapa cepat kamu percaya. Judul yang terlalu emosional, sumber yang tidak jelas, visual tanpa konteks, informasi yang terlalu sesuai dengan keyakinan sendiri, dan ajakan untuk segera membagikan adalah sinyal untuk berhenti sejenak.






















