Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠AI Makin Canggih, Skill Anak Humaniora Justru Makin Relevan?
Ilustrasi mahasiswa humaniora (pexels.com/Armin Rimoldi)
  • AI mempercepat tugas teknis, tetapi kemampuan berpikir kritis tetap penting untuk memeriksa kebenaran, relevansi, sumber pembanding, dan konteks dari respons yang dihasilkan teknologi.
  • Pemahaman atas sejarah, budaya, emosi, pengalaman, dan konteks sosial tetap dibutuhkan untuk menggunakan AI secara tepat, termasuk saat menyusun pesan bagi audiens tertentu.
  • Storytelling dan kreativitas manusia tetap bernilai karena manusia menentukan ide, memahami audiens, mengembangkan kemungkinan dari AI, serta memberi makna pada pesan yang disampaikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemampuan menggunakan artificial intelligence (AI) kini perlahan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, sampai mencari ide, berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Perkembangan ini kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa semakin pintar AI, semakin sedikit pula ruang bagi kemampuan manusia, termasuk kemampuan yang selama ini dipelajari di bidang humaniora.

Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ketika AI semakin mampu mengerjakan tugas yang bersifat teknis, kemampuan seperti berpikir kritis, memahami manusia dan konteks, hingga kreativitas justru menjadi semakin penting. Kemampuan itu memang tidak hanya dimiliki mahasiswa jurusan humaniora, tetapi proses belajar di bidang humaniora banyak melatih kemampuan serupa.

1. Critical thinking makin dibutuhkan

ilustrasi critical thinking skill (pexels.com/Pixabay)

AI memang bisa memberikan jawaban dengan cepat, tetapi pengguna tetap perlu memastikan apakah jawaban tersebut benar, relevan, dan sesuai dengan konteks. Pasalnya, kemampuan menghasilkan respons bukan berarti AI selalu memahami persoalan secara utuh.

Kemampuan mempertanyakan informasi, mencari sumber pembanding, dan menyusun argumen menjadi semakin penting ketika seseorang menggunakan AI. Hal ini sebenarnya cukup dekat dengan aktivitas yang dilakukan mahasiswa humaniora, seperti membaca berbagai perspektif, menganalisis teks, mempertanyakan argumen, dan membangun pendapat berdasarkan bukti.

Menurut Alexa Alice Joubin, English professor dan co-director Digital Humanities Institute di George Washington University, “AI dapat menyimulasikan kefasihan, tetapi pada dasarnya tidak berpikir. Pendidik perlu memastikan mahasiswa memahami keterbatasannya dan belajar mengajukan pertanyaan yang lebih baik,” dilansir News Wise.

Dengan begitu, AI bukan berarti membuat kemampuan berpikir kritis menjadi tidak diperlukan. Justru semakin mudah mendapatkan jawaban, semakin penting kemampuan untuk menentukan apakah jawaban tersebut layak dipercaya atau tidak.

2. Kemampuan memahami manusia dan konteks gak bisa mengandalkan AI

ilustrasi mahasiswa (pexels.com/Keira Burton)

AI dapat memproses informasi dalam jumlah besar, tetapi kemampuan memahami manusia tidak hanya berkaitan dengan data. Ada sejarah, budaya, pengalaman, emosi, hingga konteks sosial yang ikut membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak. Kemampuan memahami manusia dan sebuah konteks menjadi relevan dalam berbagai pekerjaan. Misalnya, AI bisa membantu membuat materi kampanye, tetapi manusia tetap perlu memahami siapa audiensnya dan bagaimana sebuah pesan dapat diterima oleh kelompok tertentu.

Di sinilah perspektif humaniora bisa menjadi bekal. Mempelajari sastra, filsafat, atau ilmu sosial maupun politik membuat seseorang terbiasa melihat persoalan melalui lebih dari satu sudut pandang. Kemampuan memahami konteks tersebut dapat membantu seseorang menggunakan teknologi dengan lebih tepat, bukan sekadar mengandalkan hasil yang diberikan AI.

3. Storytelling dan kreativitas semakin bernilai

Ilustrasi kreativitas (pexels.com/Antoni Shkraba)

AI kini bisa menghasilkan tulisan, gambar, musik, bahkan berbagai konsep kreatif. Namun, kemampuan kreatif manusia tidak hanya berhenti pada menghasilkan sesuatu dari sebuah perintah. Ada proses menentukan ide, memahami audiens, menghubungkan berbagai gagasan, dan memutuskan pesan apa yang ingin disampaikan.

“Di era AI, pentingnya pendidikan klasik justru akan semakin besar karena pendidikan tersebut mengajarkan berpikir kritis dan kreativitas. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan hanya dari sebuah prompt,” ujar Chuck Todd, jurnalis politik dan mantan pembawa acara Meet the Press, dilansir laman John Carroll University

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan AI dan kemampuan berpikir kreatif sebenarnya tidak harus dipertentangkan. AI dapat membantu mempercepat proses mencari kemungkinan, sementara manusia tetap memiliki peran dalam memilih, mengembangkan, dan memberikan makna pada ide tersebut.

Perkembangan AI memang akan mengubah cara bagaimana manusia belajar dan bekerja. Namun semakin banyak pekerjaan teknis yang bisa dibantu teknologi, semakin penting pula kemampuan untuk tetap berpikir kritis, memahami manusia, dan menghasilkan gagasan yang mempunyai makna.

Skill tersebut memang tidak hanya milik anak humaniora, tetapi bidang-bidang humaniora memang memberikan ruang yang besar untuk melatihnya. Sehingga tantangannya bukan lagi soal apakah AI akan menggantikan anak humaniora, melainkan bagaimana anak humaniora tetap relevan dengan memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya yang membuat mereka tetap dibutuhkan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article