Kemampuan menggunakan artificial intelligence (AI) kini perlahan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, sampai mencari ide, berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Perkembangan ini kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa semakin pintar AI, semakin sedikit pula ruang bagi kemampuan manusia, termasuk kemampuan yang selama ini dipelajari di bidang humaniora.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ketika AI semakin mampu mengerjakan tugas yang bersifat teknis, kemampuan seperti berpikir kritis, memahami manusia dan konteks, hingga kreativitas justru menjadi semakin penting. Kemampuan itu memang tidak hanya dimiliki mahasiswa jurusan humaniora, tetapi proses belajar di bidang humaniora banyak melatih kemampuan serupa.
