Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Perubahan Emosi di Keluarga yang Jangan Kamu Abaikan
ilustrasi keluarga (pexels.com/Boni Almueda Valdez Jr.)
  • Keluarga perlu menjaga kepedulian agar perubahan emosi anggota rumah tidak terlambat terdeteksi, karena pengabaian dapat menghambat penanganan masalah kesehatan mental.
  • Momen berkumpul setiap hari dan perhatian pada anggota yang menarik diri membantu keluarga mengamati perubahan raut wajah, kebiasaan makan, komunikasi, serta sikap murung.
  • Sikap mudah marah, respons pesan yang mendadak singkat, atau enggan menjawab telepon perlu didekati dengan halus, bukan disepelekan atau dijadikan bahan godaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Kepedulian antaranggota keluarga harus terus dirawat bahkan ditingkatkan. Bila keluarga terlambat menyadari adanya hal-hal yang tidak beres terkait emosi anggotanya, penanganan masalah kesehatan mental bakal terhambat.

Sejauh mana kepekaanmu terhadap perubahan emosi orang-orang yang setiap hari tinggal seatap denganmu? Kesibukan di luar rumah tak boleh menjadi alasan kamu gak sempat memperhatikan hal tersebut. Ini bukan tugas yang sulit, kok.

Cara-cara sederhana seperti di bawah ini dapat dilakukan bersama seluruh anggota keluarga. Kamu jangan lantas menganggap anggota keluarga tidak perlu diperhatikan lagi karena sudah dewasa semua. Justru di masa ini mereka dapat diam-diam depresi akibat banyaknya ujian dalam hidup.

1. Miliki kepedulian sebagai orang terdekat

ilustrasi keluarga (pexels.com/Vanessa Loring)

Antaranggota keluarga tidak boleh bersikap saling cuek. Usiamu dan suadara-saudara yang sudah sama-sama dewasa bukan alasan untuk mengembangkan sikap acuh tak acuh. Kepedulian lebih mudah tumbuh dalam hati kalau dirimu menyadari betul makna persaudaraan.

Hubungan antarsaudara atau orang lain yang tinggal di rumah yang sama akan membentuk jaring kuat. Satu bagian jaring saja koyak dapat memengaruhi kekuatan bagian-bagian lain serta fungsinya. Kamu jangan malu-malu menunjukkan rasa peduli terhadap orang-orang di rumah.

Sikap masa bodoh tidak tepat dikembangkan dalam kehidupan keluarga. Saudara perlu ada dalam pikiranmu. Demikian pula dirimu mestinya menempati pikiran mereka. Ketika kalian agak kesal satu sama lain pun, kepedulian tak boleh sepenuhnya sirna.

2. Jangan selalu sibuk sendiri di kamar

ilustrasi keluarga (pexels.com/Annushka Ahuja)

Kamu mungkin juga tidak merasa sedang sengaja menjauhi keluarga. Ada sesuatu yang harus dikerjakan olehmu di kamar. Kamar juga menjadi tempat yang paling nyaman untuk berisitirahat.

Akan tetapi, kebiasaan asyik sendiri di kamar membuatmu kurang memperhatikan anggota keluarga. Dirimu bahkan bisa tidak mengetahui siapa yang pergi atau baru saja pulang. Bila seperti ini, bagaimana kamu dapat mengetahui apa yang terjadi pada mereka?

Seluruh anggota keluarga perlu bersepakat untuk setiap hari ada momen berkumpul bersama. Misalnya, kumpul keluarga di ruang tengah atau meja makan. Pertemuan langsung seperti ini memungkinkan kalian saling mengamati raut wajah. Perubahan emosi tiap orang menjadi sangat mudah terlihat.

3. Dekati anggota keluarga yang menarik diri

ilustrasi depresi (pexels.com/Ángel Ramírez Flores)

Kamu tidak menarik diri di rumah. Dirimu selalu ada di ruang tengah sampai jam-jam tertentu. Akan tetapi, justru anggota keluarga lainnya yang perlahan-lahan menjauh. Dia gak makan di meja makan bersama anggota keluarga lainnya.

Atau, ia buru-buru masuk ke kamarnya setelah selesai makan malam. Dia juga tampak lebih pendiam hingga murung. Barangkali tadi ia mengemukakan alasan, seperti capek atau ada sesuatu yang kudu dilakukan.

Namun, kamu tetap perlu waspada serta melakukan pendekatan. Jangan-jangan dia cuma berusaha menyembunyikan persoalan. Sikap seperti ini dapat meningkatkan rasa stresnya. Pendekatan yang halus tanpa terkesan mendesaknya untuk terbuka perlu dilakukan.

4. Pahami bahwa sikap uring-uringan bisa punya banyak penyebab

ilustrasi depresi (pexels.com/RDNE Stock project)

Perubahan emosi anggota keluarga kerap kali sudah terlihat jelas. Contohnya, seseorang menjadi lebih gampang kesal atau uring-uringan. Apa pun seakan-akan salah di matanya. Sikap mudah kesal begini jangan disepelekan.

Kejengkelannya terhadap berbagai hal boleh jadi memiliki akar masalah yang lebih dalam. Kamu perlu menghindari cara pandang yang selalu optimis. Misalnya, emosinya pasti nanti membaik dengan sendirinya.

Padahal, suasana hatinya akan tetap bahkan tambah buruk selama penyebab yang sesungguhnya belum terkuak. Makin remeh hal yang membuat emosinya naik turun, makin besar kemungkinan persoalan sesungguhnya bukan itu. Sikap lain yang gak tepat misalnya, kamu justru terus menggodanya dan membuatnya kian emosi.

5. Memperhatikan perubahan caranya menjawab pesan atau telepon

ilustrasi depresi (pexels.com/Pavel Polyakov)

Perubahan emosi juga dapat terlihat cukup jelas dari cara seseorang merespons telepon dan pesan teks. Contohnya, saudaramu suka sekali mengetik panjang ketika chatting. Kamu gak tanya apa-apa pun, ia kerap terlebih dulu mengirim pesan tentang berbagai hal dan panjang-panjang.

Ketikannya akan makin panjang jika dipancing dengan pertanyaan. Watak aslinya ialah suka menjelaskan segala hal secara detail. Akan tetapi, belakangan dia mulai irit dalam mengetik.

Pesannya menjadi pendek-pendek sekali. Ia makin sering menjawab pesan dengan satu atau beberapa kata saja. Misalnya, oke, gak apa-apa, coba lihat nanti, dan sebagainya.

Begitu pula ketika kamu melakukan panggilan telepon. Ia jarang mengangkatnya tanpa alasan yang jelas atau terlalu sedikit bicara. Semua itu menandakan suasana hatinya tidak baik-baik saja.

Pengabaian terhadap perubahan emosi anggota keluarga di rumah dapat berujung bahaya. Seseorang bisa mengalami depresi tanpa buru-buru bisa ditolong oleh keluarganya. Kamu perlu mengajak seluruh anggota keluarga di rumah untuk membangun kembali kepedulian satu sama lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article