Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips jika Kamu Ditunjuk Jadi Pengelola Usaha Keluarga, Transparan!

5 Tips jika Kamu Ditunjuk Jadi Pengelola Usaha Keluarga, Transparan!
ilustrasi toko bunga (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Artikel menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan usaha keluarga, termasuk pencatatan keuangan dan pelaporan rutin agar semua anggota keluarga memahami kondisi bisnis secara jujur.
  • Ditekankan perlunya komunikasi terbuka antaranggota keluarga dalam pengambilan keputusan, menjaga profesionalitas, serta menetapkan pembagian hasil yang adil bagi pengelola utama.
  • Penulis mengingatkan agar kompetensi tetap jadi syarat utama bagi anggota keluarga yang ingin bergabung dan menegaskan pentingnya memisahkan urusan pribadi dari bisnis demi kelancaran usaha.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Orangtuamu punya usaha apa? Jika usaha mereka cukup mapan, berjalan dengan baik, dan sudah punya pelanggan sayang sekali apabila nantinya tidak ada yang meneruskan. Terutama saat keduanya makin lanjut usia.

Ketiadaan anak yang melanjutkan usaha sama dengan membiarkan usaha tersebut mati. Seperti keran yang ditutup tak akan lagi mengeluarkan air. Padahal, membangun usaha dari nol juga tidak mudah.

Atau, kamu dan saudara-saudara sepakat untuk bikin usaha bareng. Apabila dirimu ditunjuk buat mengelola usaha yang dirintis kedua orangtua atau didirikan bersama saudara-saudara, gunakan lima tips berikut. Kamu gak bisa sekadar bantu-bantu karena tanggung jawab terbesar ada di pundakmu.

1. Transparan tentang pengelolaan dan hasilnya

menjalankan usaha keluarga
ilustrasi menjalankan usaha keluarga (pexels.com/MART PRODUCTION)

Sebagai orang yang menjalankan usaha tersebut, tentu kamu paling tahu segala pengelolaannya. Dari pengelolaan uang sampai barang masuk dan keluar. Tanpa dirimu mesti diminta sudah seharusnya menjalankan prinsip transparansi ke keluarga.

Bikin laporan yang rapi. Catat semua arus barang dan kas. Laporkan pada semua anggota keluarga secara berkala. Misalnya, sebulan sekali. Jangan ada yang ditutupi meski tidak setiap hal selalu berjalan dengan baik.

Sampaikan keadaan yang sesungguhnya walaupun pahit. Dengan begitu, keluarga tidak hanya tahu sisi-sisi enaknya saja. Mereka juga kudu mengerti tantangan-tantangannya dan siap diajak berpikir bersama. Bagaimanapun juga, kalian semua berstatus pemilik. Bukan hanya kamu.

2. Urun rembuk wajib, tapi jangan menyetir sesuai keinginan masing-masing

menjalankan usaha keluarga
ilustrasi menjalankan usaha keluarga (pexels.com/Guillaume Meurice)

Kamu yang diserahi tanggung jawab buat mengelola usaha tersebut. Akan tetapi, ingat bahwa pemiliknya bukan hanya dirimu. Maka sudah semestinya setiap orang mau kasih pendapat terkait perkembangan usaha.

Juga ketika terjadi masalah yang harus dipecahkan. Jangan sampai mereka bersikap masa bodoh. Kamu pusing sendirian dan jungkir balik mengelola usaha tersebut. Namun, jangan pula setiap orang berusaha menyetirmu.

Mereka punya keinginan sendiri-sendiri yang boleh jadi bertolak belakang. Nanti kamu pusing sendirian. Tiap kali ada anggota keluarga yang seperti ingin memaksakan kehendaknya, ingatkan dia.

Katakan bahwa dirimu sebagai pengelola punya hak untuk mengambil keputusan secara independen. Atau, kamu merangkum seluruh aspirasi pemilik. Bukan dirimu cuma menuruti keinginan salah seorang dari mereka.

3. Kesepakatan soal bagi hasil dan ekstra pendapatan buatmu yang paling capek

menjalankan usaha keluarga
ilustrasi menjalankan usaha keluarga (pexels.com/Kampus Production)

Namanya usaha, meski para pemiliknya berstatus keluarga harus tetap profesional tentang uang. Bagi hasil mutlak diperlukan. Jangan mau kamu mencurahkan energi dan waktu buat mengelolanya tanpa dapat uang sepeser pun.

Dirimu juga punya banyak kebutuhan. Bedanya, selagi saudara-saudaramu leluasa melakukan pekerjaannya, kamu mesti membagi perhatian. Dirimu mungkin punya pekerjaan sendiri, tapi tetap masih harus mengelola usaha keluarga.

Bahkan bagi hasil secara merata baru standar minimal daripada kamu gak mendapatkan apa-apa. Idealnya, dirimu memperoleh juga tambahan penghasilan sebagai si paling capek dalam mengurus usaha tersebut. Tanpa peranmu, usaha itu boleh jadi gak berjalan. Atau, tetap berjalan tapi tak sebagus dalam pengelolaanmu.

4. Gak apa-apa saudara ikut kerja, tapi wajib berkompeten

panen cabai
ilustrasi panen cabai (pexels.com/Danang DKW)

Kalau usaha berjalan dengan baik bahkan makin berkembang dari waktu ke waktu, tentu akhirnya saudara-saudara lebih tertarik. Bahkan bukan cuma keluarga inti yang berstatus sebagai pemilik. Misalnya, para pemilik usaha adalah kamu, adik, dan kakak kandung.

Seiring sayap usaha terbentang makin lebar, saudara-saudara sepupu ingin bisa bekerja di situ. Satu sisi, kamu menolak keinginan mereka buat bergabung juga pasti tidak enak. Di sisi lain, merekrut orang-orang terdekat juga ada poin positifnya.

Selain bantu saudara yang butuh pekerjaan; dirimu tahu betul sifat, alamat, sampai pasangan dan orangtuanya. Seandainya terjadi sesuatu yang buruk, kamu gak kehilangan jejaknya. Hanya saja, syarat kompetensi harus tetap terpenuhi. Jangan asal menerima mereka cuma karena faktor persaudaraan.

5. Pisahkan masalah pribadi antarsaudara dengan bisnis

jaga usaha
ilustrasi jaga usaha (pexels.com/Airam Dato-on)

Serukun-rukunnya hubunganmu dengan saudara tentu kadang ada pasang surutnya. Masalahnya mungkin tidak berkaitan dengan usaha yang dikelola olehmu. Misalnya, perkara siapa yang akan merawat orangtua yang sakit-sakitan.

Terkadang terjadi beda pendapat sampai agak panas. Apa pun masalah yang memicu silang pendapat, kamu mesti mampu memisahkannya dari urusan pengelolaan usaha. Demikian pula saudara-saudaramu harus diperingatkan agar tidak membawa-bawa persoalan tersebut ke ranah usaha.

Sebab jika itu sampai terjadi malah akan merugikan kalian semua. Jalannya usaha menjadi terganggu. Baik kamu maupun saudara-saudara kudu mampu tahu batas walau sedang di tengah konflik. Masing-masing mesti menahan emosi serta sadar bahwa jalannya usaha tersebut penting bagi kalian semua.

Tidak mudah menjadi satu-satunya orang yang mengurus usaha keluarga apa pun bidangnya. Bahkan meski telah ada sejumlah pekerja yang membantumu dalam tugas-tugas harian. Tanggung jawabmu sangat besar sehingga kamu mesti memiliki cukup skill, mental yang kuat, dan kejujuran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us