ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)
Jika perilaku anak yang terus menempel mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orangtua bisa membantunya belajar mandiri secara bertahap. Tujuannya bukan membuat anak berhenti membutuhkan orangtua, melainkan membangun rasa aman meskipun sedang berjauhan. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
a. Dorong anak untuk belajar mandiri
Mulailah dari aktivitas sederhana, seperti mengambil mainan, merapikan barang, atau bermain sebentar tanpa ditemani. Menurut Dr. Perry, berikan perhatian dan apresiasi ketika anak berhasil melakukan sesuatu secara mandiri agar kepercayaan dirinya semakin berkembang.
b. Buat rutinitas yang konsisten
Jadwal harian yang teratur membantu anak memahami apa yang akan terjadi sehingga merasa lebih aman.
c. Berikan contoh perpisahan yang tenang
Ketika harus meninggalkan anak, sampaikan salam perpisahan secara singkat tanpa menunjukkan kepanikan atau memperpanjang momen tersebut. Dr. Perry menyarankan orangtua untuk meyakinkan anak bahwa mereka hanya pergi sementara dan akan kembali setelah menyelesaikan pekerjaan.
d. Biasakan berpisah secara bertahap
Jika anak sulit ditinggalkan, mulailah dengan perpisahan singkat sebelum meningkatkan durasinya secara perlahan. Menurut Dr. Perry, cara ini membantu anak membangun kepercayaan diri dan memahami bahwa orangtua tetap akan kembali meskipun sedang tidak berada di dekatnya.
e. Berikan penjelasan yang realistis
Hindari menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati, termasuk soal waktu kepulangan setelah meninggalkan anak.
f. Ajarkan anak memahami batasan pribadi
Anak perlu memahami bahwa setiap orang, termasuk orangtua, memiliki kebutuhan akan ruang pribadi. Dr. Perry menyarankan orangtua menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut wajar dan setiap orang berhak mendapatkan ruang untuk dirinya sendiri.
g. Validasi perasaan anak
Ketika anak menangis atau takut saat harus berpisah, jangan langsung menganggap reaksinya berlebihan. Dr. Perry menyarankan orangtua mengakui perasaan anak sekaligus meyakinkannya bahwa mereka akan kembali, misalnya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu sedih ketika Mama pergi, tetapi Mama akan selalu kembali."
h. Bantu anak mengelola emosinya
Orangtua juga bisa mengenalkan aktivitas yang membantu anak menenangkan diri, seperti berolahraga, bermain dengan mainan sensorik (fidget toys), atau mengungkapkan perasaannya melalui cerita dan tulisan. Dr. Kennedy menyarankan aktivitas tersebut disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak agar mereka perlahan mampu mengelola emosinya sendiri.
Memiliki velcro kid memang bisa menguras energi, tetapi bukan berarti orangtua harus mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Dengan memahami kebutuhan anak dan membangun kemandirian secara bertahap, kedekatan orangtua dan anak tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan emosional.