Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak yang Sudah Besar Tiba-tiba Bicara seperti Bayi? Ini Alasannya!
ilustrasi orang tua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Pernah gak, anak yang biasanya sudah lancar bicara tiba-tiba kembali menggunakan suara seperti bayi? Nada bicaranya mendadak lebih tinggi, kata-katanya jadi lebih pendek, atau ia kembali merengek seperti saat masih kecil. Meski terdengar menggemaskan bagi sebagian orangtua, perubahan ini sebenarnya bisa menjadi cara anak menyampaikan sesuatu.

Baby talk pada anak yang lebih besar gak selalu berarti mereka benar-benar mengalami kemunduran. Perilaku ini bisa muncul ketika anak sedang mencari perhatian, menghadapi perubahan, atau kesulitan mengungkapkan perasaannya. Lantas, apa saja alasan di balik kebiasaan tersebut? Yuk, ketahui alasannya lewat artikel berikut!

1. Anak sedang ingin mendapat perhatian lebih

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Ketika ada perubahan dalam keluarga, seperti kelahiran adik, perhatian orangtua bisa lebih banyak tertuju pada anak yang masih kecil. Anak yang lebih besar mungkin melihat bahwa bicara seperti bayi membuatnya kembali mendapat pelukan, perhatian, atau perlakuan khusus. Baby talk pun bisa menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa ia juga ingin diperhatikan.

Perilaku ini gak selalu berarti anak sengaja mencari perhatian atau ingin membuat orangtua kesal. Bisa jadi, ia sedang membutuhkan rasa aman dan kedekatan dari orangtua. Memberikan waktu khusus untuk bermain atau mengobrol bersama bisa membantu memenuhi kebutuhan tersebut tanpa harus menggunakan suara bayi.

“Anak menggunakan berbagai macam perilaku untuk menyampaikan pesan. Ini bisa menjadi cara untuk mendapatkan perhatian dan menunjukkan bahwa mereka membutuhkan sedikit kepastian serta pengasuhan,” ujar Dr. Carol-Anne Murphy, dosen speech and language therapy di University of Limerick, dikutip dari Irish Examiner.

2. Stres atau perubahan besar bisa memicu regresi

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

Baby talk juga bisa muncul saat anak menghadapi situasi yang terasa berat. Pindah rumah, masuk sekolah baru, kelahiran adik, konflik keluarga, atau perubahan rutinitas bisa membuat anak kembali pada perilaku yang terasa lebih familiar. Karena itu, perhatikan apakah kebiasaan ini muncul bersamaan dengan perubahan perilaku lain.

Regresi sesekali belum tentu menunjukkan masalah serius jika anak tetap berkembang dan berkomunikasi seperti biasa. Namun, baby talk yang disertai kembali mengompol, terlihat cemas, atau mengalami tekanan emosional perlu mendapat perhatian lebih. Dalam kondisi tertentu, pengalaman traumatis atau masalah kesehatan mental juga dapat memicu regresi pada anak.

“Terkadang, peristiwa traumatis atau masalah kesehatan mental dapat memicu anak mengalami regresi,” ujar Dr. Carol-Anne Murphy.

3. Baby talk belum tentu berarti kemampuan bicara anak benar-benar mundur

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)

Gak semua anak yang kembali bicara seperti bayi benar-benar kehilangan kemampuan bicara yang sudah dikuasainya. Anak tetap bisa berbicara sesuai usianya, tetapi sesekali memilih cara bicara yang lebih kekanak-kanakan saat lelah, kewalahan, atau menghadapi situasi tertentu. Jadi, penting membedakan perubahan gaya bicara sementara dari hilangnya kemampuan komunikasi.

Perkembangan anak juga gak selalu berjalan seimbang di setiap aspek. Mereka bisa sudah cukup matang dalam berbicara, tetapi masih kesulitan mengelola emosi, menghadapi tuntutan baru, atau melakukan sesuatu sendiri. Saat kewalahan, anak pun bisa kembali pada pola perilaku yang terasa lebih sederhana.

4. Anak mungkin belum tahu cara mengungkapkan perasaannya

ilustrasi orang tua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Terkadang, anak merasa cemas, takut, lelah, atau butuh bantuan, tetapi belum tahu cara menjelaskannya. Dalam kondisi ini, baby talk bisa menjadi cara yang lebih mudah untuk menunjukkan bahwa ia sedang kesulitan. Karena itu, perubahan cara bicara bisa menjadi petunjuk tentang kondisi emosional anak.

Daripada langsung memarahi anak, orangtua bisa memberi contoh kalimat yang lebih tepat. Misalnya, saat anak kesulitan melakukan sesuatu, bantu ia mengatakan, “Aku gak bisa, boleh bantu aku?” Dengan begitu, anak belajar menyampaikan kebutuhan dan perasaannya tanpa harus kembali menggunakan suara bayi.

Anak yang tiba-tiba bicara seperti bayi memang bisa bikin orangtua bingung. Sebelum menyuruhnya berhenti, coba pahami dulu pesan di balik perilakunya, bisa jadi ia sedang butuh perhatian dan rasa aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article