“Sadfishing memiliki konotasi negatif karena perilaku ini terlihat seperti sebuah cara untuk mendapatkan perhatian melalui ‘like’ atau interaksi di media sosial,” ujar Nicole Saunders, pekerja sosial klinis berlisensi, dikutip dari HuffPost.
Cara Tahu Seseorang Sedang Sadfishing di Media Sosial, Penting!

- Sadfishing merujuk pada kebiasaan melebih-lebihkan emosi di media sosial demi memancing simpati, perhatian, atau interaksi; satu unggahan sedih saja tidak cukup untuk menilainya.
- Tandanya dapat terlihat dari curhatan samar, dramatis, dan berulang, serta unggahan emosional yang tampak sengaja dibuat agar orang lain memberi respons dan validasi.
- Penelitian mengaitkan sadfishing dengan kecenderungan keterikatan cemas, tetapi penyebab tiap orang berbeda; penting tetap berempati tanpa buru-buru memberi label dan menjaga batasan diri.
Pernah melihat seseorang yang sering mengunggah kata-kata galau, curhat samar, atau kalimat penuh kode di media sosial? Sekilas mungkin terlihat seperti curhat biasa, tetapi kalau dilakukan berulang dengan tujuan memancing simpati dan perhatian, perilaku tersebut bisa mengarah pada sadfishing.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan melebih-lebihkan kondisi emosional di media sosial untuk mendapatkan simpati. Namun, bukan berarti setiap orang yang mengunggah kesedihan sedang melakukan sadfishing. Lantas, seperti apa tandanya? Yuk, ketahui lewat artikel berikut ini!
1. Sering mengunggah curhatan yang samar dan dramatis

ilustrasi bermain handphone (pexels.com/rdne) Di media sosial, mungkin kamu pernah melihat unggahan seperti, “Kenapa selalu aku yang dikecewakan?” atau tulisan tentang karma dan merasa gak dihargai. Unggahan seperti ini biasanya dibuat tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga orang yang melihatnya bisa ikut penasaran.
Kalau pola tersebut sering muncul dan terasa seperti sengaja memancing perhatian atau simpati, barulah perilakunya bisa mengarah pada sadfishing. Meski begitu, satu unggahan bernada sedih saja tentu belum cukup untuk menyimpulkan seseorang sedang melakukan sadfishing.
2. Tujuannya lebih banyak mencari simpati dan validasi

ilustrasi bermain handphone (pexels.com/yankrukov) Sadfishing bukan sekadar membagikan cerita saat sedang sedih. Yang menjadi pembeda adalah ketika unggahan tersebut cenderung digunakan untuk mendapatkan perhatian, simpati, atau validasi dari orang lain.
Misalnya, seseorang merasa lebih lega setelah mendapat banyak komentar seperti “Kamu kuat banget” atau “Jangan menyerah”. Dalam penelitian yang dibahas HuffPost, sadfishing sendiri didefinisikan sebagai kecenderungan pengguna media sosial untuk memublikasikan atau melebih-lebihkan kondisi emosional demi mendapatkan simpati.
“Kita semua membutuhkan validasi, dan sadfishing adalah cara yang cepat dan efektif untuk mendapatkan banyak validasi dari banyak orang sekaligus,” ujar Tess Brigham, psikoterapis, dikutip dari HuffPost.
3. Bisa berkaitan dengan rasa tidak aman dalam hubungan

ilustrasi menggunakan handphone (pexels.com/georgedolgikh) Dalam penelitian yang melibatkan Cara Petrofe, spesialis perilaku dan peneliti, dikutip dari HuffPost, orang yang melakukan sadfishing ditemukan lebih mungkin menunjukkan anxious attachment atau gaya keterikatan cemas. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih membutuhkan kepastian dari orang lain dan khawatir akan ditinggalkan.
Meski begitu, bukan berarti setiap orang yang sering curhat di media sosial otomatis memiliki anxious attachment. Faktor yang melatarbelakangi perilaku seseorang bisa berbeda-beda, sehingga kita sebaiknya tidak buru-buru memberikan label.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa orang-orang dengan keterikatan cemas cenderung mencari validasi melalui orang lain dan membutuhkan aktivitas pertemanan yang konsisten serta jumlah pertemanan online maupun tatap muka yang lebih banyak. Hal tersebut dapat mengarah pada sadfishing,” ujar Cara Petrofes.
4. Unggahannya terasa seperti sengaja dibuat agar orang lain bereaksi

ilustrasi sekelompok orang berfokus pada handphone (pexels.com/cottonbro) Coba perhatikan polanya, bukan hanya satu unggahan. Jika seseorang berkali-kali membagikan konten emosional, kemudian terlihat sangat mengandalkan respons orang lain untuk merasa lebih baik, ada kemungkinan unggahan tersebut memang dibuat untuk mendapatkan perhatian.
Media sosial memang membuat respons semacam ini datang dengan cepat. Satu unggahan emosional bisa menghasilkan banyak komentar, pesan pribadi, dan likes dalam waktu singkat. Penelitian terbaru juga menemukan adanya hubungan antara sadfishing dan perilaku mencari perhatian, meski fenomena ini tetap perlu dilihat berdasarkan konteks masing-masing orang.
“Kita semua tahu bahwa di media sosial, orang-orang lebih mudah tertarik pada konten yang dramatis, emosional, dan tragis. Namun sebenarnya, siapa pun yang kesulitan mendapatkan cukup perhatian dalam kehidupan nyata sangat rentan menggunakan sadfishing,” ujar Nicole.
Kalau gak terlalu dekat, kamu gak perlu ikut menyelesaikan masalahnya, cukup beri respons baik jika memang ingin membantu. Pada akhirnya, gak semua curhatan adalah sadfishing. Jadi, tetaplah berempati tanpa lupa menjaga batasan diri.






















