“Entah karena rasa malu, gugup, atau sekadar merasa canggung, menghindari kontak mata dapat secara tidak sengaja memberikan sinyal bahwa seseorang tidak tertarik, merasa tidak percaya diri, atau bahkan tidak jujur,” ujar April.
Kebiasaan Kontak Mata yang Bikin Hubungan Sosial Jadi Kurang Nyaman

- Menghindari kontak mata sepenuhnya dapat memberi kesan tidak tertarik, kurang percaya diri, atau tidak jujur, meski penyebabnya bisa rasa malu dan gugup.
- Tatapan terlalu intens, pandangan ke bagian tubuh tertentu, atau mata yang terus bergerak dapat membuat lawan bicara merasa canggung, tidak diperhatikan, atau terdistraksi.
- Kontak mata perlu disesuaikan dengan norma budaya dan situasi kelompok; bagi perhatian serta jeda pandangan secara wajar agar semua orang merasa dihargai.
Kontak mata sering dianggap sepele dalam sebuah percakapan. Padahal, cara kamu menatap lawan bicara bisa memengaruhi kesan yang muncul, mulai dari rasa percaya hingga kenyamanan saat berinteraksi. Kalau dilakukan secara kurang tepat, kebiasaan kecil ini justru bisa membuat hubungan sosial terasa canggung.
Kontak mata yang baik dapat membantu seseorang terlihat lebih percaya diri, dapat dipercaya, dan benar-benar memperhatikan lawan bicara. Sebaliknya, terlalu menghindari tatapan atau justru menatap tanpa jeda bisa memberikan sinyal yang berbeda dari maksud sebenarnya. Supaya komunikasi tetap terasa nyaman, ada beberapa kebiasaan kontak mata yang sebaiknya kamu hindari.
1. Selalu menghindari kontak mata

ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/andy-barbour) Menghindari kontak mata sepenuhnya bisa membuat lawan bicara merasa kamu tidak tertarik dengan percakapan. Kebiasaan ini memang bisa muncul karena malu, gugup, atau merasa canggung saat harus menatap mata orang lain. Namun jika terus dilakukan, kamu dapat terlihat seperti tidak percaya diri atau tidak benar-benar memperhatikan.
Hal ini juga bisa membuat pesan yang kamu sampaikan disalahartikan oleh orang lain. Terapis April Crowe, LCSW, dikutip dari Verywell Mind, menjelaskan bahwa menghindari kontak mata dapat memberikan kesan tertentu meskipun sebenarnya tidak disengaja. Karena itu, kamu gak harus terus menatap mata lawan bicara, tetapi tetap berikan kontak mata secara alami selama percakapan.
2. Menatap terlalu intens

ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/cottonbro) Kalau menghindari kontak mata terasa kurang nyaman, menatap terlalu lama juga bukan pilihan yang tepat. Tatapan intens tanpa jeda bisa membuat lawan bicara canggung atau mempertanyakan maksudmu. Dalam percakapan, kontak mata sebaiknya tetap diselingi jeda agar terasa lebih natural.
Tatapan terlalu tajam juga bisa memberi kesan agresif meski bukan itu maksudmu. Sophia Spencer, psikolog sosial dan terapis kesehatan mental, dikutip dari Verywell Mind, menjelaskan bahwa manusia secara alami mengharapkan jeda dalam tatapan saat berinteraksi. Jadi, sesekali alihkan pandangan agar kontak mata tetap terasa nyaman.
“Sebagai manusia, kita mengharapkan adanya jeda alami dalam tatapan. Jadi, ketika jeda tersebut tidak terjadi, kita mulai mempertanyakan maksud atau niat orang tersebut,” jelasnya.
3. Terlalu sering melihat bagian tubuh lain

ilustrasi laki-laki dan perempuan di perpus (pexels.com/timamiroshnichenko) Ketika merasa tidak nyaman menatap mata seseorang, kamu mungkin tanpa sadar mengalihkan pandangan ke bagian tubuh lainnya. Dahi, tangan, atau bagian tubuh tertentu bisa menjadi sasaran pandangan tanpa kamu sadari. Padahal, kebiasaan ini dapat membuat lawan bicara merasa kamu tidak fokus pada percakapan.
Selain dianggap kurang sopan, kebiasaan tersebut juga bisa membuat orang lain merasa tidak percaya diri terhadap bagian tubuh yang sedang kamu lihat. Situasinya bisa semakin canggung jika pandanganmu bertahan terlalu lama di area tertentu. Karena itu, kalau kontak mata langsung terasa sulit, arahkan perhatian pada keseluruhan wajah agar interaksi tetap terasa wajar.
4. Mata terus bergerak ke berbagai arah

ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/cottonbro) Mata yang terus berpindah dari satu objek ke objek lain juga bisa mengganggu kenyamanan saat berbicara. Misalnya, kamu berkali-kali melihat lantai, langit-langit, ponsel, atau benda lain di sekitar selama lawan bicara sedang berbicara. Gerakan mata seperti ini dapat membuatmu terlihat seperti sedang tidak fokus pada percakapan.
Kebiasaan tersebut juga dapat memberikan kesan bahwa kamu sedang cemas atau ingin segera mengakhiri interaksi. Padahal, bisa saja kamu hanya merasa gugup atau tidak terbiasa mempertahankan kontak mata. Cobalah sesekali mengarahkan pandangan kembali kepada lawan bicara agar mereka tetap merasa didengarkan.
“Ketika mata kamu terus berpindah-pindah seperti melihat ke lantai, langit-langit, atau ke segala sesuatu kecuali orang yang sedang diajak berbicara, hal itu memberikan kesan bahwa kamu sedang terdistraksi atau merasa cemas,” terang April.
5. Mengabaikan perbedaan budaya

ilustrasi kedua perempuan berbincang (pexels.com/augustderichelieu) Kontak mata tidak memiliki aturan yang sama di setiap budaya. Di sebagian budaya Barat, tatapan langsung dianggap sebagai tanda percaya diri, sedangkan di budaya lain, tatapan terlalu lama bisa dianggap kurang sopan atau menantang, terutama kepada orang yang lebih tua.
Karena itu, penting untuk mempertimbangkan siapa lawan bicaramu dan konteks interaksinya. Kebiasaan kontak mata yang dianggap wajar dalam satu lingkungan belum tentu memiliki makna yang sama di tempat lain. Memahami norma sosial dan budaya dapat membantu kamu menghindari kesalahpahaman saat berkomunikasi.
“Dalam banyak budaya Barat, kontak mata secara langsung dianggap sebagai tanda kepercayaan diri dan keterlibatan. Namun, dalam beberapa budaya lain, kontak mata yang terlalu lama dapat dianggap tidak sopan atau bersifat konfrontatif, terutama ketika dilakukan kepada orang yang lebih tua,” tutur Sophia.
6. Hanya fokus pada satu orang saat berbicara dalam kelompok

ilustrasi makan malam bersama (pexels.com/cottonbro) Kebiasaan melakukan kontak mata juga perlu diperhatikan ketika kamu sedang berbicara dalam kelompok. Tanpa sadar, kamu mungkin terus melihat satu orang yang paling aktif berbicara dan jarang mengarahkan pandangan kepada peserta lainnya. Akibatnya, orang lain bisa merasa tidak dilibatkan dalam percakapan.
Situasi tersebut dapat membuat sebagian anggota kelompok merasa kurang dianggap penting. Sebaliknya, orang yang terus menjadi pusat tatapan juga bisa merasa kurang nyaman karena mendapatkan perhatian berlebihan. Cobalah membagi pandangan secara merata kepada semua orang agar setiap peserta merasa dihargai dan menjadi bagian dari interaksi.
Kontak mata yang nyaman bukan soal terus menatap, melainkan tahu kapan harus memberi perhatian dan jeda. Dengan lebih peka pada kebiasaanmu, komunikasi pun bisa terasa lebih natural dan menyenangkan.




















