“Meskipun ini merupakan pilihan pribadi, secara umum disarankan untuk melakukan percakapan ini lebih cepat daripada nanti,” ujar Dr. Arunesh Mishra, psikiater geriatri, dikutip dari Parade.
Cara Bahas Warisan dengan Anak Dewasa ala Terapis Keluarga, Tanpa Canggung

Membicarakan soal warisan dengan anak dewasa sering terasa seperti topik yang berat dan penuh kecanggungan. Padahal, percakapan ini penting untuk memastikan keinginan orangtua dipahami sekaligus mencegah konflik di masa depan. Terapis keluarga pun menyarankan agar pembahasan ini dilakukan dengan cara yang lebih terbuka, jujur, dan penuh empati.
Alih-alih menunggu momen genting, diskusi tentang warisan justru sebaiknya dimulai sejak dini. Dengan begitu, semua anggota keluarga punya waktu untuk memahami dan menerima keputusan yang dibuat. Supaya gak canggung, berikut cara membahas warisan dengan anak dewasa menurut para ahli.
1. Jangan menunda pembicaraan

Menunda pembicaraan soal warisan mungkin terasa lebih nyaman, tapi justru bisa bikin situasi makin rumit di kemudian hari. Banyak keluarga baru membahasnya saat kondisi sudah darurat, seperti sakit serius atau kehilangan pasangan, yang membuat suasana makin emosional. Padahal, memulai lebih awal bisa bikin semuanya terasa lebih ringan.
Dengan membicarakannya sejak dini, orangtua juga punya kesempatan untuk menjelaskan keputusan dengan lebih tenang. Anak-anak pun gak akan merasa kaget atau kebingungan saat rencana itu dijalankan. Transparansi seperti ini penting untuk menjaga hubungan tetap sehat.
2. Libatkan anak dengan meminta pendapat mereka

Obrolan tentang warisan gak harus langsung serius dan penuh detail teknis. Dr. Wayne Lee, psikolog di Mindpath Health, dikutip dari Parade, menyarankan untuk memulai dengan hal sederhana. Kamu bisa menanyakan pendapat anak tentang peran yang ingin mereka ambil atau harapan mereka ke depan.
Cara ini bikin mereka merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses. Saat anak merasa punya suara, mereka cenderung lebih terbuka dan menerima keputusan yang ada. Selain itu, diskusi ini juga bisa jadi momen untuk saling memahami nilai dan harapan dalam keluarga. Jadi, bukan sekadar soal harta, tapi juga tentang komunikasi.
“Kami umumnya menyarankan agar orangtua setidaknya memberi gambaran kepada anak-anak tentang bagaimana aset akan dibagikan,” kata CFP K.C. Smith, managing associate di Henssler Financial di Kennesaw, dikutip dari CNBC.
“Orangtua bisa menjelaskan secara garis besar struktur rencana warisan mereka, tanpa harus membuka angka pastinya jika dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah,” tambahnya.
3. Pilih waktu dan tempat yang nyaman

Suasana sangat berpengaruh dalam pembicaraan sensitif seperti ini. Dr. Arunesh Mishra, MD, psikiater geriatric, dikutip dari Parade, menyarankan untuk memilih tempat yang privat dan nyaman, seperti di rumah, agar semua orang bisa lebih rileks. Lingkungan yang familiar bikin percakapan terasa lebih aman dan terbuka.
“Rumah bisa menjadi tempat yang nyaman dan terasa akrab bagi semua orang, sehingga membantu menciptakan suasana yang lebih santai untuk berdiskusi secara terbuka dan jujur,” jelasnya.
“Selain itu, pertemuan secara virtual juga bisa menjadi pilihan yang efektif, terutama jika anak-anak dewasa tinggal berjauhan,” tambahnya.
Sebaliknya, hindari tempat umum atau situasi yang terlalu formal karena bisa menambah tekanan. Dr. Mishra menyarankan, kalau hubungan keluarga cukup kompleks, tempat netral seperti kantor profesional juga bisa jadi pilihan.
4. Jelaskan peran dengan jujur dan terbuka

Bagian paling sensitif biasanya muncul saat membahas siapa mendapat peran tertentu, seperti pengambil keputusan medis atau pengelola aset. Karena itu, penting banget untuk menjelaskan alasan di balik setiap keputusan dengan jelas. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan rasa tidak adil.
Gunakan bahasa yang sederhana supaya semua anak bisa memahami maksudnya. Tekankan juga bahwa pembagian peran bukan soal pilih kasih, tapi berdasarkan kemampuan dan kondisi masing-masing. Dengan begitu, keputusan bisa lebih mudah diterima.
“Jelaskan, sedetail mungkin, peran apa yang kamu berikan kepada masing-masing anak,” ujar Dr. Wayne Lee.
5. Susun alur pembicaraan biar gak melebar

Supaya obrolan tetap fokus, ada baiknya orangtua menyiapkan alur pembahasan terlebih dahulu. Mulai dari alasan pentingnya diskusi ini, gambaran rencana warisan, hingga detail pembagian aset dan peran. Struktur yang jelas bikin percakapan lebih terarah dan gak membingungkan.
Selain itu, menyampaikan informasi secara bertahap juga membantu anak-anak mencerna setiap poin dengan lebih baik. Orangtua bisa menyelipkan topik sensitif, seperti keputusan medis atau keinginan di akhir hayat, dengan cara yang lebih halus. Hasilnya, diskusi jadi terasa lebih tenang dan gak menegangkan.
Membahas warisan dengan anak dewasa memang bukan topik yang ringan, tapi juga bukan sesuatu yang harus dihindari. Dengan komunikasi yang tepat, percakapan ini justru bisa memperkuat hubungan dalam keluarga.



















