Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Hal yang Perlu Diterima saat Berdamai dengan Orangtua?

Apa Hal yang Perlu Diterima saat Berdamai dengan Orangtua?
ilustrasi berdamai dengan orangtua (unsplash.com/Centre for Ageing Better)
  • Berdamai dengan orangtua berarti menyesuaikan ekspektasi karena mereka belum tentu berubah atau memahami seluruh keputusan anak, tanpa perlu memaksakan penjelasan berulang.
  • Rasa kecewa dan luka lama mungkin tetap ada, tetapi dapat diakui agar tidak lagi menguasai sikap maupun interaksi sehari-hari dengan orangtua.
  • Hubungan tetap bisa dijaga melalui batas komunikasi yang jelas dan topik aman; berdamai bukan melupakan masa lalu, melainkan tidak menjadikannya beban setiap interaksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berdamai dengan orangtua sering dibayangkan sebagai momen hangat yang penuh pelukan dan obrolan jujur yang akhirnya menyelesaikan semua perselisihan yang ada. Kenyataannya tidak selalu seperti itu, lho. Ada yang sudah mencoba bicara berkali-kali tapi tetap mentok, ada juga yang memilih diam karena setiap pembahasan justru berujung debat. Di titik ini, berdamai bukan lagi soal mencari siapa yang benar, tapi soal memahami apa saja yang memang tidak bisa diubah.

Prosesnya juga tidak selalu terlihat gampang. Ada yang tetap pulang ke rumah, tetap ikut makan bersama, tapi cara memandang orangtua sudah mulai berubah pelan-pelan. Supaya tidak terus berharap pada hal yang sama, ada beberapa hal yang perlu diterima saat berdamai dengan orangtua agar hubungan terasa lebih hangat. Apa saja?

  1. 1. Orangtua tidak selalu bisa berubah seperti yang diharapkan anak

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Timur Weber)

    Harapan terbesar biasanya datang dari keinginan untuk melihat orangtua berubah, entah itu jadi lebih terbuka, lebih peka, atau lebih mau mendengarkan. Masalahnya, perubahan seperti itu tidak selalu terjadi, apalagi kalau pola pikir tersebut sudah terbentuk bertahun-tahun. Memaksakan perubahan justru sering membuat hubungan orangtua-anak makin tegang karena kedua pihak sama-sama merasa tidak dipahami.

    Contohnya, keinginan untuk punya orangtua yang bisa diajak cerita tanpa dihakimi bisa jadi sulit terwujud jika sejak dulu setiap obrolan selalu berujung nasihat atau kritik. Di titik ini, yang bisa dilakukan bukan menunggu mereka berubah total, melainkan menyesuaikan ekspektasi. Mungkin obrolan mendalam tidak selalu bisa terjadi, tapi bentuk komunikasi lain masih bisa dicari tanpa harus terus merasa kecewa.

  2. 2. Tidak semua hal perlu dijelaskan sampai mereka mengerti

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Sweet Life)

    Keinginan untuk dimengerti sering membuat seseorang terus mencoba menjelaskan sudut pandangnya kepada orangtua. Padahal, tidak semua hal bisa dipahami dengan cara yang sama, terutama jika latar belakang dan pengalaman hidupnya berbeda jauh. Terlalu sering menjelaskan justru bisa membuat energi habis tanpa hasil yang jelas.

    Misalnya, keputusan pindah karier atau memilih hidup sendiri bisa jadi sulit diterima karena dianggap tidak aman. Setelah dijelaskan berkali-kali dan responsnya tetap sama, menerima bahwa mereka mungkin tidak akan benar-benar mengerti bisa jadi langkah yang lebih menenangkan. Bukan berarti berhenti menghargai mereka, tapi berhenti memaksa mereka memahami semua keputusan yang diambil.

  3. 3. Rasa kecewa tak sepenuhnya hilang, tapi bisa tidak lagi menguasai diri

    ilustrasi kecewa
    ilustrasi kecewa (pexels.com/RDNE Stock project)

    Berdamai sering dianggap berarti tidak lagi merasa marah atau kecewa. Padahal, perasaan tersebut bisa saja tetap ada, hanya intensitasnya yang berubah. Mengabaikan perasaan justru membuatnya muncul lagi di waktu yang tidak terduga, sementara mengakuinya bisa membantu melihat situasi dengan lebih jernih.

    Contohnya, ada luka lama dari ucapan orangtua yang masih terasa sampai sekarang. Luka tersebut mungkin tidak benar-benar hilang, tapi tidak lagi menentukan cara bersikap setiap hari. Obrolan tetap bisa berlangsung, pertemuan keluarga tetap dijalani, tanpa harus terus membawa perasaan yang sama seperti sebelumnya.

  4. 4. Hubungan tidak harus selalu dekat untuk tetap berjalan

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Anna Shvets)

    Tidak semua hubungan orangtua dan anak berakhir dengan kedekatan seperti yang sering terlihat di media sosial. Ada yang hubungannya cukup formal, ada juga yang terbatas pada hal-hal tertentu saja. Selama komunikasi masih berjalan dengan batas yang jelas, hubungan tersebut tetap bisa dijaga tanpa harus memaksakan kedekatan yang terasa berat.

    Misalnya, memilih untuk hanya membicarakan hal-hal netral seperti pekerjaan atau kabar sehari-hari saat bertemu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena topik tertentu sering memicu konflik. Cara seperti ini bisa membuat interaksi tetap nyaman tanpa harus membuka ruang untuk hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketegangan.

  5. 5. Berdamai tidak selalu berarti melupakan semuanya

    ilustrasi orangtua dan anak
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Askar Abayev)

    Ada anggapan bahwa berdamai berarti melupakan masa lalu dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal, mengingat apa yang pernah terjadi, tetap mungkin dilakukan tanpa harus terus terjebak di dalamnya. Karena sesungguhnya hal yang berubah adalah cara kita melihatnya, bukan menghapus ingatan tersebut.

    Contohnya, pengalaman tidak menyenangkan di masa kecil tetap diingat sebagai bagian dari hidup. Tetapi pada fase berdamai ini, sudah tidak lagi dijadikan dasar untuk menilai setiap tindakan orangtua di masa sekarang. Dari situ, hubungan bisa berjalan dengan lebih ringan karena tidak terus membawa beban yang sama ke setiap interaksi.

    Berdamai dengan orangtua bukan soal membuat semuanya terasa sempurna, tapi tentang menemukan cara supaya hubungan tetap bisa dijalani tanpa terus menguras emosi. Prosesnya juga bisa berbeda untuk setiap orang. Kalau dipikir-pikir, dari semua hal yang perlu diterima saat berdamai dengan orangtua, bagian mana yang paling sulit untuk benar-benar kamu terima?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More