Upin dan Ipin (dok. Les' Copaque Production)
Jika diperhatikan lebih luas, arti keluarga dalam Upin & Ipin sebenarnya tidak berhenti di rumah Opah. Kampung Durian Runtuh menghadirkan lingkungan sosial yang diisi tetangga, guru, teman, dan orang dewasa lain yang ikut memengaruhi kehidupan anak-anak.
Upin dan Ipin memiliki teman seperti Mail, Ehsan, Fizi, Jarjit, Mei Mei, dan Susanti. Mereka juga berinteraksi dengan guru serta orang-orang dewasa di lingkungan sekitar. Karena itu, dunia mereka terasa seperti sebuah komunitas kecil tempat setiap orang saling mengenal dan membantu.
"Ketika sebuah lingkungan atau komunitas mendukung kesehatan dan perkembangan anak-anak usia dini, hal itu tidak hanya meningkatkan pengalaman masa kanak-kanak tetapi juga kesejahteraan fisik dan mental sepanjang hayat. Semua orangtua dan orang dewasa lainnya yang mengasuh anak-anak usia dini dapat mendorong perkembangan yang sehat melalui hubungan yang stabil, penuh kasih sayang, dan responsif," demikian laporan Finding the Balance: Transforming How We Think About the Body’s Response to Stress in Early Childhood Center on the Developing Child Harvard University.
Itulah yang membuat Kampung Durian Runtuh terasa seperti lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak. Upin dan Ipin tidak hanya belajar dari Opah dan Kak Ros, tetapi juga dari teman, guru, serta tetangga yang mereka temui. Pesannya sederhana: membesarkan anak bukan hanya tugas satu orang. Lingkungan yang penuh perhatian dapat ikut membentuk rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, dan ketahanan anak ketika menghadapi masalah.
Opah, Kak Ros, Upin, Ipin, dan Tok Dalang menghadirkan bentuk keluarga yang berbeda-beda, tetapi memiliki benang merah yang sama: hadir untuk satu sama lain. Pelajaran terbesar dari Kampung Durian Runtuh mungkin bukan tentang menjadi keluarga yang sempurna, melainkan tentang menjadi orang-orang yang mau hadir ketika satu sama lain membutuhkan.