Kenapa Orangtua Sebaiknya Tidak Terlalu Membanggakan Anak? Terbebani

Hampir semua orangtua bangga pada perkembangan anaknya. Anak bisa berbicara atau berjalan lebih cepat dari anak-anak seumurnya pun sudah bikin orangtua lega dan puas. Artinya, anak berkembang dengan baik bahkan ini kerap dikaitkan dengan tanda kecerdasan.
Apalagi saat anak mencapai prestasi tertentu. Seperti menjadi juara berbagai lomba. Orangtua tentu bangga bukan main. Pencapaian anak merupakan kombinasi antara kerja keras anak sendiri, bimbingan orangtua yang luar biasa, serta penggemblengan oleh guru atau pelatihnya.
Namun, kamu dan pasangan harus menjaga diri dari sikap berlebihan dalam membanggakan anak. Bangga adalah rasa dalam hati, sedangkan membanggakan anak sudah merupakan bentuk tindakan. Seperti orangtua terus memuji kehebatan anak di depan orang-orang. Kenapa sikap terlalu membanggakan anak justru buruk?
1. Jadi beban buat anak

Orangtua mungkin berpikir bahwa sikapnya yang sangat memuji bahkan memuja kehebatan anak pasti bikin ia bahagia. Padahal, ekspresi bangga orangtua yang berlebihan malah dapat terasa sebagai beban berat buat anak. Misal, anak dibanggakan karena menjadi juara 1 dalam perlombaan.
Diam-diam dia dapat takut kalau pada pertandingan berikutnya gagal meraih kemenangan. Apakah orangtua masih akan bangga padanya? Bagaimana jika ekspresi bangga hari ini kelak berubah menjadi kekecewaan?
Tentu anak tetap butuh melihat serta mendengar orangtua bangga akan pencapaiannya. Jangan sampai orang lain seperti guru dan teman-temannya saja bangga, tapi orangtua justru cuek. Namun, lakukan secara wajar saja dengan tidak terus-menerus memuji anak apalagi di hadapan banyak orang.
2. Jangan sampai anak menjadi sombong

Bibit kesombongan dalam diri anak sering kali tanpa sadar ditanam sendiri oleh orangtua. Salah satunya, dengan sikap berlebihan dalam membanggakan anak. Memang kelihatannya anak cuma diam mendengarmu serta pasangan terus menceritakan prestasinya pada siapa pun.
Anak juga gak bereaksi aneh-aneh meski dia sudah tahu kamu membuat status tentang pencapaiannya berulang-ulang. Namun, sesungguhnya pikirannya bekerja seperti spons yang menyerap dengan sangat cepat apa pun. Sifat pongah pun pelan-pelan terbentuk.
Anak merasa dirinya hebat sekali. Bahkan ia lebih hebat dari siapa pun. Apalagi teman-teman atau saudara-saudara sepupunya gak ada yang dibanggakan sampai seperti dirinya. Bila anak telanjur sombong akan sulit membuatnya kembali rendah hati.
3. Anak rendah hati, tapi tapi tetap kurang disukai teman dan orangtua mereka

Kalaupun kamu beruntung memiliki anak yang wataknya rendah hati, perilakumu serta pasangan yang terlampau membanggakannya bukannya tidak berdampak. Orangtua yang berlebihan membanggakan pencapaian anak, tapi ia yang gak disukai orang lain.
Baik teman-teman maupun orangtua mereka bisa berpandangan kurang baik pada anak. Anakmu dapat agak dijauhi dalam pergaulan akibat sikapmu yang terlampau mengistimewakannya. Anak perlu ditempatkan dalam kondisi biasa-biasa saja bukan karena kamu tidak menyayanginya.
Justru karena orangtua pasti ingin anak lebih diterima dalam pergaulan, perilakumu dan pasangan juga mesti dikontrol. Prestasi anak cukup terus dibicarakan di antara kalian. Sementara pembahasannya di depan orang lain apalagi teman anak serta orangtua mereka mesti lebih terkendali.
4. Anak menjadi kurang termotivasi belajar dan latihan lagi

Orangtua berpikir bahwa makin heboh membanggakan pencapaian anak, makin semangat ia dalam belajar atau berlatih. Beberapa anak mungkin saja menunjukkan reaksi seperti itu. Akan tetapi, banyak anak boleh jadi menjadi merasa terlalu cepat puas.
Sama sepertimu dan pasangan yang tampak telah amat puas dengan prestasinya. Tentu bukan berarti kalian perlu memperlihatkan sikap sebaliknya, yaitu gak puas terhadap hasil kerja keras anak. Itu akan mengecewakan dan makin mengendurkan semangatnya.
Akan tetapi, jangan pula lebai dalam membanggakan anak. Sebangga apa pun kalian sebenarnya, kendalikan cara mengekspresikannya. Batasi pujian dan pembicaraan tentang hal tersebut. Ingatkan anak bahwa ia tetap harus rajin belajar dan berlatih guna mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya.
5. Bahasa verbal bukan satu-satunya cara mengapresiasi prestasi anak

Sikap berlebihan dalam membanggakan anak kerap kali ditunjukkan dengan bahasa verbal. Baik melalui ucapan ke sana kemari maupun tulisan dalam status media sosial. Memang bahasa verbal paling gampang tersiar serta dipahami orang-orang.
Hanya saja, terlampau banyak mengekspresikan rasa bangga secara verbal cenderung kurang baik. Kesan pamer dan sombongnya lebih terasa. Supaya ekspresi rasa bangga orangtua diterima anak serta lingkungan dengan lebih baik, ungkapan-ungkapan nonverbal dapat ditambah.
Misal, begitu anak memenangkan lomba, peluk ia erat-erat. Atau, selagi anak menerima piala dan piagam penghargaan di atas panggung, orangtua menatapnya lekat-lekat seraya mengacungkan dua jempol tangan. Bahasa nonverbal memperhalus pengungkapan rasa bangga orangtua.
Sudah seharusnya semua orangtua bangga pada anak. Namun, cara menunjukkannya perlu tetap terukur. Bukan cuek, tapi juga tidak usah berlebihan dalam membanggakan anak sehebat apa pun dirinya.










![[QUIZ] Dari Sahabat Upin dan Ipin, Kami Tebak Kamu Orang Have, Had, atau Not Yet](https://image.idntimes.com/post/20260806/buzqhz3dr9ctth8ubbzis41l4_65153519-5b8e-4ccf-9b6f-f10813e87015.png)









