Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
8 Keseruan Kumpul Keluarga saat Lebaran, Sungkeman Malah Ngakak
ilustrasi sungkeman (pexels.com/SANDI MUJIB)
  • Artikel menggambarkan berbagai momen khas kumpul keluarga saat Lebaran, mulai dari kerja bakti sambil puasa hingga tidur berdesakan yang justru jadi kenangan lucu dan hangat.
  • Tradisi seperti sungkeman, antre kamar mandi sebelum salat Id, serta bagi-bagi salam tempel dengan permainan seru menambah kehebohan suasana Lebaran di rumah.
  • Momen foto dan video ucapan Idulfitri menjadi simbol kekompakan keluarga modern, sekaligus pengingat betapa berharganya kebersamaan dengan orang tua dan saudara saat hari raya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lebaran makin dekat. Kapan rencanamu hendak mudik? Gelombang mudik paling awal mungkin sekitar H-7 jika pekerjaan sudah bisa ditinggal atau perkuliahan telah diliburkan. Namun, untukmu yang masih harus beraktivitas di rantau baru bisa pulang kampung mepet Idulfitri.

Kapan pun dirimu mudik, pulang ke rumah orangtua tempatmu dilahirkan dan dibesarkan memang terasa sangat sentimental. Beda dengan kepulanganmu di waktu-waktu yang lain. Apalagi bertepatan dengan libur Lebaran, semua saudaramu juga pulang.

Sementara adik atau kakak yang tidak merantau pun antusias menunggu kepulanganmu. Di setiap momen kumpul keluarga begini, kamu pasti mengalami kejadian-kejadian seperti di bawah ini yang bikin kangen. Dari tahun ke tahun ceritanya mirip, tapi gak pernah terasa membosankan. Yuk, intip.

1. Masih puasa, tapi harus kerja bakti

ilustrasi sajian khas Lebaran (pexels.com/N Sopyan)

Untukmu yang sudah tiba di kampung halaman sejak sebelum malam takbiran pasti merasakan kerja bakti. Kamu dan saudara-saudara lainnya bahu-membahu sejak H-sekian untuk mempersiapkan rumah. Dari bersih-bersih setiap sudut rumah, belanja ini itu, hingga memasak besar di H-1 bahkan H-2.

Padahal, ketika itu dirimu masih berpuasa. Lemas sih, tapi semuanya tetap harus dikerjakan. Supaya rumah benar-benar siap menyambut banyak tamu. Bila rumah sampai berantakan atau sajian untuk tamu kurang, kalian juga yang malu.

2. Buka dan sahur dengan apa saja terasa nikmat

ilustrasi tahu goreng (pexels.com/Riki Risnandar)

Masih buatmu yang sudah mudik sejak beberapa hari sebelum Idulfitri. Kamu merasakan berbuka serta sahur bersama keluarga. Beda dengan di rantau, dirimu gak rewel saat makan bareng keluarga.

Rasanya hidangan apa pun yang disediakan ibu terasa lezat. Sekalipun menunya sangat sederhana. Beda dengan ketika kamu di rantau. Jajan ini itu di berbagai tempat pun kerap masih terasa kurang memuaskan.

3. Tidur di lantai berjejer seperti ikan asin yang dijemur

ilustrasi kumpul Lebaran (pexels.com/Ceng Ismail)

Soal tidur juga suatu saat nanti akan menjadi kenangan yang selalu dirindukan. Dahulu ketika kamu dan saudara-saudara masih lajang, jumlah kamar berikut tempat tidurnya cukup. Namun, selepas banyak dari kalian berkeluarga dan mudik bareng menjadi gak muat.

Seperti Lebaran tahun lalu, tikar-tikar digelar. Mungkin ada yang memakai kasur lipat atau cukup tikar dan bantal. Meski kalian di rumah masing-masing terbiasa tidur di springbed, tidur ala ikan asin yang dijemur begini tetap terasa menyenangkan. Bisa sambil bercerita. Tawa pun meledak setiap ada yang kentut atau mendengkur keras.

4. Antre kamar mandi jelang salat Id agak bikin panik

ilustrasi kumpul Lebaran (pexels.com/Majestic Project)

Hari H Lebaran, suasana di rumah sudah sibuk sejak pagi. Seisi rumah mesti segera bersiap-siap pergi menunaikan salat Id. Orang yang mandi paling pagi biasanya yang paling tua. Misalnya, kakek nenek atau ayah ibu.

Sementara anak muda sepertimu paling malas. Terlebih jika udara terasa dingin. Nanti jam 05.30 baru dirimu serta saudara-saudara panik. Kamar mandi terbatas sementara antrean masih panjang. Aksi memanggil-manggil dan menggedor pintu kamar mandi pun terjadi.

5. Sungkeman bukannya khidmat malah ngakak

ilustrasi ekspresi malu-malu (pexels.com/Dwi Woro)

Terutama untukmu yang mudik ke Jawa. Biasanya Lebaran dimanfaatkan buat sungkeman. Tidak hanya pada orangtua, tetapi sering kali juga ke setiap orang yang lebih tua darimu.

Sampai-sampai jika dirimu yang paling muda alias anak bungsu mesti bersimpuh pula di hadapan kakak-kakak. Asli sih, pasti ada rasa kamu gak terima. Seakan-akan dirimu yang punya paling banyak kesalahan.

Padahal, kakak-kakakmu yang suka iseng sejak dulu. Belum lagi ribetnya ketika kamu mesti meminta maaf dengan bahasa Jawa halus ke orangtua serta kakek nenek. Salah ucap sampai lupa total auto bikin suasana khidmat mendadak kocak. Gak bikin sontekan, sih.

6. Bagi-bagi oleh-oleh dan salam tempel diawali games dulu

ilustrasi kumpul Lebaran (pexels.com/Wahyu Nugroho)

Ini yang paling ditunggu-tunggu selepas salat Id dan sungkeman. Bagi-bagi oleh-oleh plus salam tempel. Mungkin kesannya memang semua orang menjadi materialistis. Namun, selama orang yang kasih oleh-oleh dan salam tempel ikhlas, apa salahnya?

Lebih seru lagi karena keduanya tidak langsung diberikan begitu saja. Keluarga yang kreatif bikin permainan segala biar setiap orang menunjukkan effort dulu. Games-nya biasanya tak susah, tapi siap-siap saja kamu dikerjain. Urat malumu mesti diputus dulu.

7. Ada momen wisata keluarga lengkap yang langka

ilustrasi wisata keluarga (pexels.com/irwan zahuri)

Hari pertama Idulfitri umumnya masih difokuskan buat acara keluarga di rumah serta bersilaturahmi dengan tetangga. Namun, mulai H+2 sudah ada agenda-agenda lain. Dari berkunjung ke rumah saudara yang agak jauh sampai berwisata.

Sama seperti wisatawan lain, kalian datang dengan rombongan yang cukup besar. Bila biasanya kamu piknik cuma dengan pasangan dan anak, sekarang komplet. Ada orangtua atau mertua, saudara kandung dan ipar, para keponakan, bahkan kakek nenek apabila masih hidup.

8. Heboh plus ribet sekali bikin video atau foto ucapan selamat Idulfitri

ilustrasi berfoto (pexels.com/Hera hendrayana)

Zaman sekarang gak afdal apabila momen berharga tidak diabadikan dalam foto serta video lalu diunggah di medsos. Terlebih momen Idulfitri serta kumpul keluarga lengkap. Sampai pakaian buat bikin konten disiapkan sedemikian rupa supaya terlihat kompak.

Ada pula penata gaya serta pengatur kalimat yang hendak diucapkan. Contohnya, kalian sekeluarga mengucapkan selamat Idulfitri serta mohon maaf lahir dan batin. Masalahnya, pengambilan gambar dan video bisa harus diulang beberapa kali. Ada saja anggota keluarga yang mengacaukan dengan kesalahan gerakan atau ucapan.

Kumpul keluarga ketika Idulfitri pantas selalu dirindukan. Khususnya saat anggota keluarga masih lengkap. Utamanya, ayah dan ibu. Momen begini pasti seru sekali. Rasanya kamu ingin Lebaran setiap hari. Syukuri kondisi keluargamu yang rukun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team