Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Melatih Ketangguhan Anak seperti Kartun Avatar the Legend of Aang
Avatar Aang (dok. Paramount Pictures/Avatar Aang: The Last Airbender)
  • Orangtua dapat melatih ketangguhan anak dengan menumbuhkan rasa penasaran dan kerangka menghadapi tantangan: berusaha, menerima umpan balik, meningkatkan kemampuan, mencoba lagi, lalu merayakan keberhasilan.
  • Anak perlu belajar mengelola emosi dengan menghentikan pola pikir skenario terburuk: menuliskan kekhawatiran, membayangkan kemungkinan terbaik, dan menilai hasil paling realistis.
  • Keyakinan positif dan motivasi diri perlu ditanamkan agar anak merasa bertanggung jawab atas pikiran, perasaan, serta perilakunya, berani mencoba tantangan, dan tetap percaya diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kartun Avatar the Legend of Aang menampilkan tokoh Aang, penerus Avatar ketika Kerajaan Api menyerang. Petualangan Aang dibantu kedua temeannya, Katara dan Sokka menunjukkan sikap pahlawan dengan kegigihan besar. Aang sebagai avatar yang dipercaya dapat melawan penjajahan Kerajaan Api menunjukkan karakter seorang pemimpin.

Apa saja sikap seorang pemimpin dari karakter Aang yang bisa dicontoh dan diterapkan ke anak-anak sejak dini? Simak penjelasan psikologis bagaimana menumbuhkan ketangguhan bagi anak-anak untuk para orangtua.

1. Mengidentifikasi kekuatannya

Tagah dan Avatar Aang

Penting bagi anak-anak untuk memiliki rasa penasaran yang besar. Dalam laman Forbes disebutkan, rasa penasaran dengan pemikiran, emosi, dan reaksi mereka dapat membuat mereka melihat tantangan dari berbagai perspektif serta membangun kesuksesan diri.

Sebagai orangtua, sebaiknya ajarkan anak untuk memiliki kerangka kerja yang teratur agar terbiasa menghadapi suatu masalah. Framework yang diterangkan oleh Paula Davis Laack, CEO dari Stres dan Resilience Institute dalam Forbes, adalah sebagai berikut:

  1. Menerima suatu tujuan atau tantangan

  2. Berusaha

  3. Mendapatkan feedback atas upaya tersebut

  4. Meningkatkan keterampilan atau kemampuan itu, bisa juga pivot atau pindah ke rencana lain

  5. Teruslah mencoba

  6. Berhasil dan rayakan kesuksesan

Pola pikir semacam ini banyak diterapkan oleh para ilmuwan sehingga mereka memiliki kemampuan yang baik dalam menciptakan atau menemukan sesuatu. Pola ini juga sangat efektif untuk menghadapi situasi yang membuat anak stres.

2. Mengatur pola pikir dan emosi saat menghadapi masalah

cuplikan film Avatar Aang: The Last Airbender (dok. Paramount+)

Paula menyarankan anak-anak agar diajarkan untuk meminimalkan pemikiran soal skenario terburuk. Worst-case scenario thinking biasanya disebut catastrophizing, kebiasaan ini menghambat produktivitas dan tindakan. Dengan terus memutar worst-case scenario, otak akan mengembangkan ketakutan berlebih untuk mencapai tugas dan tujuan. Ada tiga langkah yang disarankan oleh Paula untuk menghentikan worst-case scenario:

  1. Tulis skenario buruk yang dibayangkan, termasuk kemungkinan negatif yang muncul di pikiran untuk menyadari kekhawatiran yang tidak realistis

  2. Bayangkan skenario terbaik mungkin terjadi. Cobalah untuk membayangkan situasi yang berjalan sesuai harapan untuk membantu membangun emosi positif dan menyeimbangkan pikiran buruk yang mendominasi

  3. Temukan kemungkinan yang paling realistis dan pikirkan hasil yang paling mungkin terjadi, termasuk konsekuensi yang perlu dihadapi agar bisa merespons kenyataan, bukan sekadar ketakutan di kepala.

Menerapkan langkah-langkah ini dapat membangun rasa percaya diri dan kekuatan dalam diri anak. Ia akan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan konsekuensi yang akan diterima. Tentunya, pola pikir ini akan sangat penting untuk seorang pemimpin yang memiliki ketangguhan.

3. Menanamkan keyakinan positif pada anak-anak

Avatar Aang di Ba Sing Se

Keyakinan dan motivasi diri adalah aspek yang penting dalam membangun ketangguhan mental bagi anak-anak. Psikoterapis Amy Morin dalam CNBC menerangkan bahwa orangtua perlu membantu anak-anak lebih berdaya. Hal ini dapat dilakukan dengan menanamkan keyakinan dalam diri mereka.

"Anak-anak bertanggung jawab atas bagaimana mereka berpikir, merasakan, dan berperilaku, terlepas dari bagaimana orang-orang di sekitar mereka melakukannya," ujar Morin kepada CNBC.

Tanamkan pada diri anak-anak untuk selalu mencoba menjadi yang terbaik, bertindak percaya diri, dan katakan "Aku cukup baik". Bagi anak-anak, sulit untuk mencoba memulai tantangan baru. Akan tetapi, orangtua dapat menunjukkan bahwa menerima tantangan yang sulit bisa mengajarkan mereka banyak hal, tak selalu tentang hasil yang akan didapatkan. Mencoba sesuatu bisa menunjukkan keberanian untuk menghadapi tantangan sulit, seperti mengetahui bagaimana mereka tampil di bawah tekanan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article