Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menghapus Anggapan Adik adalah Beban Kakak, Perlu Peran Ortu
ilustrasi kakak adik (pexels.com/Diwakar Jangir)
  • Orangtua perlu memegang penuh tanggung jawab pengasuhan agar kakak tidak dijadikan pengawas atau pengganti orangtua bagi adiknya.
  • Kemandirian harus diajarkan kepada semua anak, sementara kakak dan adik dibimbing memahami batasan, kebutuhan, serta kesibukan masing-masing secara objektif.
  • Kesiapan finansial, ketegasan menghadapi komentar keliru, dan penanaman kasih sayang penting agar hak kakak terjaga tanpa membuat adik dianggap beban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan antara kakak dan adik bisa penuh drama sejak anak-anak sampai masa dewasa apabila pengasuhan salah. Kerap kali anak yang lebih tua merasa terbebani oleh keberadaan adiknya. Adik satu orang saja sudah terasa selalu merepotkan, apalagi lebih dari itu.

Perasaan ini dapat timbul akibat kurangnya kehati-hatian ortu (orangtua) ketika membesarkan anak. Di samping masih kuatnya anggapan di masyarakat bahwa kakak harus siap menjadi pengganti orangtua untuk adiknya. Mereka melupakan fakta bahwa baik kakak maupun adik sama-sama membutuhkan peran kedua orangtua.

Kalau adik sudah dipandang tak lebih dari beban di mata kakaknya, semua pihak merasa tidak nyaman. Kakak jelas risi terhadap keberadaan adik di sekitarnya. Adik merasa tidak disayangi oleh kakak kandungnya. Orangtua pun akan sering menyaksikan mereka bertengkar. Demi menghapus anggapan adik adalah beban kakak, berikut delapan hal yang harus dilakukan oleh orangtua.

1. Jangan membebankan tugas pengawasan adik pada kakak

ilustrasi kakak adik (pexels.com/Polesie Toys)

Berapapun jumlah anak yang lahir dalam sebuah perkawinan, sepasang suami istri harus paham betul bahwa pengasuhan 100 persen merupakan tugas mereka. Orangtua tidak boleh menjadikan anak yang lebih tua sebagai wakilnya untuk selalu mengawasi adik. Tugas mengawasi adik membuat kakak tak pernah leluasa dengan aktivitasnya sendiri.

2. Adik diajarkan untuk mandiri seperti kakak

ilustrasi kakak adik (pexels.com/Andrius La Rotta)

Latihan kemandirian wajib diberlakukan pada semua anak. Bukan cuma kakak yang harus bisa apa-apa sendiri. Anak bungsu pun kudu mampu mandiri sesuai dengan usianya. Kalau anak yang lahir kemudian lebih dimanjakan dan apa-apa biasa dibantu oleh orang lain, tentu kakaknya ikut repot.

3. Kakak juga diajari objektif soal seberapa sering adik merepotkannya

ilustrasi kakak adik (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Terkadang ego seorang kakak membuatnya mudah menuduh adik selalu merepotkannya. Padahal, itu belum tentu benar. Terlebih ketika kakak sebenarnya merasa iri atas lahirnya adik serta ekspresi kasih sayang orangtua terhadapnya.

Kakak yang semula menjadi satu-satunya pusat perhatian ayah dan ibu kini seakan-akan punya saingan. Ia perlu diajari untuk tetap bersikap objektif terkait adiknya. Bila dia merasa adik merepotkannya, ia harus bisa membuktikan itu. Bukan sekadar kakak risi oleh keberadaan adik di sekitarnya, meski adik tak melakukan apa-apa.

4. Orangtua siap finansial membesarkan semua anak

ilustrasi keluarga (pexels.com/RDNE Stock project)

Kesiapan orang tua secara keuangan juga menjadi sangat penting untuk memastikan kakak tetap memperoleh hak-haknya sebagai anak serta individu bebas. Apabila orangtua lemah secara finansial, pasti kelak biaya hidup serta sekolah atau kuliah adik bakal dibebankan pada kakaknya. Padahal, kakak juga punya kebutuhan serta tujuan keuangannya sendiri.

5. Tegas melawan komentar orang yang kurang tepat

ilustrasi kakak adik (pexels.com/Vika Glitter)

Misalnya, ketika ada orang menasihati kakak untuk selalu mengalah pada adiknya. Kamu atau pasangan yang mendengarnya harus langsung meluruskan duduk perkaranya terlebih dahulu. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi?

Bila kakak tidak bersalah, melainkan adik, maka adik yang harus menanggung konsekuensinya. Komentar orang-orang di sekitar yang tidak tepat tentang hubungan kakak dan adik dapat menjadi racun yang melukai perasaan kakak. Ia bisa tertekan bahkan membenci adiknya sampai dewasa.

6. Memberi tahu adik bahwa kakak juga bisa capek, punya masalah, atau lagi sibuk

ilustrasi kakak adik (pexels.com/rehman yousaf)

Adik dengan kepolosannya kadang tak tahu tentang semua hal di atas. Usianya yang lebih muda membuat sifat egosentrisnya masih sangat tinggi. Segala hal cuma diukur dari keinginannya sendiri. Misalnya, adik yang belum bersekolah sudah puas tidur lagi dari jam 10.00 sampai waktu makan siang.

Kakaknya sepulang sekolah hanya ingin makan siang lalu tidur. Namun, adik ingin ditemani bermain. Orangtua perlu terus memberi tahu adik sampai paham bahwa kakaknya capek baru pulang sekolah. Ia butuh tidur siang agar nanti malam dapat belajar serta mengerjakan PR. Adik bisa bermain sendiri atau bersama orangtua.

7. Tidak menjadikan keluarga lain sebagai acuan

ilustrasi keluarga (pexels.com/ryan art)

Lain keluarga lain pula aturan dan cara dalam mendidik anak. Biarkan saja, apabila di banyak keluarga di sekitarmu, kakak ditekankan untuk sangat melindungi adik. Akan tetapi, di keluargamu tidak harus seperti itu. Sikap tolong-menolong tetap dilatih, tetapi kakak tidak perlu selalu repot untuk adiknya.

8. Menekankan kasih sayang

ilustrasi kakak adik (pexels.com/Vivaan Rupani)

Kasih sayang bukan sekadar fondasi dalam sebuah keluarga. Itu sekaligus dinding, atap, dan tiang atau satu bangunan utuh yang akan memberikan rasa aman bagi setiap anggota keluarga. Bila nilai-nilai kasih sayang dalam keluarga lemah, bentuk tolong-menolong yang paling sederhana antarsaudara pun bakal dianggap sebagai beban bagi kakak maupun adik.

Setelah memahami pentingnya menghapus anggapan adik adalah beban kakak, pahami bahwa mereka berdua merupakan tanggung jawab penuh orangtua. Setelah kakak dewasa duluan pun, ia tetap berhak memiliki kehidupannya sendiri. Selama orangtua masih ada dan sehat jasmani serta rohani, jangan sampai keliru mengalihkan tugasnya ke anak tertua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article