Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menjadi Anak Kaca: Dampak Psikologis Saudara Kandung Anak dengan Autisme

Menjadi Anak Kaca: Dampak Psikologis Saudara Kandung Anak dengan Autisme
ilustrasi dua bersaudara (pixabay.com/stocksnap-894430)
Intinya Sih
  • Fenomena Glass Child Syndrome menggambarkan anak yang merasa ‘transparan’ karena perhatian orang tua lebih terfokus pada saudara kandung dengan autisme, membuat kebutuhan emosionalnya sering terabaikan.
  • Anak kaca cenderung menekan emosi dan berusaha menjadi sempurna agar tetap mendapat validasi dari orang tua, meski hal itu menjadi beban psikologis tersendiri bagi mereka.
  • Dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, seperti kesulitan menetapkan batasan dan kecenderungan menyenangkan orang lain; karenanya, orang tua perlu memberi waktu khusus dan pengakuan emosional bagi setiap anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, perhatian orang tua secara alami akan tercurah pada anak yang membutuhkan bantuan ekstra. Namun, hal ini sering kali menyisakan ruang hampa bagi saudara kandungnya yang lain. Fenomena ini dikenal dengan istilah Glass Child Syndrome.

Bukan berarti orang tua tidak sayang, namun keberadaan saudara kandung ini sering kali menjadi "transparan" layaknya kaca.

1. Memahami apa itu fenomena glass child syndrome

ilustrasi keluarga (pixabay.com/dayronv-1243797)
ilustrasi keluarga (pixabay.com/dayronv-1243797)

Melansir Psychology Today, istilah glass child bukan berarti sang anak mudah pecah, melainkan orang tua cenderung "melihat menembus" mereka untuk fokus pada saudara yang autis.

Anak-anak ini sering kali merasa bahwa kebutuhan emosional mereka adalah prioritas kedua. Mereka belajar untuk memendam masalah sendiri karena tidak ingin menambah beban orang tua yang sudah tampak sangat lelah mengurus saudaranya yang berkebutuhan khusus.

2. Tekanan untuk menjadi anak yang sempurna dan tidak bermasalah

ilustrasi keluarga (pixabay.com/chillla70-22422106)
ilustrasi keluarga (pixabay.com/chillla70-22422106)

Melansir Healthline, glass children sering kali tumbuh dengan ekspektasi diri yang sangat tinggi. Karena saudara mereka sudah dianggap sebagai "masalah" atau "tantangan" dalam keluarga, mereka merasa harus menjadi penyeimbang dengan menjadi anak yang sesempurna mungkin.

Mereka jarang menuntut, berprestasi di sekolah, dan selalu berusaha tidak membuat masalah. Perilaku "anak teladan" ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri agar mereka tetap mendapatkan validasi dan kasih sayang dari orang tua yang sangat sibuk.

3. Munculnya perasaan bersalah dan tanggung jawab berlebihan

ilustrasi keluarga (pixabay.com/surprising_media-11873433)
ilustrasi keluarga (pixabay.com/surprising_media-11873433)

Melansir Child Mind Institute, anak-anak ini sering kali mengalami konflik batin yang rumit. Di satu sisi, mereka mencintai saudara mereka, namun di sisi lain, ada rasa cemburu atau benci karena perhatian orang tua yang terbagi tidak rata.

Rasa cemburu ini kemudian diikuti oleh rasa bersalah yang besar. Mereka merasa jahat karena memiliki perasaan negatif terhadap saudara mereka yang kesulitan. Akibatnya, mereka sering kali mengambil peran sebagai "orang tua ketiga" dan memikul tanggung jawab domestik yang sebenarnya belum sesuai dengan usia mereka.

4. Dampak emosional jangka panjang hingga dewasa

ilustrasi dua bersaudara (pixabay.com/cuncon-3452518)
ilustrasi dua bersaudara (pixabay.com/cuncon-3452518)

Melansir Sibs (UK), sebuah organisasi pendukung saudara kandung penyandang disabilitas, dampak dari menjadi glass child bisa terbawa hingga dewasa. Mereka sering tumbuh menjadi individu yang sulit menetapkan batasan (boundaries) dan selalu merasa harus menyenangkan orang lain (people pleaser).

Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk mengenali kebutuhan emosional diri sendiri karena terbiasa mendahulukan orang lain sejak kecil. Jika tidak ditangani, hal ini bisa memicu perasaan kesepian yang mendalam meskipun mereka berada di tengah keluarga.

5. Cara orang tua menyeimbangkan perhatian dalam keluarga

ilustrasi keluarga (pixabay.com/chillla70-22422106)
ilustrasi keluarga (pixabay.com/chillla70-22422106)

Melansir Cleveland Clinic, sangat penting bagi orang tua untuk menyediakan "waktu khusus" yang eksklusif bagi si anak kaca, meskipun hanya 15 menit sehari tanpa gangguan.

Mengakui bahwa perasaan mereka valid, termasuk rasa marah atau lelah mereka, adalah langkah awal yang besar. Keluarga harus disadarkan bahwa setiap anak dalam rumah tersebut berhak untuk "dilihat", didengar, dan mendapatkan kasih sayang yang utuh tanpa harus merasa perlu menjadi sempurna.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us